Notification

×

Adsense atas

Adsen

Peran "ABG" dalam Pertumbuhan Ekonomi

Jumat, 09 Desember 2022 | 13:35 WIB Last Updated 2022-12-09T06:47:02Z

 

Ilustrasi. (ist)



Oleh. Zulfitri Nasran
(Kanwil Ditjen Perbendaharaan Prov. Sumbar)

Dunia sedang menghadapi berbagai krisis yang rumit dan berbahaya, dampak berkepanjangan Pandemi Covid-19. Belum lagi, krisis pangan dan energi akibat Perang di Ukraina serta ketegangan geopolitik dan disrupsi rantai pasok global, inflasi melonjak, pengetatan moneter dan kenaikan suku bunga, penguatan mata uang US Dollar dan perlemahan ekonomi global.

Dunia juga sedang menghadapi ancaman perubahan iklim serta teknologi digital yang membawa perubahan sangat besar. Pelemahan ekonomi global ini juga berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi regional di Sumatra Barat (Sumbar). Namun sejauh ini, Sumatra Barat masih mampu mengantisipasi pelemahan ekonomi dengan sangat baik.

Perekonomian Sumatra Barat tumbuh positif melanjutkan tren pemulihan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi di Sumbar terutama didorong oleh kembali normalnya aktivitas masyarakat setelah adanya pelonggaran pembatasan bepergian di daerah ini. Ekonomi Sumbar Triwulan III-2022 tumbuh 4,54 persen (y-on-y) jika dibandingkan dengan Triwulan III-2021. Perbaikan ekonomi terjadi pada hampir semua komponen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), baik dari sisi pengeluaran maupun lapangan usaha. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen ekspor barang dan jasa yang tumbuh sebesar 5,48 persen (yoy).

Sementara dari sisi lapangan usaha, yang mengalami pertumbuhan signifikan, yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 22,97 persen (yoy). Sumatra Barat menyumbang 6,77% terhadap perekonomian di Pulau Sumatra dan hanya 1,49% terhadap perekonomian nasional.

Dari sisi Indikator Kesejahteraan masyarakat Sumbar mengalami peningkatan antara lain adalah Indeks Pembangunan Manusia(IPM); IPM Provinsi Sumatera Barat tahun 2021 mencapai 72,65, meningkat 0,27 poin dibandingkan capaian tahun sebelumnya (72.38).

Pembangunan manusia Sumatra Barat pada tahun 2021 ini berstatus “Tinggi”. Persentase Penduduk Miskin; Persentase penduduk miskin pada Maret 2022 tercatat sebesar 5,92 persen, turun 0,71 persen poin terhadap Maret 2021. Pada Maret 2022, Persentase jumlah penduduk miskin di Sumbar menempati urutan ke dua terendah di regional Sumatra.

Disamping itu, persentase kemiskinan di Sumbar masih dibawah persentase penduduk miskin Indonesia yang mencapai 9,54 persen. Gini Ratio; pada Maret 2022, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Sumatra Barat yang diukur oleh Gini Ratio adalah sebesar 0,300. Angka ini turun sebesar 0,006 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2021 yang sebesar 0,306.

Capaian pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat sejauh ini sangat bagus. Namun disi lain, capaian itu masih berada di bawah target pertumbuhan ekonomi nasional. Seperti diketahui bahwa target pertumbuhan ekonomi secara nasional adalah berkisar antara 5,2-5,5 persen, sementara capaian yang diperoleh Sumatra Barat sampai dengan Triwulan III-2022 adalah sebesar 4,54 persen.

Perlu terobosan-terobosan dan langkah-langkah baru guna menggenjot pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat sampai akhir tahun sehingga Sumatera Barat bisa melampaui target nasional tersebut.

Tahun depan kita masih menghadapi goncangan ekonomi yang lebih ganas. Pandemi Covid belum usai. Perang Rusia-Ukraina masih belum tentu kapan akan berakhir. Disrupsi rantai pasok global belum juga membaik. Semua negara masih berlomba-lomba menahan gempuran resesi dengan melakukan pengetatan moneter dan kenaikan suku bunga. Pastinya akan berdampak terhadap perekonomian Indonesia dan Sumatra Barat. Oleh sebab itu, kita harus tetap waspada dengan kondisi ini. Kita harus kuat dalam menjaga stabilitas yang sudah tercipta di Sumatera Barat ini.

Terobosan dan langkah baru dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat harus didukung oleh seluruh stakeholder perekonomian. Selain masyarakat sebagai stakeholder utama terdapat tiga pilar penting dalam masyarakat yang sangat dominan dalam percepatan laju pertumbuhan ekonomi di suatu daerah.

