Maju ke DPR-RI, Bacaleg PDIP Ini Berjanji akan Perjuangkan Pupuk untuk Petani

Aswandi, Bacaleg DPR-RI dari Dapil II Sumbar. 

Pekanbaru, fajarharapan.id – H. Aswandi SE, bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI di ajang pemilihan umum (Pemilu) 2024 mendatang. Ia mengaku akan memperjuangkan pupuk bagi kepentingan petani bila kelak dipercaya menjadi wakil rakyat di tingkat pusat.

“Sebagai anggota masyarakat yang banyak bergelut di pedesaan dan di lingkungan masyarakat tani, saya tahu persis bagaimana tidak mudahnya bagi petani untuk mendapatkan pupuk dengan harga terjangkau buat kebutuhan lahan pertaniannya,” kata Aswandi kepada fajarharapan.id di Pekanbaru, Selasa (7/3).

Menurut Aswandi, sudahlah pupuk susah didapat, harga yang harus ditebus juga tinggi. Sementara di bagian lain, melakukan pemupukan terhadap lahan pertanian sebagai sebuah keniscayaan kalau ingin tanaman yang dibudidayakan tumbuh dengan baik, dan hasilnya seperti yang diharapkan.

Baca Juga  Media Vietnam Sindir Shin Tae-yong Gara-Gara PSSI Tunjuk Indra Sjafri sebagai Pelatih Timnas Indonesia U-23

Aswandi yang akan maju bacaleg dengan menumpangi PDI Perjuangan mengatakan, mayoritas masyarakat Sumbar di kawasan Dapil II menggantungkan sumber ekonominya dari sektor pertanian dengan sejumlah sub-sektornya seperti pertanian tanaman pangan, perkebunan dan perikanan.

“Salah satu persoalan yang sering dihadapi oleh petani adalah masalah pupuk,” kata Aswandi. “Keputusan soal kuota pupuk itu ‘kan ada di Kementerian Pertanian (Kementan), termasuk juga bibit,” sebutnya.

Menurut Aswandi, karena fungsi anggota DPR selain menyusun undang-undang (UU), juga menyetujui anggaran yang diajukan oleh pihak eksekutif, termasuk fungsi pengawasan; maka memiliki kompetensi untuk mengalokasikan kuota pupuk yang cukup bagi masyarakat dengan harga terjangkau.

Baca Juga  PNS Nekat Buka Bersama Bakal Dihukum, Menpan RB: Fokus Tingkatkan Pelayanan Publik

Terjadinya persoalan di seputar pupuk, baik tentang kelangkaan atau harga yang mahal, Aswandi menengarai karena lemahnya pengawasan. “Khusus di Kabupaten Pasaman, pengawasan terhadap distribusi pupuk sangat lemah, termasuk pupuk bersubsidi,” ungkapnya.

“Ada yang bilang pupuk menjadi mahal dan langka bersebab alokasi dana subsidi yang kurang dari pemerintah. Setelah saya cek, ternyata itu tidak terjadi,” bebernya.

Karena pengawasan yang lemah, sebutnya, bukan tidak mungkin ada pihak-pihak tertentu yang bermain, yang dimaksudkan utuk mengeruk keuntungan pribadi, yang berimplikasi terhadap mahalnya harga pupuk dan terjadinya kelangkaan di pasaran.

“Sisi-sisi seperti ini yang perlu lebih ditingkatkan lagi di masa mendatang kalau tak ingin terjadi kasus kelangkaan dan harga pupuk yang mahal,” tandasnya. (spa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *