Notification

×

Adsense atas

Adsen

Pesawat Pengintai Australia Dicegat Jet Tempur China, Ketegangan Semakin Meningkat

Selasa, 07 Juni 2022 | 12:43 WIB Last Updated 2022-06-07T05:43:00Z

 

Pesawat tempur China mencegat pesawat pengintai Angkatan Udara Australia pada 26 Mei lalu.



AUSTRALIA - Pejabat-pejabat pertahanan Australia mengatakan bahwa pesawat pengintai Angkatan Udara Australia dicegat pesawat tempur China di wilayah Laut China Selatan pada Mei lalu. Insiden itu kembali memicu ketegangan lama antara kedua negara.


Para pejabat Australia mengatakan pencegatan pesawat pengintai maritim mereka oleh jet tempur J-16 China pada 26 Me lalui adalah "manuver berbahaya" yang mengancam keselamatan awaknya.


Pesawat Angkatan Udara Australia itu sedang dalam misi rutin. Diduga, jet China itu melepaskan "sekam" - piranti antiradar yang mencakup sejumlah kecil aluminium yang masuk ke mesin pesawat Australia,sebagaimana dikutip okezone.com.


Insiden itu mengobarkan kembali ketegangan lama antara kedua negara. Australia dan sekutunya yang sebelumnya bersikeras bahwa klaim China atas pulau-pulau yang diperebutkan di Laut Cina Selatan tidak sesuai dengan hukum internasional.


Menteri Pertahanan Richard Marles mengatakan Australia tidak akan takut dan mundur. “Insiden ini tidak akan menghalangi Australia untuk terus terlibat dalam kegiatan ini, yang merupakan hak kami berdasar hukum internasional untuk memastikan bahwa ada kebebasan navigasi di Laut China Selatan,” tegasnya.


Hubungan bilateral antara Australia dan China telah memburuk karena berbagai perselisihan geopolitik. Tuduhan bahwa China campur tangan dalam urusan dalam negeri Australia dan melakukan spionase dunia maya telah dibantah Beijing yang menilai tuduhan-tuduhan itu sebagai "histeria antiChina."


Baru-baru ini, ketegangan muncul atas ambisi China di Pasifik Selatan, wilayah yang dianggap Australia sebagai lingkup pengaruhnya.


China selama ini berusaha mencapai pakta perdagangan dan keamanan yang luas dengan negara-negara kepulauan di Pasifik. Namun, para pemimpin wilayah menolak proposal itu, dengan alasan tidak ada waktu untuk diskusi.


Kendati demikian, Beijing sebelumnya telah menyetujui kesepakatan keamanan yang kontroversial dengan Kepulauan Solomon. Australia dan sekutunya khawatir itu akan memungkinkan China membangun pijakan militer di wilayah itu. China menegaskan perjanjian itu akan meningkatkan keamanan dan “ketertiban sosial” di kepulauan Solomon.


Sebagai tanggapan, Australia mengintensifkan upaya diplomatik di kawasan itu, menjanjikan lebih banyak tindakan terhadap perubahan iklim, keamanan, dan bantuan.


Keith Suter, pakar hubungan internasional, mengatakan kepada televisi Australia bahwa insiden di Laut Cina Selatan adalah bagian dari gesekan yang lebih luas antara kedua negara.


“Ini sangat mengkhawatirkan karena China sepertinya selalu hendak mengganggu orang dan mencoba menolak mereka. Jadi, sepertinya mereka bagai kucing dan tikus, dan jangan lupa bahwa mereka baru saja mengalami aib besar di Pasifik Selatan. Mereka pergi ke Pasifik Selatan untuk merundingkan perjanjian rahasia dan negara-negara kepulauan Pasifik Selatan mengatakan, 'tidak seperti ini cara kami melakukan sesuatu,” terangnya.


Menurut kalangan pakar, pemerintah kiri-tengah Australia yang baru terpilih diperkirakan akan melakukan pendekatan yang kurang agresif terhadap China dibandingkan sikap pemerintah sebelumnya yang sering dianggap agresif.


Mantan menteri pertahanan Peter Dutton, yang kini menjadi pemimpin oposisi di Australia, telah memperingatkan bahwa peningkatan kekuatan militer China bukanlah untuk tujuan damai.(*)



ADSEN KIRI KANAN