Notification

×

Adsense atas

Adsen

Bupati Kotim; "Jangan Ada Lagi Kekerasan terhadap Anak"

Jumat, 22 Juli 2022 | 22:00 WIB Last Updated 2022-07-26T05:26:01Z

Bupati saat memperingati HAN 2022 di Kotim, Jumat (22/7/2022). (ist)


Sampit, fajarharapan.id - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), H. Halikinnor menegaskan, jangan ada lagi kekerasan terhadap anak. Sebab anak adalah aset sangat berharga.


Hal itu dikatakannnya, saat memperingati hari anak nasional tahun 2022 yang dilaksanakan di Atrium Citimall di Jalan Jenderal Soedirman Sampit, Jumat (22/7/2022).


Menurut bupati, anak merupakan aset sangat berharga  dalam sebuah bangsa. Kekerasan terhadap anak tersebut sama seja dengan melanggar aturan yang telah ditetapkan pemerintah.


Karenanya, untuk mewujudkan hal itu dijelaskannya perlu adanya dukungan seluruh pihak tidak hanya dari institusi pemerintahan tapi juga seluruh masyarakat untuk saling mengingatkan akan hal tersebut.


“Perlu diketahui anak itu aset berharga, jangan sampai ada anak kita yang mengalami kekerasan apalagi sampai menimbulkan kecatatan secara fisik atau trauma yang dapat memengaruhi anak saat dewasa,” katanya kepada wartawan, Jumat (22/7/2022).


Anak adalah titipan dari Allah SWT sehingga harus dilindungi dan dijaga dengan baik serta penuhi semua kebutuhannya agar tetap dapat tumbuh dengan baik dan berkualitas


Bupati meminta jangan adalagi kekerasan terhadap anak karena beberapa waktu lalu menemukan kasus seorang ibu yang membuang anaknya, karena tidak ada biaya untuk membesarkannya. "Saya minta ke depan jangan ada lagi seperti itu," ujarnya.


Bupati menegaskan, pihaknya siap membantu anak-anak sejak dalam kandungan hingga melahirkan sehingga nantinya bila tidak ada biaya akan jadi tanggungan negara. "Anak punya hak untuk hidup dan kita wajib membesarkan dan mendidikanya," ujarnya.


Sebagaimana diketahui, negara telah melindungi anak-anak melalui undang-undang. Undang-undang yang terakhir adalah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

         

Menurut Undang-Undang tersebut, pelaku kekerasan terhadap anak bila menyebabkan meninggal dunia akan mendapat hukuman berat mulai dari penjara seumur hidup, kebiri, hingga pemasangan chip di tubuhnya.(ib/audy)


ADSEN KIRI KANAN