Notification

×

Adsense atas

Adsense

Lima Jurus Jitu Sukses Mengelola Sekolah

Sabtu, 28 Januari 2023 | 07:31 WIB Last Updated 2023-02-01T14:56:27Z

Oleh : Alfian Tarmizi, M.Pd
Kepala SDN 17 Ulakan Tapakis
Padang Pariaman


“Ketika pimpinan masih duduk manis di zona nyaman (tidak mau melakukan dan menerima perubahan), maka jangan salahkan bawahan, bila tidak lagi memberi penghormatan” - Annoto Kyoto, 2022.


Memimpin sebuah sekolah, boleh dibilang susah-susah gampang. Enaknya, jadi pimpinan ketika kebijakan yang diambil sesuai dan searah serta seirama dengan visi dan misi yang telah ditetapkan.


Bila keputusan yang diambil tepat dan berdaya guna, maka rasa percaya diri pimpinan bertambah dan bersemangat. Kepercayaan dan suport bawahan bergairah, juga dukungan masyarakatpun ikut mengalir dan meningkat pula. 


Namun, sebaliknya bila kebijakan yang diambil meleset, tidak jarang pimpinan/kepala sekolah jadi sasaran. Sehingga muara kesalahan, bertumpu pada pimpinan. Nama dan kredibilitas seorang kepala sekolah, jadi konsumsi perbincangan anak buah. 


Terus, gibah mulai merambati. Rasa kekecewaan, dan mosi tidak percayapun dimunculkan dengan berbagai cara. Bahkan, fitnahpun telah menjadi sarapan sesama mereka. Kian parah jadinya ... ?


So, tidak jarang seorang pimpinan di sebuah instansi yang merasa kebingungan, berjuang sendiri. Sehingga kehilangan semangat juang, missing komunikasi, lose kontrol, kurang gairah dalam memimpin.


Imbasnya, kemungkinan tidak mendapat dukungan dan kepercayaan penuh dari bawahan. Atmosfir kerjapun mulai tidak sehat. Setiap tindakan yang diambil kepala sekolah, sering diartikan keliru. Maju kena mundurpun kena. Serba salah. Akhirnya, mencari-cari kesalahan pimpinan. Ujung-ujungnya menjadi dilema pada institusi tersebut.


Agaknya, ilustrasi diatas mungkin sering dijumpai oleh banyak orang. Terkadang, teori yang dipelajari sulit untuk direalitakan di lapangan. Banyak pergeseran nilai yang terjadi. Benturan dan gesekan sering timbul. Disinilah, dibutuhkan kepiawaian dalam memimpin. Profesionalitas seseorang diuji. Kebijaksanaan dan kharismatik seorang pemimpinpun, sangat dipertanyakan.


Untuk menjawabnya, penulis mencoba dan ingin mengajak kita semua, kiranya bisa menyimak dan memahami kunci sukses dalam memimpin sebuah sekolah. 

Setidaknya, ada beberapa istilah penting yang perlu kita pahami. Ungkapan kata ini, mungkin tidak asing pada telinga kita selama ini. Istilah ini, juga sering digunakan sesorang dalam memimpin sebuah instansi atau organisasi perangkat daerah (OPD), sekolah, perusahaan, organisasi massa dan profesi. 


Istilah tersebut diantaranya; Training, Coaching, Konseling, Mentoring, Fasilitasi, Presenting dan konsulting.


Dalam sesi kali ini, kita akan membahas ada 5 (lima) istilah diatas yang menurut hemat penulis, sangat urgen dan menunjang performa seorang pimpinan dalam bekerja.


Pertama, seorang pimpinan harus bisa menjadi mentor bagi bawahannya. Mentoring dilakukan oleh orang yang lebih profesional, ahli, cukup ilmu dan pengalaman di bidang tertentu untuk membimbing seseorang yang kualitasnya berada di bawah mentor.


Sebagai contoh, seorang kepsek mengajari seorang guru yang dianggap punya keunggulan atau skill yang lebih dari yang lain. Kegiatan mentoring berjalan dengan melakukan bimbingan khusus secara kontiniu. Ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan mentor kepada mentori. Sehingga mentori berhasil menyamai mentor.


Kedua, training. Istilah training acap kali kita temukan dalam pelatihan-pelatihan ataupun di arena training. Kegiatan ini, dilakukan untuk meningkatkan kompetensi trainee (orang yang ditraining). Seorang trainer memberikan kecakapan dengan mentransfer ilmu kepada tarinee. Di akhir training, diharapkan agar para peserta training, dapat menguasai ilmu yang diberikan trainer dengan baik. 


Dalam hal ini kepala sekolah dapat menjadi trainer bagi bawahannya. Karena, training ini dilakukan oleh orang yang lebih tinggi tingkat kompetensinya/kemampuan dibanding peserta. Kegiatan training bisa dilakukan oleh atasan langsung, atau orang lain yang ahli dan berkompeten di bidangnya.


Dalam tarining, kepala sekolah melatih bawahannya agar bisa melakukan sesuai harapan dan tujuan dari training. Latihan ini dilakukan prosedural yang sistematis. Trainee akan merasa memiliki tambahan ilmu, dan kecakapan di bawah bimbingan atasan.


Ketiga, fasilitasi. Kegiatan fasilitasi dilakukan oleh fasilitator yang kemampuannya diatas moderator. Seseorang fasil tidak harus ahli dalam setiap disiplin ilmu. Keahlian yang dituntut adalah mampu memfasilitasi orang lain dalam menghasilkan sebuah tujuan yang akan dicapai. 


