Notification

×

Adsense atas

Adsen

Ekonomi China Melemah, Harga Karet Terjun Bebas

Jumat, 02 September 2022 | 16:40 WIB Last Updated 2022-09-02T09:40:19Z

 

Sebagian petani sudah mulai meninggalkan karet karena harganya tidak menarik.



MEDAN - Harga karet di pasar komoditas terjun bebas ke 133,3 cent AS per kilogram dipicu pelemahan ekonomi China. Kondisi itu, membuat para eksportir harus merugi karena harga jual lebih rendah dibandingkan biaya produksi mereka. 


Sekretaris Eksekutif pada Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatera Utara, Edy Irwansyah, mengatakan sejak awal Januari hingga akhir Agustus 2022 harga karet cenderung menurun,sebagaimana dikutip iNews.id.  


Pada 3 Januari harga karet TSR20 di Bursa Berjangka Singapura (SGX) tercatat 175,1 cent AS per kg. Harga karet tersebut cenderung turun hingga pada 9 Mei 2022 tercatat sebesar 155,8 cent AS per kilogram. Per 1 September 2022, harga karet TSR20 tercatat sebesar 133,3 cent AS per kilogram.  


"Tingkatan harga saat ini sudah pada posisi rugi, tergantung jenis produsennnya. Bila produsennya adalah rakyat maka harga pokok produksinya 2-2,5 USD per kilogram, tergantung besar kecilnya kepemilikan kebun. Sedangkan produsen dari perusahaan perkebunan  1,1-1,6 USD, tergantung besar kecilnya luas lahan kebun," kata Edy, Jumat (2/9/2022).  


Dia menjelaskan, penurunan harga karet dipicu potensi kenaikan lebih lanjut suku bunga dan ekonomi China yang melemah seiring kekhawatiran akan resesi global.  Faktor pelemahan ekonomi China cukup dominan mengingat negara ini adalah konsumen karet nomor satu dunia. Tiga besar konsumen utama karet dunia secara berurutan pada tahun 2021 adalah China (41,2 persen), India (8,7 persen), USA (6,7 persen).  


"Saat ini, buyer tertentu telah mengurangi dan ada yang berhenti sementara pembelian dari Sumatera Utara," ungkap Edy.  Pabrik pengolahan karet di Sumatera Utara saat ini mengalamai tekanan yang semakin berat, penurunan harga terus tak terbendung dan sementara bahan baku juga semakin berkurang karena sebagian petani karet beralih ke pekerjaan lain yang dianggap lebih menguntungkan.  


"Selama Periode 2019-2022 ada 3 pabrik karet tutup dan 2 pabrik karet berhenti sementara," ujar Edy.  Secara internasional, lanjutnya, ITRC (International Tripartite Rubber Council) sebagai stabilisator harga karet alam diharapkan dapat mengambil langkah-langkah untuk menahan penurunan harga karet.  "Dalam negeri, semoga pemerintah pusat memperhatikan petani karet," tutur Edy. (*)



ADSEN KIRI KANAN