Notification

×

Adsense atas

Adsen

Tradisi laki-laki Pariaman dengan istilah Bajapuik

Minggu, 19 Juni 2022 | 08:03 WIB Last Updated 2022-06-19T01:03:56Z

 

ilustrasi

Oleh : Tessa Rahma Putri 

(Mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Minangkabau, Unand)


 

Sumatera Barat sangat dikenal mempunyai kentalnya kebudayaan yang sangat tinggi. Sama hal dengan di Pariaman adanya suatu hal yang unik dan selalu jadi pertanyaan bagi semua orang. 


Tradisi ini sering disebut dengan "Bajapuik" seorang perempuan membeli laki-laki dengan keputusan yang telah ditentukan oleh niniak mamak dari pihak laki-lakinya, dengan kesepakatan bersama dan telah di bahas dengan rinci oleh niniak mamak pihak laki-laki. 


Tradisi bajapuik dipandang sebagai kewajiban dalam pihak perempuan memberi sejumlah uang yang telah disepakati oleh niniak mamaknya. Bajapuik ini mempunyai tradisi menghargai keluarga pihak laki-laki yang telah melahirkan dan mengurus hingga membesarkan ke pendidikan yang ia gapai. 


Ketika ada anak atau keluarga yang beranggota laki-laki mereka akan menikah dan akan meninggalkan rumah untuk menjadi kepala keluarganya mereka sebagai orang tua tidak merasa kehilangan karna seorang anak laki-laki adalah tiang harapan dari keluarga nya. Ketika ia menikah ia menjadi tiang harapan keluarga perempuan yang ia nikahi sebab itulah bahwa laki-laki pariaman mempunyai ke istimewaan nya tersendiri dengan adanya tradisi bajapuik ini. 


Dimana laki-laki pariaman sangat di junjung tinggi untuk menggunakan tradisi ini. Dan niniak mamak dari pihak laki-laki juga mempunyai tanggungan besar terhadap keponakan yang akan di nikahinya. Sebab itu lah menikah dengan laki-laki pariaman sangat banyak mempunyai peraturan yang telah ditentukan oleh niniak mamaknya. 


Bila ada orang Pariaman yang anak gadisnya telah siap menikah, maka orang tuanya akan mulai mencari jodoh untuk anak mereka. Saat mereka menemukan laki-laki yang dirasa cocok, maka keluarga perempuan akan mengunjungi keluarga laki-laki tersebut, dinamakan marantak tanggo (menginjak tangga).


Acara ini sebagai tahap awal bagi seorang wanita mengenal calon suaminya. Bila dirasa cocok, maka keluarga kedua belah pihak akan berunding dan melaksanakan acara mamendekkan hetongan, yaitu keluarga perempuan akan bertandang kembali ke rumah calon mempelai laki-laki (marapulai) dan bermusyawarah. Dan niniak mamak pun akan menjalankan hak nya sebagai petingi-petingi di keluarganya. Dari pihak laki-laki akan membahas tentang uang bajapuik tadi yang telah di bahas sebelumnya kedatangan keluarga perempuan beserta niniak mamak nya. 


Dalam hal ini lah akan terjadi nya tradisi bajapuik yang akan dilakukan oleh pihak perempuan. Pihak perempuan menyiapkan apa yang telah ditentukan oleh keluarga dan niniak mamak dari pihak laki-laki. Jika pihak laki-laki merupakan keturunan bangsawan dan mempunyai gelar makan nilai uang japuiknya akan tinggi pula yang telah di tentukan oleh niniak mamak sebelumnya. 


Sebab sekarang nilai uang japuik ditentukan oleh tingkat pendidikan mana yang ia tempuh, pekerjaan yang yang ia jalani dan jabatan apa yang ia sedang dapatkan. Semakin tinggi nilai uang japuik laki-laki yang diberikan menunjukan semakin tinggi status sosial calon marapalui yang dilakukan sebelumnya.


Setelah uang japuik diberikan, acara dilanjutkan dengan acara alek randam (persiapan) dan malam bainai. Setelah semua persiapan selesai, maka pada hari yang telah ditentukan maka keluarga anak daro yang terdiri dari mamak, ayah, kakak laki-laki akan menjemput pengantin laki-laki (marapulai) di rumahnya membawa pakaian pengantin serta persyaratan termasuk uang japuik yang telah ditentukan oleh niniak mamak tadi. Dan disanalah akan dibahas dan inti pembahasannya. 


Sampai di rumah marapulai, telah menunggu keluarga marapulai, maka mamak anak daro akan membuka percakapan dan diakhiri dengan membawa marapulai, sedangkan uang japuik akan diserahkan kepada ibu marapulai. Marapulai pun dibawa ke tempat akad nikah. Setelah menikah, acara dilanjutkan dengan pesta perkawinan (baralek). 


Lalu dilanjutkan acara setelah perkawinan, setelah kedua pengantin bersanding di rumah anak daro, maka dengan berpakaian adat lengkap dan diiringi dengan kerabat, membawa makanan adat, mereka mengunjungi rumah mertua (mintuo) anak daro, acara ini disebut manjalang mintuo. Untuk sebagai tanda nya kita udah memasuki keluarga besarny. Pertanda sebagai menjalani tali silahtturami kekeluargaan. 


Dan bisa lebih samasama lebih mengenal. Pada acara ini lah uang japuik akan dikembalikan dalam bentuk perhiasan kepada anak daro yang teradang jumlahnya dilebihkan oleh ibu marapulai. 


Sanksi dan makna "Bajapuik" Bila ada perkawinan yang tak menyertakan uang japuik, maka akan dikenai sanksi, terutama sanksi moral. Keluarga tersebut tentunya akan mendapat cemooh dari sanak keluarga dan teman-temannya, terutama dari mamaknya. Lalu keduanya mungkin bisa tidak jadi menikah, kemudian dicap tidak beradat dan akhirnya diusir dari kampungnya karena dianggap tidak menghargai ninik mamak.  


Tradisi bajapuik ini sangat di tegakan tinggi oleh masyarakat pariaman dan niniak mamak pariaman. Karna adanya tradisi inilah pertanda kebudayan minang yang sangat di junjung tinggi dan masih dilakukan dengan baik sesuai peraturan dan syarat tertentu dengan norma-norma yang telah di terapkan dan dijalani dengan baik untuk tanda kebersamaan tradisi bajapuik ini masih dilakukan hingga saat ini untuk menjaga kebudayan dan melestarikan kebudayaan dengan baik.


Marapulaii juga mendapatkan gelar yang telah ditentukan dari keluarga dan niniak mamak yang ditentukannya. Dan kerabat keluarga perempuan lah akan memangil calon marapulai dengan sebutan gelar yang telah diberikan oleh keluarga dan kesepakatan niniak mamak marapulai. 


Tujuan bergelarnya marapulai untuk menjunjung tingginya adat dan pertanda calon marapulai mempunyai keluraga yang bangsawan dan mempunyai adat yang sangat tinggi. Dan juga untuk menghargai panggilan di rumah calon mempelai wanita tersebut. Bergelar ini juga mempunyai arti penting dalam rumah tangga yang akan di jalani setelah pernikahan nantiknya. (***)


ADSEN KIRI KANAN