Seorang fasilitator harus sadar dengan posisinya sebagai media, ataupun perantara yang menjembatani para peserta yang difasilitasinya. Dia harus piawai dalam merangkum ide-ide yang muncul dan berkembang dalam sebuah diskusi.


Kemudian, memberikan penekanan dan penajaman pada ide yang menjadi fokus pada tujuan diskusi. Misalnya, kepala sekolah memfasilitasi bawahannya dalam berdiskusi untuk mencapai suatu kesepakatan dalam merumuskan sesuatu. Semua ide yang muncul harus dirangkum, dan disimpulkan oleh kepala sekolah tersebut untuk digiring kepada suatu keputusan yang akan dijalankan dengan penuh komitmen.


Dengan begitu audien makin paham, makin yakin dengan tesa-tesa yang muncul dan berkembang, setelah ada penajaman dan penguatan nilai yang dilakukan seorang fasil pasca penyimpulan. 


Keempat, konseling. Istilah ini biasanya kita temukan dalam bidang psikologi. Konselor adalah orang yang memberikan layanan kosnsultasi kepada klien untuk membantu kliennya, supaya menemukan akar permasalahan. Setelah itu memberikan solusi, agar klien bisa mengatasi masalahnya dengan baik. 


Selanjutnya, konselor berusaha menggali permasalahan dari informasi yang didapat pada klien. Lalu, memberikan win-win solution bagi kliennya. Jadi, kepala sekolah bisa menjadi konselor bagi guru-guru yang memiliki permasalahan dalam tugasnya sebagai pendidik. 


Kelima, coaching. Kita mengenal kata coach dalam bidang olah raga. Coach bisa disamakan dengan pelatih. Coach melakukan coaching kepada coachee dengan menggali potensi yang ada pada diri coachee. Biarkan coachee menemukan sendiri keunggulan, dan kelemahan yang ada dalam dirinya untuk kemudian diberi keyakinan. Dengaan demikian coachee merasa yakin dengan kemampuannya, dan bisa mengasahnya dengan baik. 


Dalam hal ini seorang coach tidak boleh mendikte, menginterfensi, apalagi mengintimidasi. Tugas coach hanya mengarahkan, menggali, menggiring coachee menyadari kasalahan, kekeliruan, ketidak tahuan dan keunggulan dirinya. 


Kelima istilah penting di atas sangat dibutuhkan, dan harus dimiliki oleh seorang pimpinan sekolah atau kepala sekolah. Karena disamping tugas manegerial, supervisi dan kewirausahaan kepala sekolah, juga berfungsi sebagai seorang trainer, fasilitator, mentor, konselor dan coach.


Nah, dari kelima jurus di atas, ada satu istilah yang menraik bagi penulis untuk kita renungkan. Kemudian, kita lakukan penajaman dalam praktek sebagai seorang pimpinan. 


Sebagai supervisor, kepala sekolah bisa memakai ilmu coaching. Tindakan ini, dinamakan dengan supervisi ala coaching. Selama ini yang terjadi,  tindakan supervisi dilakukan dengan mencari-cari kelemahan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang guru.


Kemudian sisi lemah itu yang akan dilakukan, semacam program tindak lanjut melalui supervisi kilinis. Mengobati atau meluruskan kekeliruan dalam pelaksanaan pembelajaran.


Dalam hal ini, seorang guru berada pada posisi underdog. Merasa tertekan dan ditekan. Ada rasa tidak nyaman ketika supervisi berlangsung. Tidak jarang seorang guru yang akan disupervisi, sudah kena mental duluan. Akhirnya, mereka yang bersangkutan akan stres dan jatuh sakit.


Jadi, mungkin ada baiknya ilmu coaching, kita kombinasikan dengan supervisi dalam membimbing seorang guru pada kegiatan pasca pembelajaran tersebut.


Dengan begitu supervisor (dalam hal ini Kepala Sekolah), tidak memposisikan dirinya sebagai atasan yang mendikte. Namun dia, lebih kepada penekanan mencari solusi dari titik lemah yang akan ditingkatkan. Minimal hasilnya akan mencuatkan keunggulan guru yang disupervisi. 


Selanjutnya, memperkuat keyakinan guru yang disupervisi tersebut untuk melatih dan meningkatkan potensi baik yang telah dilakukannya selama ini. Dengan sendirinya, guru akan menyadari kelemahan dan kesalahan selama ini.


Disinilah posisi coach/supervisor berfungsi sebagai teman/rekanan yang memberikan masukan kepada coachee/guru. Bisa jadi kalau ini kita lakukan, maka kegiatan supervisi akan berjalan sesuai rencana. Tidak molor waktu gara-gara guru sakit, dan berhalangan mendadak saat supervisi.


Semoga pemaparan kali ini berkenan di hati pembaca dan bermafaat bagi para pimpinan, baik kepala sekolah, dan calon pemimpin dimanapun berada. 


Selamat memimpin dan salam kompak selalu ... !


Sumber Bacaan :

- Sarini, M.Pd, Peran Guru Sebagai Konselor Pasca Pandemi Covid-19, 2021

- Salim dan Kurniawan, Guru dalam Lembaga Pendidikan, 2012

- Alfian Tarmizi, S.Pd.I, LMS Calon Pengajar Praktek, 2022

- Valentina Purwasari, Supervisi Ala Coaching, Pebelajaran ke-11, 2022




ADSEN KIRI KANAN