Notification

×

Adsense atas

Adsen

Kiat Guru Mengatasi Kebosanan Peserta Didik Dalam Belajar

Jumat, 20 Januari 2023 | 08:28 WIB Last Updated 2023-01-20T01:28:02Z

Oleh : Sarini, M.Pd
Guru Penggerak SDN 31 VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman



Guru merupakan profesi yang sangat mulia dan urgen dalam dunia pendidikan. Peran guru tidak tergantikan oleh aplikasi apapun. Maraknya perkembangan IT belakangan ini, seakan-akan menafikan eksistensi guru dalam proses pembelajaran dalam kelas. Semua serba digital. Mulai dari perangkat pembelajaaran, media belajar, penilaian dan pelaporan nilai melalui E-rapor. Namun, ada ruang tidak kasat mata yang tak bisa dijamah oleh IT, apalagi sampai menggantikannya. 


Dalam proses belajar mengajar itu guru tidak hanya berperan sebagai informan yang menyampaikan informasi kepada peserta didik, namun guru sebagai fasilitator tentu harus memberikan bantuan dan kemudahan belajar (scafolding) kepada semua peserta didiknya. Dengan demikian diharapkan mereka dapat belajar sengat senang, gembira, penuh semangat, tidak cemas dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka. 


Disamping itu, guru bukan hanya sekedar mentransfer ilmu, mengejar nilai, menunaikan tanggung jawab. Jauh dari itu, guru mempunyai peran sebagai pamong yang akan meng-among muridnya. Membina, melatih, membimbing menuju perubahan yang lebih baik. Inilah yang dimaksud dengan sisi yang tak tergantikan dari seorang guru. 


Berdasarkan binaan guru yang bertangan dingin ini, akan dijadikan modal dasar bagi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang menjadi insan yang bisa beradaptasi di segala situasi dan kondisi. Terutama sekali saat proses belajar mengajar dilaksanakan. 


Dalam hal ini, kompetensi guru dipertanyakan dalam mendesain pembelajaran yang kreatif, inovatif dan menantang. Sejatinya, pembelajaran yang bermakna, efektif akan  menyenangkan dan menantang rasa ingin tahu peserta didik sangat tinggi. Dengan begitu, kreatifitas dan imajinasi siswa muncul, sehingga mampu meningkatkan prestasi mereka.  


Namun dalam praktiknya terkadang sering dijumpai peserta didik terlihat lesu, bosan, tidak bergairah belajar dan tidak konsentrasi. Pun menyebabkan, materi yang disampaikan guru tidak menarik  dan tidak sampai kepada peserta didik.


Ini merupakan problem kita para guru. Kita seakan-akan ditantang untuk memecahkan kebekuan, akibat rasa bosan yang berkepanjangan. 


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata bosan diartikan sebagai tidak suka lagi, karena sudah terlalu sering atau banyak. Bosan bisa juga dikatakan jenuh, secara harfiah, jenuh artinya padat atau penuh, makanya tidak mampu lagi memuat apapun.


Disa'at peserta didik jenuh atau bosan dalam belajar, sistem akalnya tidak dapat bekerja secara maksimal dalam memproses informasi atau materi pelajaran. Akibatnya, mereka tidak menunjukkan kemajuan belajar secara signifikan dan kehilangan motivasi belajar. 


Hal demikian, mesti dipahami oleh pendidik dengan berusaha menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan. Guru mesti pintar, juga jeli melihat gejala kejenuhan belajar yang dialami peserta didik. Lagi, guru dituntut mampu membangkitkan selera belajar atau memotivasi belajar peserta didik.


Menurut Callahan dan Clark (1988)  motivasi merupakan tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Motivasi dapat menyebabkan terjadinya suatu perubahan energi pada diri peserta didik, baik menyangkut kejiwaan, perasaan, maupun emosi, sehingga mampu melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan. 


Selain memotivasi peserta didik dalam belajar ada beberapa kiat yang bisa dilakukan guru dalam mengatasi kebosanan peserta didik dalam belajar, diantaranya : 


Pertama,  mengetahui dan merumuskan tujuan belajar. Guru mesti cerdas merangsang semangat belajar peserta didik. Salah satunya dengan cara memberitahukan kepada peserta didik dari tujuan mempelajari materi tersebut yang akan diajarkan, dan mengaitkan hal yang dipelajari dengan kehidupan nyata.


