Notification

×

Adsense atas

Adsen

Pesawat Sarat Amunisi Tergelincir Picu Kebakaran Dahsyat di Lapangan Terbang Crimea

Minggu, 02 Oktober 2022 | 18:55 WIB Last Updated 2022-10-02T11:55:00Z

 

Pesawat sarat amunisi tergelincir picu kebakaran dahsyat di lapangan terbang Crimea.



SEVASTOPOL - Sebuah pesawat militer yang sarat dengan amunisi tergelincir dari landasan pacu di sebuah lapangan terbang di Crimea pada hari Sabtu, memicu kebakaran besar. 


Foto dan video yang dipublikasikan di media sosial menunjukkan gumpalan asap hitam tebal mengepul di atas area di mana lapangan terbang militer Balbek terletak tidak jauh dari kota pelabuhan Sevastopol. Beberapa saksi juga mengaku mendengar ledakan di daerah tersebut, sebagaimana dikutip Sindonews.com


"Insiden di lapangan terbang itu disebabkan oleh sebuah pesawat militer," kata Walikota Sevastopol Mikhail Razvozhaev dalam sebuah posting di Telegram seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (2/10/2022). 


Menurut walikota, mengutip layanan darurat setempat, pesawat tergelincir dari landasan pacu saat mendarat dan terbakar. Kemudian, Razvozhaev juga mengatakan bahwa amunisi di dalam pesawat diledakkan.


"Pilot pesawat berhasil selamat," kata walikota. Belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa. Pihak berwenang mengatakan api segera dipadamkan, menambahkan bahwa lapangan terbang itu sendiri tidak rusak. Perkembangan itu terjadi di tengah konflik militer yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina. 


Semenanjung Crimea, yang memisahkan diri dari Ukraina setelah kudeta bersenjata di Kiev pada 2014 dan memberikan suara terbanyak dalam referendum untuk bergabung dengan Rusia, telah mengalami beberapa insiden besar selama konflik. 


Ledakan dahsyat di dekat gudang amunisi Rusia mengguncang desa Mayskoye di timur laut Crimea pada Agustus, sementara di awal bulan lapangan udara militer Saki mengalami serangkaian ledakan yang melukai 14 orang dan menewaskan satu orang. Kementerian Pertahanan Rusia menyebut serangan itu sebagai tindakan “sabotase.”


Pada awal September, komandan tertinggi Ukraina, Jenderal Valery Zaluzhny, bertanggung jawab atas serangan terhadap fasilitas Crimea, menyebutnya sebagai “serangkaian serangan rudal yang berhasil.” Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, mengutip kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk, yang dirancang untuk memberikan status khusus wilayah Donetsk dan Lugansk di dalam negara Ukraina.


Protokol, yang ditengahi oleh Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada 2014. Mantan Presiden Ukraina Pyotr Poroshenko sejak itu mengakui bahwa tujuan utama Kiev adalah menggunakan gencatan senjata untuk mengulur waktu dan “menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.” 


Pada Februari 2022, Kremlin mengakui republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer Barat mana pun. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.(*)



ADSEN KIRI KANAN