Notification

×

Adsense atas

Adsen

Sejenak Menela'ah Pemikiran Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara

Senin, 26 Desember 2022 | 11:14 WIB Last Updated 2022-12-26T04:27:04Z

Oleh : Alfian Tarmizi, M.Pd
Pengajar Praktek Guru Penggerak
Padang Pariaman


“Di depan memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), di tengah membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan di belakang memberikan dorongan (tut wuri handayani)” - Ki Hajar Dewantara.


Siapa yang tidak kenal dengan falsafah pendidikan yang satu ini. Pun benar sekali pemikiran brilian Ki Hajar Dewantara atau yang dikenal dengan Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Ia merupakan tokoh pendidikan di zaman Belanda yang cita-citanya luhur untuk mengangkat martabat pendidikan di Indonesia.


Kita semua telah tahu bahwa sistem pendidikan di Indonesia merupakan peninggalan sejarah pada masa Hindia Belanda. Warisan ini, secara turun temurun telah kita adopsi dengan melahirkan ribuan tokoh dan pemimpin di Indonesia.


Bangsa Belanda mungkin bangga. Kenapa ?  karena negara besar ini, sepertinya kita mewarisi sitem pendidikan mereka. Padahal mereka telah jauh meninggalkannya, sesuai tuntutan perubahan zaman. Namun bagi kita, siapa menyangka, pasca Covid-19 mata kita terbuka. Lahir pemikiran tentang belajar merdeka.


Mutiara yang terpendam selama ini, yang telah dicetuskan Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara (KHD). Pemikiran dia, jauh sebelum merdeka telah menggaungkan falsafah pendidikan itu. Lantas, baru bisa diterjemahkan dengan baik dari anak cucu Bangsa ini pada awal tahun 2021. 


So, mas Menteri Nadiem Makarim menggali pemikiran dari falsafah KHD melalui azas kemerdekaan belajar dengan bendera Kurikulum Merdeka (Kurmer). Sejatinya, sesuai namanya Kurmer, tentu memberikan keleluasaan dan kebebasan/kemerdekaan bagi para pendidik. Konsekwensinya, tentu untuk melaksanakan pendidikan sesuai dengan kodrat alamnya manusia yang bebas sesuai dengan tuntutan zaman.


Lantas KHD memberikan pemikirannya tentang Dasar-dasar Pendidikan. KHD berpendapat, pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Pendidik itu hanya dapat menuntun tumbuh atau hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar dapat memperbaiki perilaku (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya kekuatan kodrat anak (Ahmad Yani : 2022) 


Sedangkan menurut Tin Faza, Guru itu harus memberikan contoh yang baik pada siswanya. Seluruh totalitas performa, tutur kata dan sepak terjang guru harus mencerminkan falsafah Inggarso Sung Tu Lodo. Disini, tentu siswa bisa berkaca ke pada gurunya. Makanya, tidak salah pepatah atau pribahasa menyatakan “bila guru kencing berdiri, maka anaknya akan kencing berlari”.


Ing Madiyo Mangun Karso, guru harus memberi dorongan dan semangat bagi siswa agar berprestasi. Bila ada siswa yang berprestasi harus didorong lagi untuk maju dan meraih prestasi berikutnya. Jadi, siswa yang memiliki bakat yang luar biasa itu harus dihargai,  disemangati dan dipupuk agar lebih semakin cemerlang.


Tut Wuri Handayani, guru sebagai pendorong siswa untuk bergerak maju. Memimpin dirinya sendiri untuk maju mencapai cita-citanya yang tinggi. Oleh sebab itu, maka guru harus kreatif dan inovatif agar bisa memotivasi siswa lebih kreatif lagi.


Lebih jauh lagi KHD mengatakan, pendidikan diartikan sebagai tuntunan dalam hidup tumbuh kembangnya anak-anak ; menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. (Ki Hajar Dewantara)


Jelasnya, KHD ingin mengingatkan pada kita para pendidik agar tetap terbuka dan mengikuti perkembangan zaman. Akan tetapi, sungguh sangat disayangkan, tidak semua yang baru itu baik, harus difilter dulu, ditimbang baik-buruknya. Jadi perlu penyelarasan nilai yang baru sebelum diadopsi. 


KHD juga mengemukakan, dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan dimana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. 


