Notification

×

Adsense atas

Adsen

Keberimbangan Berita, Krusial Bagi Jurnalis dan Publik

Rabu, 21 September 2022 | 20:44 WIB Last Updated 2022-09-21T13:44:36Z

Oleh: Farin Alfarizi Hasbi

(Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unand)


Kini kita hidup di era yang teknologi informasinya sangat berkembang pesat. Bisa dilihat semuanya menjadi serba mudah dan cepat. Tidak hanya mie instan yang gampang dibuat, namun berita pun mudah didapat.


 Berkembangnya media informasi juga sudah tampak dari adanya berbagai media siber, elektronik atau online yang bermunculan. 


Kecepatan pun menjadi suatu keunggulan di media yang hadir tersebut. Ini tidak hanya bisa menjadi anugerah tapi juga masalah. Sebab, kecepatan tidaklah segalanya. 


Keakuratan dan keberimbangan berita dapat menjadi terancam jika kecepatan yang hanya diutamakan. 


Sebagai contoh pada tahun 2013 hadir kasus antara Ustadz Solmed dengan komunitas pengajian TKI Hong Kong, Thoriqul Jannah. Diberitakan bahwasanya Ustad Solmed meminta kenaikan tarif ceramah, meminta mobil penjemputan pribadi, hotel berbintang, meminta bagian hasil penjualan tiket dan membatalkan secara sepihak jadwal ceramahnya di Hong Kong.


Berita tersebut tetap terbit dengan tidak ada sudut pandang, baik itu sanggahan atau klarifikasi dari Ustad Solmed. Kecepatan bisa jadi salah satu alasan hingga membuat berita tersebut tetap naik walau mengabaikan prinsip cover both side (berimbang dari dua sudut sisi).  


Berita ini memenuhi prinsip cover both side setelah ada berita dari sudut pandang Ustad Solmed.


Ini tentu tidak sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) Pasal 3 yang berbunyi : “Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.” 


Media online seperti ini hanya mementingkan aktualitas dan kecepatan daripada keberimbangan dari berita yang dibuat. Seharusnya jurnalis ataupun wartawan mampu mengecek kembali informasi yang didapat dan menjadikan beritanya berimbang dengan mencari narasumber atau menunggu informasi lain datang.

  

Juga contoh lainnya di media elektronik ialah saat pemilu 2014, media televisi swasta Indonesia malah gencar dalam berpihak ke salah satu calon presiden dikarenakan pemilik dari media tersebut tergabung ke dalam partai politik hingga memiliki kecendrungan dalam menayangkan berita dari salah satu calon presiden yang didukung partai politiknya. 


Ini membuat media tidak lagi menyampaikan berita sesuai kepentingan publik dan bahkan telah mendukung kalangan tertentu. Dengan begitu, penyebab tidak berimbangnya berita dalam kasus pemilu ini ialah kecenderungan media untuk menayangkan liputannya hanya dari satu sisi pada berita yang didalamnya terdapat penilaian terhadap subjek berita.


Pun isu di skala internasional pada tahun 2015, Indonesia mendapatkan kritikan dari duta besar Rusia karena tidak memberitakan dengan berimbang konflik antara Rusia-Ukraina. Hal ini lantaran diduga karena Indonesia mengacu pada media Barat.


Ini menandakan dalam satu dekade terakhir, jurnalis ataupun wartawan Indonesia masih belum berimbang dalam menyampaikan berita. Terkadang, walau sudah memiliki dua sisi atau sudut pandang yang dimuat dalam beritanya, namun masih belum imbang atau balance porsi diantara dua sisi yang sedang berseteru. Karena kutipan atau pernyataan masih belum sebanding, maka belum berimbang pula berita yang ada.


Selain Kode Etik Jurnalistik (KEJ) pasal 3, dalam pasal 1-nya juga menyatakan bahwa “Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang dan tidak beritikad buruk.“


Kode Etik Jurnalistik (KEJ) pada dasarnya memang berguna untuk menjadi pegangan dari para jurnalis agar keprofesionalitasan dalam bekerja seperti mengedepankan independensi dalam menyajikan berita tetap terjaga, berimbang serta tak terpengaruh oleh berbagai pihak manapun. Namun, apabila ketaatan KEJ kian luntur, begitupula dengan kredibilitas perusahaan pers.


Proporsional dari sebuah berita dan tidak menghakimi adalah berita yang diharapkan juga sesuai dengan KEJ dan khalayak agar informasi bisa diterima dengan harapan menambah wawasan, mengedukasi serta membuka pikiran masyarakat Indonesia. Lantas bagaimana dengan masyarakat Indonesia yang latah dan mudah tergiring opininya tanpa memilah atau menyortir informasi yang diterima? Sangat berbahaya bukan?


Memang menjadi jurnalis tidaklah mudah, tantangannya pada masa lalu dan kini pun jauh berbeda. Dulu mendapatkan informasi dan mengolahnya hari ini bisa keesokan harinya baru di cetak atau terbit, sedangkan masa kini bisa dengan cepat diupload di media online dengan mudahnya tanpa harus lama menunggu. 


Baiknya jurnalis masa kini mampu menulis tidak hanya cepat tapi juga tepat. Karena keakuratan serta keberimbangan dari sebuah berita itu penting demi publik mendapatkan informasi yang sesuai serta netral dan jurnalis bekerja sesuai kode etiknya hingga kredibilitas di pers tetap terjaga.(*)


ADSEN KIRI KANAN