Resesi Ekonomi, Dampak dan Tantangan yang Dihadapi Jepang, Inggris, dan Jerman

Fakta Ekonomi Jepang hingga Inggris Anjlok.
Fakta Ekonomi Jepang hingga Inggris Anjlok.

Jakarta – Berita terbaru menyebutkan bahwa Jepang, Inggris, hingga Jerman mengalami resesi pada awal tahun ini, negara-negara besar ini sebelumnya dikenal dengan ekonomi yang kuat.

Dikutip dari rangkuman, Senin (19/2/2024), berikut adalah 4 fakta terkait resesi yang terjadi di Jepang hingga Inggris:

  1. Jepang Turun dari Peringkat 3 Negara dengan Ekonomi Terkuat

Kontraksi ekonomi Jepang selama dua kuartal berturut-turut menyebabkan negara tersebut turun dari peringkat tertinggi sebagai salah satu negara dengan ekonomi terkuat. Meski demikian, resesi yang terjadi masih dianggap sebagai resesi teknis.

Pada bulan Oktober, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa Jerman berpotensi menggantikan posisi Jepang sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia. Namun, perubahan peringkat ini akan diumumkan oleh IMF setelah kedua negara mempublikasikan versi final angka pertumbuhan ekonomi mereka.

  1. Pertumbuhan Ekonomi Terlemah di Inggris

Pertumbuhan ekonomi Inggris dalam setahun merupakan yang terlemah sejak tahun 2009, saat negara itu dan negara-negara lain dilanda krisis keuangan global. Meskipun demikian, masyarakat Inggris masih mengharapkan pemerintah untuk menangani masalah tersebut.

“Tidak masalah apakah ini resesi teknis atau bukan. Tidak ada kejutan di sini dan saya tidak senang mengatakan bahwa kita berada di dalamnya. Kita memiliki ekonomi dengan pertumbuhan yang rendah atau bahkan tidak ada pertumbuhan,” kata Ketua Asda, Lord Rose.

  1. Produk Domestik Bruto (PDB) Jepang dan Inggris
Baca Juga  Inggris Bersiap Tempur Melawan Hamas dengan Drone Pengintai di Gaza

PDB Inggris mengalami kontraksi sebesar 0,3% pada kuartal IV-2023. Sementara itu, ekonomi Inggris juga turun 0,1% pada kuartal III-2023.

Pemerintah Inggris menggunakan pertumbuhan dan penurunan PDB sebagai indikator kinerja pemerintahannya. Hal ini akan menjadi bukti bagaimana pemerintah Inggris mengelola perekonomian. Jika PDB Inggris terus meningkat, maka masyarakat akan membayar lebih banyak pajak karena mereka mendapatkan penghasilan yang lebih besar dan menghabiskan uangnya lebih banyak, yang akan memberikan lebih banyak dana bagi pemerintah untuk digunakan pada layanan publik seperti sekolah, polisi, dan rumah sakit.

Pertumbuhan ekonomi Jepang mengalami kontraksi sebesar 0,4% pada kuartal IV-2023. Ini lebih buruk dari perkiraan sebelumnya, di mana ekonomi Jepang sebelumnya menyusut sebesar 3,3%.

Data PDB terbaru Jepang menunjukkan bahwa bank sentral mungkin akan menunda keputusan untuk menaikkan suku bunga karena adanya resesi.

  1. Penyebab Resesi di Jepang dan Inggris

Resesi di Jepang disebabkan oleh pelemahan yen terhadap dolar. Wakil kepala IMF Gita Gopinath mengatakan bahwa peringkat Jepang berpotensi tergelincir karena yen melemah sekitar 9% terhadap dolar AS pada tahun lalu.

Sementara itu, di Inggris, perkiraan keuangan publik telah memburuk dalam beberapa minggu terakhir karena biaya bunga pinjaman pemerintah Inggris meningkat. Kantor Statistik Nasional (ONS) Inggris menunjukkan bahwa selama tiga bulan terakhir, terjadi perlambatan di semua sektor utama yang diukur untuk menentukan kesehatan perekonomian, termasuk konstruksi dan manufaktur.

Baca Juga  Michail Antonio: Messi Tak Pantas Menangi Ballon d'Or 2023, Haaland Lebih Layak

Hal tersebut lebih buruk dari penurunan 0,1% yang diperkirakan oleh pasar keuangan dan ekonomi.

  1. Ekonomi Jerman juga Mengalami Ancaman

Kamar Dagang dan Industri Jerman (DIHK) memperkirakan penurunan output ekonomi Jerman sebesar 0,5% untuk tahun 2024. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi Jerman terancam semakin terperosok ke dalam resesi.

Pada tahun lalu, Produk Domestik Bruto (PDB) Jerman turun sebesar 0,3%. Sejak krisis struktural di awal tahun 2000-an, ini merupakan kali kedua dalam sejarah pasca-perang output ekonomi Jerman turun dalam dua tahun berturut-turut.

“Ini menjadi sinyal peringatan yang jelas bahwa Jerman dan Eropa harus segera menanggapi masalah ini secara serius. Masalah struktural terus membebani perekonomian,” kata Direktur Pelaksana DIHK Martin Wansleben.(BY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *