Notification

×

Adsense atas

Adsen

Guru Pemberi Ruh Dalam Pembelajaran

Selasa, 24 Januari 2023 | 10:24 WIB Last Updated 2023-01-24T03:27:06Z

Oleh : Alfian Tarmizi, M.Pd
Praktisi dan Pengamat Pendidikan
Padang Pariaman


Kurang lebih empat tahun, penulis pernah melakukan pendampingan guru pada berbagai kecamatan di Kabupaten Padang Pariaman. Dan kebanyakan penulis melihat, secara umum pembelajaran yang disuguhkan terlalu monoton. 


Pembelajaran kurang bergairah, siswapun kurang bersemangat. Guru terkesan, sangat mendominasi. Komunikasipun satu arah tercipta. Tidak ada hubungan timbal balik dari guru dan siswa. Interaksi guru dengan siswa dan sumber belajar, tidak terlihat. Siswa yang aktif hanya kisaran sekitar 25 %.


Penulis teringat dengan pengawas senior, kini dia sudah pensiun. Ia sangat energik dan penuh semangat, walaupun kala itu, tiga bulan lagi akan memasuki masa purnabakti.


Dengan gegap gempita, ia menyulut semangat kami yang masih muda ini.

Masih terngiang ditelinga ini, ketika itu beliau berkata,


“Apa yang bisa kita harapkan dari perubahan kurikulum yang terkesan dipaksakan. Merubah mind set seseorang, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang secara kontiniu. Yang bisa kita lakukan sekarang ini hanya memotivasi, membangkitkan semangat para guru, agar mau berubah. Berbuatlah demi generasi yang akan kita tinggalkan di kemudian hari. Sekecil apapun persentasi keberhasilannya, maka alangkah patut dan indahnya kita apresiasi”


Pembaca yang budiman, dunia pendidikan tidak mengenal yang namanya revolusi. Tapi menganut paham evolusi. Revolusi bersifat fundamental dengan mendobrak tradisi dan memperbaiki tatanan dengan cepat.


Seperti merombak kabinet, merobah struktur organisasi, mengganti metode mengajar dan sebagainya. Dilaksanakan sekarang akan terlihat hasilnya.

Akan tetapi evolusi bersifat kontiniuitas, butuh proses yang panjang untuk mencapai hasil perubahan dari sebuah tindakan.


Contohnya ditanam sekarang akan terlihat hasilnya bertahun-tahun ke depan. Diperbaiki karakternya hari ini secara berkelanjutan, maka akan terlihat hasilnya satu sampai lima tahun lagi. Tergantung kuat atau lemahnya dorongan yang diberikan. Tergantung pada seringkalinya atau tidaknya stimulus diberikan. 


Berdasarkan tesa ini, penulis ingin mengajak pembaca untuk menyelami kurikulum baru yang lagi marak dibicarakan belakangan ini. Kurikulum Merdeka (Kurmer) memberikan secercah harapan bagi guru untuk berbuat lebih banyak. Ada ruang untuk berkreasi dan berinovasi dalam pembelajaran. 


Sesuai dengan namanya, “Kurikulum Merdeka”, maka guru diberi kebebasan untuk menuntaskan materi sesuai capaian pembelajaran (CP) dalam dua tahun (satu fase). Contohnya materi Pancasila di kelas satu (fase awal), capaian pembelajarannya bisa dituntaskan di kelas dua (fase akhir). Dengan begini, berarti guru bisa mematok berdasarkan kemampuannya siswa “A” terpaksa tinggal kelas di kelas dua. 


Begitu juga dengan kebebasan dalam mendisain pembelajaran. Disesuaikan dengan kebutuhan belajar peserta didik yang beragam di kelas. Guru bebas menganalisa dan mendiagnosa kebutuhan belajar siswa, kesiapan siswa ketika belajar, gaya dan minat siswa dalam belajar. Jangan sampai ada guru telah merasa mengajar dengan maksimal, namun usaha itu tidak membuahkan hasil. Lantaran, salah dalam memprediksi kebutuhan peserta didik yang beragam tadi. 


Kurmer juga dilengkapi dengan bahan ajar yang beragam melalui platform merdeka mengajar. Bahan dan sumber belajar boleh diambil dari mana saja, asalkan sesuai dengan capaian pembelajaran yang telah ditetapkan pemerintah. 


Inilah fasilitas yang ditawarkan pemerintah dengan kurikulum merdekanya. Fasilitas ini harus bisa diterima, dipahami dan dilaksanakan semua guru di Indonesia. Sehingga ada beberapa hal yang menarik dalam Kurmer.


Lantas, menurut penulis, setidaknya ada ciri khas dan inti dari kesuksesan dalam penerapan kurikulum ini. Yaitu pembelajaran yang berdiferensiasi. Guru harus menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, bila ingin sukses mengajar pada Kurmer.


Pembelajaran berdiferensiasi, artinya pembelajaran yang berpihak pada siswa, mengutamakan keragaman kebutuhan peserta didik dalam satu kelas. Segala kebutuhan dan profil belajar murid, harus diketahui dan diakomodir oleh guru. 


Guru harus memfasilitasi kebutuhan semua murid. Karena, setiap murid itu unik dan berbeda karakternya. Sehingga tidak adil menyamaratakan mereka. Tidak bisa diberi perlakuan yang sama. Ada siswa yang butuh bantuan yang lebih dalam belajar. Ada juga yang butuh bantuan sekedarnya. Dan ada pula yang tidak butuh sama sekali, karena mereka sudah bisa dan mandiri. Pemberian bantuan yang bermacam itu, disebut dengan istilah ‘scafolding’ dalam pendidikan. 


Padahal berdasarkan pembelajaran diferensiasi ini, guru harus menetapkan strategi yang berbeda di dalam kelas. 

Ada siswa yang  gaya belajarnya bersifat audio. Berarti, mereka bisa memahami materi dengan cukup mendengarkan penjelasan dari guru.


Ada juga siswa yang sudah merasa belajar, bila penjelasan guru dibarengi dengan penayangan gambar-gambar yang bisa mengkogkritkan konten (materi). Tipe belajar seperti ini disebut dengan gaya visual. Bahkan, ada juga model gaya belajar gabungan antara audio dan visual. 


Terlepas dari dua gaya belajar di atas, ada yang disebut tipe kinestetik. Siswa baru bisa belajar, bila mereka sudah mendengar, melihat dan kemudian mempraktekkannya. Gaya belajar ini lebih komplit dan memiliki probabilitas yang tinggi dalam taraf keberhasilan belajar. 


Jadi, model pembelajaran yang bagaimanakah yang harus diterapkan guru dalam kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi ...?


Nah, berdasarkan analisa penulis melalui proses diskusi di komunitas praktisi, dapat disimpulkan, bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat dilakukan dengan memadukan keberagaman kebutuhan di kelas melalui pengkolaborasian beberapa model dan metode mengajar.


Misalnya memakai metode persentasi, visualisasi dan demonstrasi dalam satu rangkaian Proses Belajar Mengajar (PBM). 


Dengan memadukan beberapa metode yang bisa mewakili kebutuhan belajar siswa, maka siswa yang beragam di kelas itu, merasa sudah terpenuhi kebutuhannya. Mereka tidak seperti kambing congek dalam kelas. Mereka sudah merasa belajar. Tujuan dari pembelajaranpun, tercapai dengan baik.Tidak ada lagi siswa yang ketinggalan dalam belajar. Gurupun tidak perlu lagi dalam melakukan remedial. 


Untuk itu, sebelum melaksanakan pembelajaran, maka diferensiasi guru harus melalui tahapan sebagai berikut :


Pertama, Menganalisis gaya dan kebutuhan belajar siswa di kelas. Kedua, Menyiapkan konten atau materi yang bersifat diferensiasi. Materi disederhanakan, sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik. Pun,standar minimal dari capaian pembelajaran, harus dikuasai setiap peserta didik.


Ketiga, mengidentifikasi metode dan strategi penyampaian materi berdasarkan perbedaan siswa. Keempat, upaya persiapan pemberian bantuan belajar (scafolding) pada murid. Kelima, meminta hasil tugas belajar sesuai kemampuan siswa.Tagihan produk hasil belajar siswapun, boleh berbeda.


Misalnya dalam pembelajaran Bahasa, tagihan produk hasil belajar siswa boleh bermacam-macam. Siswa yang suka menggambar, bisa melaporkan tugas dengan visualisasi gambar. Anak yang gemar menulis, bisa dengan puisi, prosa, drama atau pantun. Peserta didik yang berbakat dalam bernyanyi bisa dengan lirik lagu.


Jadi, dengan demikian terasahlah semua kemampuan peserta didik dalam satu pembelajaran. Disinilah, letak keunggulan pembelajaran berdiferensiasi. Dengan begini, maka terlihatlah peran guru dalam memberi ruh pada pembelajaran yang bermakna.


Pembaca yang budiman, kalau ditelaah lebih dalam, kurikulum merdeka memiliki keunggulan dalam menjawab problematika guru dan murid, seputar proses belajar mengajar.


Namun demikian, setelah melihat dan mengamati pelaksanaan Kurmer pada beberapa sekolah, muncul pertanyaan yang menggelitik di hati penulis, Apakah semua guru bisa memahami pembelajaran berdiferensiasi ... ?


Maka penulis mencoba menyajikan tata cara pelaksanaannya.


Disini, butuh sosialisasi dan implementasi Kurmer yang berkesinambungan. Ada agen-agen pembawa perubahan dalam memotori pelaksanaan kurmer pada setiap kecamatan. Agen ini akan membawa perubahan dikalangan guru pada lingkungannya.


Kalau tidak, misi yang diinginkan pemerintah akan sulit untuk diterjemahkan dan dilaksanakan para guru di level paraktisnya. Ganti kurikulum tidak akan berdampak pada perubahan paradigma mengajar. Sehingga ada "pameo" kami para guru, akan tetap menyuarakan dengan mengutip tembang Dian Pesesa. “Aku masih...seperti yang dulu...” dalam cara mengajar.


Begitulah, ilustrasi penulis terhadap kurmer yang menjadi solusi dalam perbaikan pendidikan di Indonesia. Namun, asumsi pemerintah yang menganggap para telah guru siap untuk melaksanakan kurmer dengan berbagai fasilitas perangkat ajar yang ada di aplikasi Platform Merdeka Mengajar tersebut terlalu premature. Karena, kemampuan guru di kota dan di desa berbanding terbalik.


Faktor penghambat jalannya kurikulum ini, harus dipikirkan dan disiapkan solusinya. Tidak bisa hanya dengan menyodorkan beberapa fasilitas, namun tidak diimbangi dengan sarana dan prasrana pendukung untuk menggapai fasilitas tersebut. 


Semoga dengan adanya program guru penggerak, akan dapat meminimalisir kegagalan penerapan kurmer ini. Mudah-mudahan program guru penggerak dapat diterima dan dipahami oleh berbagai kalangan. Sehingga perubahan yang mendasar dalam pendidikan dapat diwujudkan. 


Mari kita terima, kiprah guru penggerak yang menyuarakan perubahan pada setiap sekolah. Jangan hanya duduk sambil menonton di zona nyaman kursi kerajaan, selama bertahun-tahun. Telah waktu dan saatnya bangkit, juga berbuat demi Bangsa ini. Kalau bukan kita para guru, siapa lagi ... ? Ayo Bangkit dan Bergerak ... !


Salam Kurmer, Salam Perubahan... !


Referensi Bacaan :

- Kemdikbudristek, Ayo Guru Berbagi, 30 Juni 2022.

- Venni Widia Astuti, LMS Guru Penggerak Modul 2.1.

- Umaratun Niswah, Padana.id.

- Mahar Prastiwi, Compas.com/Edu.

- https://www.kompas.com/edu/read/2022














ADSEN KIRI KANAN