Ketiga pilar itu, pertama Akademisi. Keberadaan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di Sumatra Barat sangat dibutuhkan. Provinsi ini mempunyai banyak kampus yang tersebar diseluruh pelosok negeri. Di sana berkumpul orang-orang intelektual, orang-orang yang mempunyai pikiran maju dan orang-orang yang mampu membuat analisa dan kajian atas berbagai macam masalah yang ada.

Kampus merupakan gudang dari segala pemecahan masalah. Oleh sebab itu, kampus mempunyai peran strategis dalam membantu peningkatan laju pertumbuhan ekonomi di Sumatra Barat.

Kontribusi kampus selayaknya sangat besar untuk pembangunan. Berbekal tri darma perguruan tinggi, kampus memiliki sumber daya luar biasa. Terdapat beberapa contoh implementasi tridharma perguruan tinggi yang bisa diterapkan untuk mengantisipasi perekonomian kedepan. Misalnya: Ekonom dan pakar ekonomi membuat kajian dan analisa guna mencarikan solusi atas lambatnya laju pertumbuhan ekonomi di Sumatra Barat.

Mahasiswa bisa berkontribusi dalam banyak hal seperti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang difokuskan untuk membantu pengelolaan keuangan Nagari, pengumpulan data rakyat miskin di Nagari, dan lain-lain. Kampus bisa mengadakan seminar-seminar yang lebih implementatif untuk kemajuan Sumatra Barat kedepannya. Kampus bisa melakukan riset dan penelitian guna meningkatkan produksi pertanian baik dari sisi pembibitan maupun sarana dan prasarananya.

Kedua, Bussinesman, pelemahan ekonomi global mengakibatkan pendapatan masyarakat tergerus. Rakyat semakin terjepit oleh naiknya harga barang-barang. Kehadiran pengusaha ditengah masyarakat tentu akan sangat diharapkan dapat menopang dan membantu keluar dari keterpurukan tersebut. Pengusaha dengan kapasitasnya dapat menciptakan lapangan kerja sehingga pengangguran berkurang dan pendapatan masyarakat secara agregat akan meningkat.
 
Pengusaha pasti mampu memberikan masukan atas permasalahan perekonomian. Tantangan dan hambatan dalam membangun dan mengembangkan usahanya dapat dijadikan acuan. Berdasarkan pengalaman riil dilapangan ini pengusaha memberikan solusi atas permasalahan guna membangun iklim berusaha yang sehat dan menguntungkan. Pengusaha juga diharapkan memberikan kritik konstruktif atas pelaksanaan pembangunan.
Ketiga, Government. Pemerintah mempunyai kapasitas besar dalam meningkatkan perekonomian suatu daerah. Pemerintah bisa membuat aturan yang harus diikuti oleh seluruh stake holder perekonomian di daerah. 

Pemerintah dapat memberikan ruang yang luas agar tercipta enterprenuer-entreprenuer di daerah. Pemerintah bisa memberikan stimulus fiscal kepada pengusaha yang ingin berinvestasi di daerah. Pemerintah dapat memberikan bantuan langsung kepada masyarakat, sehingga daya beli masyarakat meningkat dan akan berdampak pada sector produksi untuk memaksimalkan kapasitas produksinya sehingga pada gilirannya mengakibatkan perekrutan tenaga kerja tambahan.

Dari opini diatas bisa disimpulkan bahwa Akademisi, Bussinesman dan Government (ABG) mempunyai kontribusi besar terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat. ABG dinantikan kiprahnya oleh seluruh masyarakat. ABG mempunyai semua sumber daya yang diperlukan, punya intelektualitas, punya pendanaan dan pembiayaan dan punya kemampuan membuat kebijakan dalam meciptakan iklim usaha yang baik. Oleh sebab itu, dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat di masa yang akan datang diperlukan kerja sama dari ABG.

Sinergitas dan koordinasi antar dan inter ABG akan berdampak sangat luas di tengah masyarakat. Dari sinergitas dan koordinasi akan teridentifikasi masalah secara jelas. Selanjutnya ABG bisa membuat kajian dan analisa konferehensif atas permasalahan tersebut. Kemudian secara bersama-sama merumuskan solusi yang tepat dan implementatif atas permasalahan tersebut agar bisa diterapkan oleh semua pemangku kepentingan.

Disclaimer: Tulisan ini hanya opini penulis dan bukan merupakan kebijakan institusi.


ADSEN KIRI KANAN