Notification

×

Adsense atas

Adsen

Guru Harus Memiliki Literasi Assesment Sebagai Antisipasi Praktek Penggelembungan Nilai Siswa

Selasa, 05 Juli 2022 | 11:14 WIB Last Updated 2022-07-05T04:14:21Z

Oleh : Dr.Muhyiatul Fadilah, S.Si, M.Pd, Pemerhati Pendidikan/Dosen Universitas Negeri Padang


Mencuatnya kasus penggelembungan nilai pada salah satu SMP di Kota Padang, menjadi isu besar di tengah-tengah antusiasme para orang tua yang anaknya sedang mengikuti sistem seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB).


Sebagaimana dilansir dari berbagai media cetak maupun online, bahwa kolah tersebut telah melakukan “mark up” nilai atau menambahkan skor diluar dari skor hasil kemampuan siswa yang sesungguhnya. Tentu, agar siswa binaan mereka mampu masuk di sekolah yang diinginkan. Sejatinya, ini merupakan wujud ketidak pahaman dan ketidak patuhan terhadap azas-azas penilaian pembelajaran.


Dalam Bahasa yang lebih tegas, penggelembungan nilai merupakan bukti illiterateness (kebutaan wawasan). Sehingga menyebabkan mal praktek dalam sector pendidikan. 


Dalam ilmu ekonomi, mark up merupakan suatu strategi untuk menaikan nilai dari suatu barang, agar dapat diterima oleh konsumen. Praktek Mark up tidak bisa diterapkan untuk mengubah nilai hasil belajar siswa. 


Karena, perolehan nilai harus melalui serangkaian prinsip assessment pembelajaran dan mencakup berbagai aspek atau ranah kompetensi, serta mempertimbangkan hak-hak kemanusiaan


Dalam kajian pedagogic, assessment merupakan proses penilaian yang berkesinambungan dan mencakup berbagai aspek yang dapat dinilai pada diri siswa. Ada 3 aspek hasil belajar yang dapat dinilai, aspek kecerdasan (kognitif), aspek sikap (afektif) dan aspek kemampuan melakukan sesuatu/keterampilan (psikomotor). 


Penilaian kecerdasan intelektual (ranah kognitif) dilakukan melalui uji pengetahuan yang telah diatur dalam bentuk Penilaian Harian (PH), Penilaian Tengah Semester (PTS) dan Penilaian Akhir Semester (PAS).


Penilaian kognitif memang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Namun, bukanlah satu-satunya penilaian yang menentukan kepintaran, keberhasilan, dan prestasi yang dapat dibanggakan siswa.


Dalam prakteknya, sistem seleksi masuk instansi pendidikan menjebak guru, menempatkan guru pada situasi dilematis. Sehingga guru, siswa, dan orang tua memiliki mind set, nilai tinggi adalah segala-galanya.


Kekeliruan mind set demikian, harus diperbaiki dengan mengingat kembali, bahwa ada dua ranah penilaian kompetensi yang dapat diukur untuk menggali kemampuan siswa secara komprehensif. 


Penilaian sikap, mencakup kemampuan siswa menunjukkan sikap seperti teliti, jujur, objektif, bersyukur, tanggung jawab, kerjasama, dan lain-lain. Kesemuanya telah dicantumkan secara jelas dalam Kompetensi Inti pada kurikulum satuan pendidikan.


Guru seharusnya, juga memberikan skor terhadap perilaku keseharian siswa selama belajar di sekolah. Dalam hal ini, berbagai instrument penilaian sikap yang telah banyak dicontohkan dalam pelatihan, workshop dan seminar kependidikan. Penilaian sikap siswa memang tidak mudah, namun bisa dilakukan melalui kinerja-kinerja siswa dalam pembelajaran.


Sebagai contoh, guru dapat menilai ketelitian siswa dalam mengerjakan hitungan matematika, mengumpulkan informasi tentang jumlah penduduk suatu daerah. Juga, menentukan apakah sebuah jual beli memperoleh untung atau rugi. Penilaian sikap sebagaimana yang dicontohkan itu, dapat dilakukan guru saat siswa belajar, saat siswa berkomunikasi, saat siswa berinteraksi. 


