Notification

×

Adsense atas

Adsen

Pasar Seni Payakumbuh Dikirim Acara G20 di Bali 2022

Sabtu, 18 Juni 2022 | 21:33 WIB Last Updated 2022-06-18T23:38:23Z

.



Payakumbuh, fajarharapan.id - Untuk pertama kalinya, Pasar Seni Payakumbuh (PSP) digelar di Pelataran Ngalau Indah, Payakumbuh, Sumatra Barat pada 15-17 Juni 2022.

Pasar seni yang diselenggarakan oleh UPTD Taman Budaya di bawah Dinas Kebudayaan Sumatra Barat ini menampilkan beragam kuliner dari seluruh kabupaten/kota di Sumatra Barat, termasuk yang sudah langka didapatkan seperti pongek Limbonang, bungo durian, serta rubik.

Selain itu, juga dihadirkan berbagai pertunjukan seni, baik tradisional ataupun kontemporer. Antara lain, pertunjukan seni tradisi, seni kontemporer, hingga prosesi adat yang terkait langsung dengan budaya pangan di Minangkabau.

Ketua DPRD Sumatra Barat, Supardi mengatakan bahwa persoalan ketahanan pangan ini semestinya dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan. Sehingga, publik internasional juga dapat menikmatinya.

"Oleh sebab itu, kerjasama antar berbagai institusi pemerintah mesti dilakukan, seperti antara Dinas Kebudayaan, Dinas Pariwisata, dan Dinas Perdagangan," ujarnya.

Menurut Supardi, ragam kuliner di Pasar Seni Payakumbuh hanya sebagian kecil dari kekayaan kuliner tradisional yang berpotensi besar menjadi sumber ekonomi.

Kini, lanjut Supardi, yang penting adalah mengemas dan mengatur manajemen penjualan. Untuk itu, dia menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan seperti Pasar Seni Payakumbuh dalam skala lebih besar.

Salah satu kurator Pasar Seni Payakumbuh, S Metron M, menyatakan bahwa keseriusan membangun ketahanan pangan ini akan dilanjutkan dengan program-program yang lebih masif dan melibatkan lebih banyak pihak.

"PSP ini adalah awal-mula untuk memberikan gambaran tentang kekayaan pangan dan masih bisa kita kembangkan secara berkelanjutan. Tujuan dari semua ini adalah untuk menciptakan masyarakat yang mandiri," katanya.

Kurator Pasar Seni Payakumbuh lain, Buya Zuhari Abdullah menambahkan, agenda ini tidak hanya ditujukan untuk masyarakat Sumatra Barat dan Indonesia, melainkan juga dunia. Menurutnya, catatan penting dari PSP akan dikirimkan ke G20 di Bali tahun ini.

"Kita ingin menunjukkan kontribusi dari budaya Minangkabau untuk menjawab persoalan pangan di masa depan. Yang jelas, di Minangkabau, kearifan lokal dalam hidup berkomunal menjadi kunci untuk ketahanan pangan. Mulai dari cara masyarakat memperlakukan bumi, mengolah sawah-ladang, hingga membagi hasil panen, mengandung sekumpulan kearifan yang mendorong terjadinya ketahanan pangan," ujar Buya.

Sebelum penyelenggaraan PSP, terlebih dahulu diadakan Focused Group Discussion (FGD) pada 1 Juni lalu, yang dihadiri oleh pemerintah, seniman, budayawan, akademisi, hingga perwakilan masyarakat. Secara khusus, diskusi membahas soal pangan, iklim, dan budaya di Sumatra Barat, termasuk peningkatan suhu udara dan alih-fungsi lahan pertanian, serta penghijauan ruang kota.

Dari diskusi tersebut, disepakati bahwa isu iklim tidak boleh disepelekan. Dengan pengalaman dan pandangan dari berbagai elemen masyarakat, peningkatan kesadaran atas isu iklim pun semakin mudah.

Heru Joni Putra selaku fasilitator diskusi mengatakan, beragam pengalaman dan pandangan terkait persoalan nyata yang terjadi perihal iklim dan pangan saat ini di Sumatra Barat dibicarakan dan dicatat. Sementara, di acara Pasar Seni Payakumbuh ditampilkan representasi dari kearifan lokal terkait hal-hal yang mendorong terjadinya perlindungan alam dan ketahanan pangan.

"Setidaknya kita bisa melihat perbandingan sederhana tentang apa yang terjadi dan apa yang kita punya. Yang tak kalah penting: apa yang harus kita lakukan ke depan?" kata Heru. (Rel/Zik)

ADSEN KIRI KANAN