Notification

×

Adsense atas

Adsen

Muzli Sebut Menggenjot Pertanian sebagai Jawaban atas Keterbatasan Potensi SDA Pasaman

Selasa, 03 Januari 2023 | 16:55 WIB Last Updated 2023-01-03T12:33:05Z

Muzli M.Nur, bersama Wakil Gubernur Sumbar dan lainnya.


Lubuk Sikaping, fajarharapan.id - Kabupaten Pasaman, dibandingkan dengan sejumlah kabupaten lainnya yang ada di Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), dinilai memiliki banyak keterbatasan. Termasuk keterbatasan di segi potensi sumber daya alam (SDA).


"Kabupaten Pasaman bisa dikategorikan sebagai salah satu kabupaten miskin dibandingkan dengan sejumlah kabupaten lainnya di Sumbar," kata Muzli M. Nur anggota DPRD Sumbar dari Daerah Pemilihan Pasaman dan Pasaman Barat. Muzli saat ini sedang menjalani periode ketiga masa pengabdiannya di lembaga legislatif tingkat provinsi itu.


"Coba tunjukan mana potensi SDA Pasaman yang bisa digali atau dikomersialkan dengan melibatkan para pemodal?" tanya politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu di Lubuk Sikaping, ibukota Kabupaten Pasaman, Selasa (3/1/2023). "Tidak ada," ungkap Muzli, menjawab sendiri pertanyaannya.


Ia menyebut contoh usaha perkebunan kelapa sawit skala besar dengan melibatkan investor sebagai pemodal. Kalau pun ada keinginan pemerintah daerah dan masyarakat untuk itu, menurut Muzli, yang kemudian menjadi kendala adalah daerah itu nyaris tidak memiliki hamparan lahan yang luas untuk mendukung kegiatan itu. "Mau ditanam di mana kelapa sawit dengan luasan lahan puluhan ribu hektar?" katanya, Selasa (3/1/2023).


"Apa kata kuncinya?" tanya Muzli lagi. "Tingkatkan perekonomian masyarakat dengan memanfaatkan secara maksimal semua potensi dan sumber daya yang ada," katanya. Dalam pandangan Muzli, potensi dan sumber daya mayoritas masyarakat Pasaman adalah di sektor pertanian dalam arti luas, yang mencakup pertanian tanaman pangan, perikanan, dan perkebunan.


Agar sektor pertanian bisa memberi nilai tambah berarti bagi perekonomian masyarakat, menurut Muzli, diharapkan semua pemangku kepentingan memberi perhatian lebih sehingga usaha tani yang dilakukan oleh masyarakat sudah sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.


Muzli sendiri mengaku sudah sejak lama melakukan itu, terhitung sejak periode pertama duduk di DPRD Sumbar. "Hampir setiap tahun saya memberikan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada masyarakat," katanya. Bahkan Muzli mengklaim, sejak duduk di DPRD Sumbar sampai sekarang, tercatat alsintan yang diberikan ke petani setempat nilainya sudah mencapai Rp45 miliar dan termasuk dengan pembangunan infrastruktur.


"Hampir setiap tahun pokir saya sebagai anggota DPRD Sumbar saya alokasikan untuk pengadaan alsintan, yang kemudian dibagikan kepada para petani,"bebernya. Dengan dukungan alsintan, menurut Muzli, diharapkan para petani sudah menerapkan sistem mekanisasi dalam mengelola lahan pertanian. "Banyak nilai tambah yang bisa dipetik petani kalau pola pertaniannya sudah serba mekanis," ugkapnya.


Muzli juga menilai pengadaan infrastruktur pertanian juga penting sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, terutama jalan usaha tani ke sentra-sentra pertanian masyarakat. "Dengan infrastruktur pertanian yang memadai, memungkinkan petani menjual hasil taninya dengan harga yang layak," katanya.


"Bagaimana mungkin kita berkeinginan untuk meningkatkan kesejahteraan petani kalau tidak didukung infrastruktur pertanian yang memadai?" tanyanya. "Masalahnya, ketika hasil pertanian dijual ke pasaran mesti dihadapkan dengan biaya transportasi yang tinggi," tutupnya. (spa)


ADSEN KIRI KANAN