Sejalan dengan penilaian sikap, guru juga dapat menilai terampil atau tidaknya siswa melakukan sesuatu. Apakah menilai keterampilan hanya dapat dilakukan pada pembelajaran olah raga, seni, atau prakarya ...? Tidak, setiap mata pelajaran memiliki aspek tuntutan keterampilan sesuai dengan yang ditentukan dalam rumusan Kompetensi Dasar Keterampilan, yang dikode dengan nomor KD. 4. 


Keterampilan siswa dalam mata pelajaran IPA umpamanya, terlihat jelas melalui terampil menggunakan mikroskop. Sedangkan dalam mata pelajaran Sejarah, keterampilan siswa juga dapat diukur melalui kemampuan mempromosikan situs-situs budaya dan sejarah di daerah tinggalnya melalui tugas membuat leaflet. 


Apalagi, adanya dukungan teknologi informasi dan perkembangan perangkat digital yang affordable (dapat dijangkau harganya). Juga, siswa generasi milenial sangat terampil merancang konten dengan teknik komunikasi dan mempromosikan diri. 


Sehingga, dalam penilaian itu terhadap 3 aspek yang merupakan penilaian. Itupun sesuai dengan 3 prinsip assessment dalam pembelajaran. Yaitu assessment as learning, assessment for learning, dan assessment of learning. 


Assesmen as learning adalah proses menilai kompetensi siswa yang dapat dilakukan sepanjang pelaksanaan pembelajaran. Dimana cara penilaian tersebut menjadikan siswa mampu merefleksi dan memantau serta mempelajari sendiri kemajuan mereka dalam belajar.


Dalam prakteknya, guru dapat meminta seorang siswa menilai kemampuan siswa lainnya. Sehingga setiap siswa saling mendapat informasi atas keunggulan dan kelemahan yang telah dicapainya selama belajar topik tertentu. Sedangkan, Assesmen as learning juga dapat dilakukan melalui tugas membuat diary, atau refleksi diri. 


Prinsip penilaian kedua adalah assessment for learning, terjadi ketika guru menggunakan kesimpulan tentang kemajuan siswa untuk menginformasikan pengajaran mereka. Dalam prakteknya, guru boleh merubah rencana kurikulum, namun tidak merubah nilai. 


Cara lain assessment for learning adalah  melakukan Scaffolding, yaitu membimbing siswa secara bertahap saat siswa menunjukkan miskonsepsi (salah konsep), guru dan siswa dapat melakukan sharing kriteria keberhasilan belajar. Dalam hal ini, para siswa harus memahami apa yang dinilai dan upaya serta dapat dilakukan. 


Prinsip penilaian yang ketiga adalah assessment of learning, terjadi ketika guru menggunakan bukti belajar siswa untuk membuat penilaian terhadap prestasi belajar siswa terhadap tujuan dan standar keberhasilan pembelajaran. Terutama dalam hal ini Kentuntasan Kriteria Minimal (KKM). 


Dalam prakteknya, guru dapat melakukan tes di akhir pembelajaran, presentasi lisan dalam pembelajaran atau presentasi dalam melakukan suatu projek. Pertanyaannya, sudahkah semua guru literate terhadap asesmen pembelajaran ... ? 


Literasi bermakna memiliki wawasan tentang suatu hal, dan mampu menggunakan wawasan itu agar dapat memecahkan permasalahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. 


Dalam kasus ini, guru ber-literasi asesmen itu guru yang memiliki wawasan pengetahuan penilaian kompetensi siswa dengan benar dan ilmiah. Juga mampu mengaplikasikannya untuk menyelesaikan masalah asesmen dalam pembelajaran. 


Jadi, Literasi Assesment harus dibangun segera mungkin. Karena, indicator keberhasilan siswa dalam Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) semakin kompleks, untuk membentuk siswa cerdas dan memiliki Profil Pelajar Pancasila.


Otomatis, penilaian harus menumbuhkan nilai-nilai baik untuk pembentukkan karakter siswa. Artinya, bukan proses penilaian yang melegalkan kecurangan.








ADSEN KIRI KANAN