Notification

×

Adsense atas

Adsen

Kisah Warga Penghuni Kolong Tol Pejagalan Jakut, Mengaku Nyaman meski Hadapi Ketidakpastian

Selasa, 15 November 2022 | 17:05 WIB Last Updated 2022-11-15T10:14:25Z

 

Kolong Tol Wiyoto Wiyono di kawasan Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara disulap menjadi permukiman.



JAKARTA - Pembangunan yang pesat di Ibu Kota Jakarta masih menyisakan banyak masyarakat yang hidup di garis kemiskinan. Bahkan tak sedikit dari mereka tinggal di daerah tidak layak alias kumuh seperti kolong tol


Kondisi ini lah dapat ditemui di Jalan Inspeksi Kali Duri Muara Karang Timur RT 6/ RW 16, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara (Jakut). Lokasi itu lebih dikenal dengan sebutan Kolong Tol Air Baja, sebagaimana dikutip iNews.id.


Di lokasi bawah kolong tol ini, masih banyak masyarakat yang rata-rata berasal dari wilayah Jawa Timur. Mereka tinggal seadanya di bawah kolong tol jurusan Tanjung Priok menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta.


Mayoritas penghuni kolong tol ini mengaku sudah menetap selama bertahun-tahun hingga belasan tahun di bawah gelapnya kolong Tol Wiyoto Wiyono. Masyarakat yang kerap disebut manusia kolong tol ini mengaku nyaman dengan kondisinya.


Salah satu penghuni kolong tol, Jaminati (55) mengungkapkan dirinya tinggal di kolong tol berawal dari sebuah tekad dan juga nekat untuk mencari uang di Ibu Kota. Perempuan asal Madiun, Jawa Timur ini bercerita sejak tahun 2008, dirinya bersama dengan suami berniat nekat merantau ke Jakarta untuk mencari penghasilan yang lebih demi kebutuhan rumah tangga. 


"Sudah lebih dari 15 tahun saya di sini (Jakarta) dari Ngawi, Madiun. Di kampung kan sulit untuk uang jadi mengadu nasib aja lah ke Jakarta," Kata Jamiati saat ditemui di lokasi Selasa (15/11/2022).


Namun sayangnya sesampainya di Jakarta, harapan Jamiati bersama sang suami meleset. Pasalnya harapan mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang besar rupanya harus menuntut mereka untuk lebih bekerja keras. 


Di samping biaya makan sehari-hari yang  besar, biaya tempat tinggal di Jakarta rupanya dinilai mahal saat itu. Hal ini lah yang membuat Jamiati dan suami nekat membangun rumah semi permanen di bantaran Kali Item, Jakarta Barat. 


"Jadi saat itu saya kerja buruh di perusahaan dan suami sopir. Memang apa-apa semuanya mahal, hingga pada akhirnya saya dan suami tinggal di pinggir kali item," tutur Jamiati. 


Hampir 10 tahun lamanya, Jamiati dan keluarga kecilnya tinggal di bantaran kali. Namun karena adanya peraturan gubernur yang saat itu tidak memperbolehkan adanya bangunan di sepanjang pinggir kali, akhirnya bangunan milik Jamiati dibongkar.


"Waktu itu gubernurnya Pak Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) akhirnya dibongkar dan tidak lama kita sama warga lainnya (korban bongkaran) pindah di sini semua," ucapnya. 


Sama halnya saat tinggal di bantaran kali, Jamiati juga membangun rumah semipermanen dengan tembok yang terbuat dari papan kayu triplek. Alhasil, kawasan pemukiman kolong tol inipun terbangun.


Sejumlah deretan bangunan semipermanen berjejer dan jalan setapak menuju ke area pemukiman wargapun juga terbuat. Selama bertahun-tahun tinggal di bawah kolong tol, deru kendaraan berjalan di atas tol menjadi sebuah hal yang biasa didengar. 


