Notification

×

Adsense atas

Adsen

Banjir Makin Parah, 50.000 Orang di Sydney Diperintahkan Mengungsi

Selasa, 05 Juli 2022 | 12:40 WIB Last Updated 2022-07-05T05:40:53Z

 

foto.



SYDNEY - Sekira 50.000 orang telah didesak untuk mengungsi dari rumah mereka saat banjir melanda Sydney, kota terbesar Australia untuk ketiga kalinya tahun ini.


Beberapa bagian Sydney telah diguyur curah hujan setara delapan bulan hanya dalam empat hari. Jalan telah terputus, beberapa rumah terendam air dan ribuan orang dibiarkan tanpa listrik.


Banjir yang meluas di seluruh Australia - didorong oleh pola cuaca La Niña - telah menewaskan lebih dari 20 orang tahun ini, banyak di antaranya di New South Wales (NSW), sebagaimana dikutip Okezone.com.


Lebih dari 100 perintah evakuasi telah dikeluarkan di seluruh Greater Sydney untuk keadaan darurat saat ini.


Orang-orang di 50 daerah lain telah diperingatkan untuk bersiap pergi, karena beberapa sungai besar membanjiri. Cuaca buruk juga melanda wilayah Hunter dan Illawarra di dekatnya.


Beberapa wilayah NSW telah mengalami hujan 800 mm dalam empat hari, kata Biro Meteorologi, hampir sepertiga lebih banyak dari curah hujan rata-rata yang diterima London Raya dalam setahun.


Hujan diperkirakan akan mulai mereda di Sydney pada Selasa (5/7/2022), tetapi angin kencang juga diperkirakan, membawa risiko pohon tumbang dan kabel listrik.


"Darurat masih jauh dari selesai," kata Menteri Layanan Darurat NSW Stephanie Cooke sebagaimana dilansir BBC.


Pihak berwenang mendesak penduduk setempat untuk mengindahkan peringatan evakuasi, setelah penyelamat dipanggil untuk menyelamatkan orang-orang yang diperintahkan untuk pergi dua hari sebelumnya.


"Pada akhirnya jika Anda tetap tinggal, Anda menempatkan hidup Anda dalam risiko," kata Perdana Menteri NSW Dominic Perrottet.


Bagi banyak penduduk setempat, ini adalah banjir ketiga mereka tahun ini.



"Sekarang sudah tiga pada tahun 2022," katanya kepada Australian Broadcasting Corporation.


"Kami telah menjadi ahli di bidang ini sekarang ... Anda hampir hidup di ujung tanduk."


Para ahli mengatakan keadaan darurat banjir telah diperburuk oleh perubahan iklim dan fenomena cuaca La Niña. La Niña berkembang ketika angin kencang meniup permukaan air hangat Pasifik menjauh dari Amerika Selatan dan menuju Indonesia. Sebagai gantinya, air yang lebih dingin muncul ke permukaan.


Di Australia, La Niña meningkatkan kemungkinan hujan, angin topan, dan suhu siang hari yang lebih dingin.(*)


ADSEN KIRI KANAN