Notification

×

Adsense atas

Adsense

Kisah Perempuan Jadi Masinis di Kereta Cepat Arab Saudi

Senin, 30 Januari 2023 | 19:50 WIB Last Updated 2023-01-30T12:50:00Z

 

Kereta berkecepatan tinggi di Stasiun King Abdullah Economic City, dekat Jeddah, Arab Saudi




MASINIS Tharaa Ali duduk di kemudi kereta api berkecepatan tinggi yang mengangkut jemaah ke Makkah. Ia menikmati kebijakan Arab Saudi yang konservatif yang kini semakin banyak merekrut tenaga kerja perempuan.


Perempuan Arab Saudi baru mendapatkan hak untuk mengemudi pada 2018. Dan sampai baru-baru ini, pengalaman Ali, (25), mengemudi hanya terbatas pada berkeliling kota asalnya, Jeddah, dengan sedan keluarga.



Tapi tahun lalu dia bergabung dengan sekitar 28.000 pelamar yang memperebutkan hanya 32 posisi untuk perempuan masinis di Haramain High Speed Railway. Kereta ini menempuh rute 450 kilometer antara kota suci Makkah dan Madinah dengan kecepatan hingga 300 kilometer per jam.


Yang mengejutkannya, mantan guru bahasa Inggris itu termasuk di antara sedikit orang yang beruntung terpilih. Dan ia menyelesaikan perjalanan pertamanya bulan lalu.


"Hari pertama bekerja di sini seperti mimpi bagi saya --memasuki kereta, memasuki kabin," katanya kepada kantor berita AFP.


"Ketika kita berada di dalam kabin, kita melihat hal-hal menuju ke arah kita dengan kecepatan yang sangat tinggi. Perasaan takut dan cemas menyelimuti saya, tetapi syukurlah, dengan waktu dan latihan intensif, saya menjadi percaya diri," ujarnya, sebagaimana dilansir dari VOA Indonesia.


Proporsi perempuan Saudi dalam angkatan kerja meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2016, dari 17 persen menjadi 37 persen.


Statistik tersebut menunjukkan perluasan hak-hak perempuan sementara kerajaan itu di bawah kendali Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS), meskipun di tengah tekanan yang meningkat terhadap para aktivis. MBS mendapat pujian dalam acara-acara seperti Forum Ekonomi Dunia di Davos.


Namun, angka pengangguran di kalangan perempuan Arab Saudi tinggi, yaitu 20,5 persen tahun lalu, dibandingkan dengan 4,3 persen untuk laki-laki Arab Saudi, sebagaimana juga dikutip Okezone.com.


Angka itu, seperti halnya banjir pelamar untuk posisi pengemudi, menyoroti tugas mendesak yang dihadapi para pembuat kebijakan Arab Saudi: menciptakan lapangan pekerjaan bagi semua perempuan yang baru tertarik untuk berpartisipasi dalam perubahan ekonomi.(*)




ADSEN KIRI KANAN