Notification

×

Adsense atas

Adsen

Ingin Kalibrasi Arah Kiblat, Kemenag Sumbar Imbau Masyarakat Lakukan Hal Ini

Selasa, 18 Oktober 2022 | 20:08 WIB Last Updated 2022-10-18T13:08:57Z


.
Padang, fajarharapan - Dalam rangka  menyempurnakan arah kiblat di tempat ibadah se Sumatera Barat, Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatra Barat turunkan tim kalibrasi arah kiblat ke KUA Revitalisasi se Sumatera Barat. 


Hari ini, Selasa (18/10) Tim yang berasal dari Bidang Urusan Agama Islam dibawah Koordinator Ikrar Abdi bersama Tim Teknis Ihsanul Fikri, Budi Riva dan Pertiwi Immawati mengunjungi KUA Kecamatan Nan Sabaris, Padang Pariaman dan KUA Pariaman Tengah Kota Pariaman. 


Dalam pembinaan dan bimtek ini, Kepala KUA Nan Sabaris, Yufni Faisol menghadirkan Penyuluh Agama Islam. Setelah diberikan pengetahuan teori, penyuluh langsung praktek tentang cara menentukan arah kiblat menggunakan kompas, android dan theodolit. 


Menurut Ihsan banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk mengukur arah kiblat, namun hal itu hanya bisa digunakan untuk kepentingan pribadi. Untuk pembangun mesjid yang cukup luas maka perlu menggunakan theodolit karena hasilnya berbeda jauh. 


"Salahsatu aplikasi yang bisa dilakukan untuk pengukuran arah kiblat dalam skala kecil adalah easyqibla. Aplikasi ini bisa membantu saat bepergian yang tidak menyediakan pentunjuk arah kiblat" ujarnya. 


Namun kata Ihsan, saat akan membangun sebuah rumah ibadah yang cakupannya luas maka perlu menggunakan alat profesional seperti theodolit. Karena tingkat ketelituannya cukup tinggi, 1 per 3600 derjat. 


"Ketika kita membangun mesjid atau musala sebaiknya menggunakan theodolit. Karena jika tidak, akan berpengaruh kepada pembangunannya. Hal ini juga berdampak kepada ibadah masyarakat secara umum," ulasnya. 


Namun diakui Ahli Hisab ini, kalibrasi (pengukuran) arah kiblat ini sifatnya pasif. Kementerian Agama tidak bisa jemput bola, harus ada permintaan dulu dari masyarakat. 


"Karena ketika Kemenag tiba-tiba melakukan pengukuran arah kiblat akan menimbulkan pertanyaan dari masyarakat. Dan akan menimbulkan pro dan kontra di masrayakat. Kenapa arah kiblatnya diukur," jelas lulusan Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol ini. 


Kemudian jika tidak punya aplikasi, kompas atau theodolit sambungnya masyarakat juga bisa melakukan kalibrasi arah kiblat secara mandiri melalui rasydul kiblat. 


"Peristiwa rasydul kiblat ini terjadi dua kali dalam setahun. 28 Mei jam 16.18 WIB dan 16 Juli jam 16.27 WIB. Masyarakat bisa melakukan kalibrasi menggunakan bayang-bayang. Hasilnya sama dengan theodolit," kata Ihsan menjelaskan. 


Sementara itu, Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais), Edison dihubungi terpisah mengatakan kalibrasi arah kiblat satu dari 

sepuluh layanan masyarakat yang mesti ada di KUA dan SDMnya harus tersedia. 


Dikatakan Kabid Uras, mengingat salat sebagai Ibadah mahdhah dan fardhu a'in bagi setiap individu, maka sangat perlu dikaji sarat dan rukunnya, supaya salat itu sah dan diterima Allah SWT. 


"Supaya tidak menimbulkan pro dan kontra di tengah jemaah mesjid dan masyarakat,  sebelum arah kiblat diukur ulang, atau pembangunan mesjid baru ada baiknya dimusyawarahkan terlebih dahulu," ungkapnya. 


Setelah sepakat sambung Kabid Urais, pengurus mesjid atau masyarakat bisa mengirimkan surat permohonan pengukuran arah kiblat ke KUA,  Kankemenag Kabupaten/Kota atau lansung ke Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Barat, pungkas Kabid. 


( Hms Kemenag Prov Sumbar RinaRisna )


ADSEN KIRI KANAN