Hal ini akan memotivasi peserta didik, karena mereka merasa membutuhkan belajar. Ditambah lagi dengan menceritakan kisah-kisah menginspiratif tentang orang-orang sukses sebelumnya. Artinya, kita mampu membangkitkan keinginan peserta didik untuk belajar dan menghindari kejenuhan mereka. 


Kedua, menggunakan metode belajar sambil bermain. Pemberian materi ajar yang monoton, dan terlalu serius akan menimbulkan rasa jenuh, juga membosankan bagi peserta didik. 


Pun belajar sambil bermain, merupakan sarana yang efektif dilakukan guru untuk mengatasi menghilangkan kebosanan peserta didik. 


Ketiga, menggunakan media belajar yang menarik. Pembelajaran dengan metode ceramah saja akan membuat suasana belajar tidak menarik dan membosan. Untuk itu, guru perlu menggunakan media belajar yang menarik untuk merangsang selera belajar peserta didik.


Dengan mengunakan media yang sesuai dan menarik akan mampu memusatkan perhatian peserta didik, menggugah emosi, pelajaran mudah dipahami, memotivasi peserta didik. Juga, menimbulkan suasana belajar yang aktif dan kreatif. 


Keempat, belajar outdoor. Ruang kelas menjadi tempat belajar rutin yang lalakukan guru kepada peserta didik setiap hari. Hal ini, terkadang menimbulkan rasa bosan, dan tidak menarik bagi peserta didik. Oleh sebab itu, melakukan pembelajaran di luar kelas akan menarik minat peserta didik. Di ruang terbuka, mereka bisa menemukan hal-hal baru yang secara langsung bisa dilihat dan diamatinya. 


Kelima, menghafal pelajaran sambil bernyanyi dan bertepuk tangan. Menyanyi dan bertepuk tangan merupakan hal menyenangkan bagi peserta didik. Mengganti lirik lagu dengan materi pelajaran akan memudahkan peserta didik menghafal meteri ajar. Bertepuk tidak hanya mampu meningkatkan kecerdasan motorik peserta didik, tetapi bisa menstranfer ilmu dengan cara yang menyenangkan. 


Keenam, mengubah posisi tempat duduk secara berkala. Anak-anak merupakan sosok pribadi yang mudah bosan dengan satu kebiasaan yang tidak pernah berubah. Kebosanan ini akan mempengaruhi selera belajar peserta didik. Mengubah tempat duduk secara berkala dengan berbagai pola dan merolling teman sebangku peserta didik, akan menimbulkan suasana belajar yang baru dalam kelas dan terjalin keakraban sesama teman.


Berdasarkan enam poin diatas untuk mengatasi kejenuhan peserta didik dalam belajar, maka dapatlah kita pelajari kiat-kiatnya. Guru sebagai pencipta dan penggairah suasana belajar peserta didik harus ramah, sabar, menunjukkan pengertian, memberikan kepercayaan, menciptakan suasana belajar yang aman dan kreatif.


Kreativitas guru mampu menciptakan suasana belajar yang baru, berbeda dalam bentuk susunan dan gaya, tanpa mengubah fungsi pokok atau hal yang harus di capai dari hasil belajar. 


Dengan demikian, diharapkan guru mampu menciptakan suasana belajar yang menarik. Sehingga menghilangkan kebosanan peserta didik dalam belajar. 


Kepada para guru dan pendidik dimanapun berada, marilah kita berbenah diri, meningkatkan kompetensi dalam mengatasi kejenuhan peserta didik dalam belajar.


Kita ciptakan pembelajaran yang menarik, menyenangkan dan penuh dengan makna. Sehingga apa yang kita sampaikan, mengena di hati sanubari mereka. 

Selamat mencoba ... !

Referensi :

 - Dr.E.Mulyasa,M.Pd: Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru.

- Prof. Dr.H.Syafruddin Nurdin: Profesi Keguruan.

- Sardiman, A,M: Interaksi dan Motivasi Belajar Mngajar.

 - Dr. H. Asfar Amir Tanjung: Jalan Sukses Menuju Guru Profesional

- Artikel dari blok PTK dan model pembelajaran.






ADSEN KIRI KANAN