Notification

×

Adsense atas

Adsen

Kasus Perdagangan Anak di Bogor Terungkap Lewat Medsos

Jumat, 30 September 2022 | 08:25 WIB Last Updated 2022-09-30T01:25:00Z

 

Ilustrasi


BOGOR  - Warga Bogor dikejutkan dengan pengungkapan kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Pelaku, SH, diketahui menjual bayi untuk diadopsi dari ibu-ibu hamil yang ditampung dalam rumahnya di Ciseeng, Kabupaten Bogor.


KBO Reskrim Polres Bogor Iptu Hafiz Akbar menceritakan awal mula pengungkapan kasus tersebut. Awalnya, beredar di media sosial yang dilakukan oleh SH dengan mengaku sebagai Ayah Sejuta Anak.


Dalam kontennya itu, SH seolah bergerak di bidang sosial sejak awal 2022 dengan menawarkan para ibu hamil yang tidak memiliki ayah atau lainnya untuk melahirkan anak di tempatnya. Dengan iming-iming akan merawat sang anak hingga akan disekolahkan.


"Kronologi awal kasus tersangka sudah beroperasi dari 2022. Caranya dengan mengupload konten di IG dan Tiktok 'Ayah Sejuta Anak'," kata Hafiz ditemui MNC Portal di Polres Bogor, Kamis (29/9/2022).


Dari konten tersebut, terdapat ibu hamil yang tertarik dengan tawaran SH sehingga menghubungi pelaku untuk bisa melahirkan di tempat penampungan.


"Jika ibu hamil ini tertarik, maka mereka akan menghubungi tersangka melalui nomor yang sudah tersedia dalam bio kedua kanal tersebut. Setelah dihubungi, kedua ibu tersebut akan dijemput oleh tersangka dan dibawa ke rumahnya ini di Ciseeng. Ini rumah 2 lantai digunakan sebagai penampungan sampai ibu tersebut melahirkan," ujarnya.


Berangkat dari situ, Polres Bogor bersama Dinas Sosial Kabupaten Bogor mendatangi rumah SH untuk memastikan legalitas proses adopsi anak di wilayah Kecamatan Ciseeng. Ditambah, terdapat informasi dari warga sekitar yang melihat banyak ibu hamil, sebagaimana juga dikutip iNews.id.


"Setelah ibu itu melahirkan, ternyata ada satu yang anaknya ibaratanya diadopsi oleh orang tua lain dan tentunya adopsinya tidak sesuai dengan peraturan pemerintah yang berlaku tentang tata cara pengangkatan anak," katanya.


Hafiz menjelaskan sebenarnya nama yayasan yang digunakan oleh pelaku merupakan milik temannya di wilayah Tangerang. Tetapi, yang diperbuat SH tidak ada sangkutannya dengan yayasan tersebut.


"Dia hanya kedok punya yayasan. Tapi yayasan sebenarnya itu ada di Tangerang, nama yang dia gunakan. Namun untuk rumah yang digunakan sebagai menampung ini tidak ada sangkut-pautnya dengan yayasan itu," tuturnya.


Kemudian, polisi bergerak dengan memeriksa para saksi dan juga meminta peninjauan dari Dinas Sosial. Hasilnya, polisi menetapkan SH sebagai tersangka kasus dugaan TPPO dan dilakukan penggeledahan.


"Saat penggeledehan, terdapat 5 wanita dan juga 5 anak. Namun dalam penelusuran kami, ternyata sudah ada 5 ibu yang melahirkan terlebih dahulu. Jadi rumahnya itu rumah 2 lantai, ibu-ibu ini ditampung," katanya.


Dia menyebut mayoritas ibu hamil tidak memiliki suami. Pelaku hanya sebatas menampung mereka dan memberi uang untuk kebutuhan sehari-hari. 


"Jadi tidak ada kegiatan pengasuhan dari tersangka. Keterangan tersangka itu biaya dari dia pribadi," tuturnya.


Lima ibu hamil tersebut sedang ditampung oleh SH menunggu persalinan. Sedangkan, 5 anak merupakan titipan atau buah hati dari ibu-ibu lain yang sebelumnya sudah melahirkan di tempat pelaku.


Selama beroperasi, baru satu anak yang akan diadopsi oleh orang tua asuh dari pelaku dengan bayaran Rp15 juta. Uang tersebut diminta oleh pelaku dengan dalih mengganti biaya persalinan sesar.


"Iya (baru satu anak) karena baru beroperasi dari awal 2022. Sehingga, satu (anak) ini kemudian sudah melanggar pasal yang kami sangkakan," katanya.


Motif dari perbuatan pelaku masih terkait ekonomi. Polisi pun belum menerima keterangan atau laporan terkait adanya pelecehan seksual terhadap ibu hamil yang ditampung atau indikasi praktik aborsi.


"Motifnya ekonomi, belum ada yang lain. Belum ada (laporan) pelecehan seksual. Mereka (ibu-ibu hamil) juga belum ada masalah pelecehan seksual," tuturnya.(*)



ADSEN KIRI KANAN