Artinya bahwa setiap anak sudah memiliki bawaan dasar sifat atau karakter yang berbeda. Guru harus menghargai dan memupuk serta mengembangkan nilai karakter baik agar bisa menutupi dan menghilangkan sifat jelek dari mereka. 


Hal demikian, bukan semudah membalikkan telapak tangan. Sudah jelas, akan butuh proses, butuh kesabaran, butuh pembiasaan yang dicontohkan, dan diteladankan oleh seorang guru dalam keseharian.


Kodrat zaman, bisa diartikan bahwa kita sebagai guru harus membekali keterampilan kepada siswa sesuai zamannya agar mereka bisa hidup, berkarya dan menyesuaikan diri. 


Dalam konteks pembelajaran sekarang, kita harus membekali siswa dengan kecakapan Abad 21 (berpikir kritis, kreatifitas, berkomunikasi, kolaborasi).


Empat kecakapan ini, harus tergambar dalam proses pembelajaran setiap hari. Budi pekerti juga harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan yang kita lakukan. Guru harus senantiasa memberikan teladan yang baik terhadap siswa-siswanya.


Dalam mengembangkan budi pekerti itu, dilaksanakan dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan pembiasaan di sekolah. Yakni menanamkan nilai-nilai budi pekerti/akhlak mulia kepada anak.


KHD menegaskan, peran pendidik diibaratkan seorang petani atau tukang kebun yang tugasnya adalah merawat sesuai kebutuhan dari tanaman-tanamannya itu agar tumbuh dan berbuah dengan baik, tentu saja beda jenis tanaman, akan beda perlakuannya. (Ki Hajar Dewantara)


Kita seorang pendidik tidak bisa memaksakan sesuatu kepada anak yang tidak sesuai dengan kodrat, minat dan bakatnya. Ibarat petani itu tugasnya hanya menanam, memupuk, menyiram, merawat serta menjaga tanaman supaya tumbuh subur.


Petani tidak bisa mengubah bibit padi menjadi tumbuh jagung, karena tidak sesuai kodratnya. Jadi semakin jelas, guru harus bisa melayani segala bentuk kebutuhan metode belajar siswa yang berbeda-beda (student centered).


Kita harus bisa memberikan kebebasan kepada anak untuk mengembangkan ide, berfikir kreatif, mengembangkan bakat/minat siswa (merdeka belajar). Tetapi kebebasan itu bukan berarti kebebasan mutlak, perlu tuntunan dan arahan dari guru, supaya anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya (bebas tapi terkendali).


Berdasarkan pemapaparan filosofi pendidikan KHD tersebut, dapatlah kita petik hikmahnya. Sesungguhnya seorang pendidik harus mengenali betul keberagaman karakteristik peserta didik yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini sangat unik bawaan sejak dari lahir. Guru tidak bisa menghapus atau mengganti sifat, minat dan bakat siswa sekehendak hati.


Guru hanya bisa mengarahkan siswa agar tumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik. Terutama agar tujuan pendidikan nasional dapat tercapai. Yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak siswa yang berakhlak mulia. 


Pendidikan tidak hanya bicara sekadar teori, tapi pada tataran praktis pendidikan harus memiliki metoda yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter siswa. Jadi, keterbukaan guru dalam menerima perubahan sesuai tuntutan zaman, sangat urgen sekali dalam membawa pembaharuan.


Ganti metoda dan model pembelajaran adalah solusi untuk mendapatkan tempat di hati siswa. Jangan mengajar seperti guru kebanyakan. Statis, monoton, kaku, serius, dan tidak fleksible (konvensional).


“Jangan salahkan siswa tidak memberikan penghormatan, bila guru masih suka duduk manis di zona nyamannya, tidak mau membuka mata terhadap perubahan zaman”.(Anoto : 2022)


Referensi :

- Titin Kusminarsih, Tiga Filosofi Ki Hajar Dewantara, Guru Siana, 2022

- Ahmad Yani, Refleksi Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara, Ayo Guru Berbagi, 2022

- Anoto Kotto, Pendidikan Indonesia dan Tantangan Era Digital, 2022

- Ki Hajar Dewantara, Menuju Manusia Merdeka, Yogyakarta, Leutika, 2009

- Haidar Musyafa, Ki Hajar Dewantara: Sebuah Memoar, Pustaka Ilmiah, 2017

- https://opac.perpusnas.go.id

- https://www.belbuk.com.










ADSEN KIRI KANAN