"Mobil ngebut, suara klakson mobil saat macet juga sampai ledakan ban mobil besar atau kontainer jadi hal yang biasa disini. Bahkan kondisi becek saat hujan turun juga jadi hal biasa," ujarnya. 


Meskipun kawasan ini disebut kumuh dan juga berbahaya, namun Jamiati menuturkan jika selama ini tempat tinggalnya sangat nyaman. Bahkan menurutnya aman dari bentuk kriminalitas atau pun tindak kejahatan lainnya.


"Kriminal kalau di sini sih tidak ada, ya gimana kita menyikapinya saja dan saya gak takut karna selalu berhubungan baik dengan warga sekitar juga begitu juga sebaliknya. Saya lebih takut sama Tuhan," katanya. 


Jamiati yang sudah bertahun-tahun tinggal di kolong tol itu hanya bisa bersyukur dengan hidup yang dimilikinya. Meski tak bergelimang harta, dirinya tetap bersyukur masih bisa makan dan tinggal seadanya dalam kondisi kemiskinan.


Meskipun sudah terlanjur nyaman dengan kondisi tersebut, Jamiati menambahkan jika warga setempat juga sedikit gelisah. Apalagi adanya rencana pembangunan yang tentunya membuat warga harus bersiap-siap pindah.


"Ya, ada aja isu-isu di sini belom lama, katanya ada mau dibangun fly over seperti stadion tapi itu masih isu-isu belom turun surat juga," tuturnya. 


Meskipun sudah siap dengan segala resiko ke depannya, Jamiati berharap kepada pemerintah untuk membantu dirinya dan warga lainnya.


"Kalau seumpama (dikasih) rumah susun saya mau aja kalau itu lebih baik," katanya.


Jadi Tempat Lintasan Jambret


Hampir sama dengan Jamiati, penghuni kolong tol Jembatan Tiga Penjaringan, Jakarta Utara Alexander Rudi atau biasa disapa Acun mengaku lebih nyaman tinggal di bawah kolong tol dibanding tinggal di rumah tetapnya. 


Menurut Acun, dirinya mengaku nyaman dengan tidur di bawah kolong tol sejak 2001 lalu. Bahkan dengan kenyamanan yang didapat dirinya sudah lupa untuk balik ke rumah tetapnya yang tidak jauh dari lokasi kolong tol


"Sejak tol jadi udah di sini, sekitar 1996 tepatnya lima tahun setelah jadi tahun 2001. Saya lebih nyaman saja dan tidak pusing. Saya juga punya rumah di sebelah, saya pilih di sini karena saya dagang juga dan tinggal di sini," ucapnya.


Menurut Acun, meskipun situasi di wilayah tersebut aman. Namun hal ini belum aman dari tindakan kriminalitas. Menurutnya di bawah kolong tol jembatan tiga sudah beberapa kali pelaku kejahatan ditangkap.


"Paling kasus yang saya tahu dan sering ditangkap itu cuma narkoba sekitar empat kali di bawah kolong tol ini," kata Acun.


Tak hanya kasus narkoba saja, tempat tinggalnya juga kerap dilewati pelaku jambret. 


"Di sini juga sering melintas jambret, tapi dia bukan orang sini. Sudah sering dilihat lewat sini. Tapi sekarang udah gak ada karena Polisi Penjaringan sekarang sudah mulai intensif dan sekarang (Jambret) sudah jarang," tuturnya. 


Meskipun dahulu kerap terjadi aksi kriminalitas, namun Acun menuturkan warga kolong tol yang sebagian besar pendatang luar Jakarta dengan profesi pedagang diakuinya sangat kompak dan tertib aturan.  


"Kalau di sini warga kompak, kita sering gotong royong bersihkan sampah bahkan seperti siskamling kita di sini juga terjamin. RT dan RW kita juga ada, bahkan iuran sampah per bulan Rp10.000," tuturnya.(*)


ADSEN KIRI KANAN