Notification

×

Adsense atas

Adsen

Guru Merasa Tertantang ; Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah

Senin, 20 Juni 2022 | 09:21 WIB Last Updated 2022-06-22T13:47:05Z

Oleh : Alfian Tarmizi, M.Pd
Kepala SDN 17 Ulakan Tapakih, Padang Pariaman


“Ganti menteri, ganti kebijakan. Lagi-lagi ganti kurikulum. Belum lagi mahir dengan Kurikulum 2013 yang baru seumuran jagung, sudah beralih ke kurikulum baru”


Sejak setahun terakhir, sering kita mendengar komentar miring terhadap pergantian kurikulum dari 2013 menuju kurikulum merdeka. Begitulah, kekecewaan dan ketakutan para guru dengan adanya pergantian kurikulum yang sangat dinamis.


Sehingga ada dikalangan praktisi dan pengamat pendidikan yang merasa apatis. Bahkan, cenderung pesimis dalam menyikapi kebijakan seri merdeka belajar yang diluncurkan mas Menteri Nadiem Makarim. 


Kalau kita simak dan telusuri ‘trade reccord’ mas Menteri yang sebelumnya merupakan Bos Gojek ini, agaknya kita tidak yakin dengan kemampuannya untuk memajukan dunia pendidikan Indonesia. Apalagi potret wajah dunia pendidikan Indonesia yang selama satu dekade ini, mengalami stagnan, bahkan cenderung mundur.


Menurut Studi Internasional PISA, mengilustrasikan tentang kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia berada di angka 52 indeks rata-ratanya. 


Begitu juga dengan studi nasional dalam negeri Asesment Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) mengemukakan, adanya kesenjangan antar kompetensi siswa di perkotaan dengan di pedesaan. Hal demikian, terlihat dan ditemukan, begitu rendahnya kompetensi siswa dalam memahami bacaan sederhana, dan konsep matematika. 


Juga dibarengi, terjadinya krisis moral, akibat krisis pembelajaran selama ini. Sebut saja semenjak dua tahun belakangan ini, karena pandemi melanda dunia tidak terkecuali Indonesia. Sektor pendidikan lumpuh total. Hanya sekitar 20 % tingkat keberhasilan belajar tercapai dengan pemanfaatan sistem pembelajaran darring dan luring. 


Berdasarkan data dan fakta tersebut, praktisi pendidikan di jajaran kementerian melakukan serangkai kajian ulang, dan mengevaluasi keberhasilan kurikulum 2013 yang telah bejalan sekitar 5-7 tahun di Indonesia.


Ternyata keinginan kurikulum 2013 dengan penguatan pendidikan karakter dan literasi itu, belum bisa diterjemahkan secara praktis di lapangan. Terutama, oleh para pendidik yang nota bene, beragam tingkat kompetensi maupun usia mereka.


Kurikulum 2013 tidak relevan lagi dengan kemajuan teknologi ICT. Setidaknya, selama 3 tahun belakangan ini, mengalami lompatan kemajuan yang sangat besar. Hal demikian, bisa disinyalir dengan banyaknya peserta didik yang lebih melek IT, ketimbang tenaga pendidik yang mengajar di sekolah. 


Hasil kajian inilah yang mendasari kebijakan perubahan kurikulum untuk memulihkan kurikulum darurat yang diberlakuakn dibeberapa kota besar di era pandemi covid-19. Dengan analisa, bahwa kurikulum sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan peserta didik yang aspirasinya kurang terwadahi selama pembelajaran di sekolah. 


Berdasarkan analisa dan kajian itu, terjawablah kekhawatiran kebanyakan orang terhadap perubahan kurikulum yang terkesan premature di tengah pandemi yang masih menyisakan traumanya. 


Jadi, bukan ganti menteri, bukan ganti kurikulum. Tetapi ganti zaman, mengakibatkan kurikulum berubah arah sesuai tuntutan zaman. Akan tetapi, ditataran teori para guru dan kepala sekolah, masih khawatir dengan sumber belajar yang harus disediakan di sekolah dikarenakan pergantian kurikulum ini. 


Mengapa tidak, traumatis revisi kurikulum 2013 tahap kedua saja, telah menguburkan sejumlah buku di Perpustakaan. Kenapa ...? karena tidak relevan lagi untuk dijadikan bahan ajar.


Berapakah alokasi dana yang akan tersedot untuk membeli buku dalam kurikulum merdeka ini ... ? Inilah seharusnya sudah dipikirkan oleh pemerintah. Juga, agar dapat pula disosialisasikan, sesegera mungkin untuk mencari solusinya. Kesemuanya ini agar tujuan pemahaman kurikulum merdeka akan dapat tercapai. 


Kalau kita simak dan cermati Platform Merdeka Belajar, bisa diunduh di www.guru.kemdikbud.go.id modul atau bahan ajar kurikulum merdeka belajar. Itupun bisa diunduh secara gratis, dan bisa dipakai menjelang adanya penyempurnaan revisi kurikulum.


Apalagi, akan diberlakukannya kurikulum nasional "Merdeka Belajar" secara utuh pada tahun 2024 mendatang. Dengan demikian, para guru tidak perlu khawatir tentang masalah buku dan bahan ajar. 


Kemudian, sesuai dengan namanya kurikulum merdeka, kita juga bebas memilih tiga opsi yang ditawarkan pemerintah terkait Implementasi Kurkulum Merdeka di Sekolah.


Pertama, Opsi 1. Mandiri Belajar. Pada opsi ini, satuan pendidikan masih memakai kurikulum 2013. namun cara operasionalnya sudah memakai prinsip kurikulum merdeka. Dalam pemakai opsi 1 ini, tetap mengikuti pelatihan dan belajar memahami kurikulum merdeka. Pada saatnya nanti, pemberlakuan kurikulum merdeka secara nasional tahun 2024, mereka tinggal mempraktekkannya di sekolah.


Kedua, Opsi 2. Mandiri Berubah. Pada opsi ini, satuan pendidikan mulai menjalankan kurikulum merdeka di kelas 1 dan 4. Sementara kelas lain tetap menjalankan kikulum 2013 seperti opsi 1.


Ketiga, Opsi 3. Mandiri Berbagi. Pada opsi ini satuan pendidikan menjalankan kurikulum merdeka di kelas 1 dan 4 sementara kelas lain tetap menjalankan kurikulum 2013 seperti opsi 1. Namun, harus berbagi ilmu dengan sekolah lain, dan mengimbaskannya ke sekolah terdekat. 


Hal yang menarik dari kurikulum merdeka ini, adalah guru tidak dituntut lagi untuk membuat Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebagai patokan ketuntasan belajar. Penilaian dilakukan dengan cara mendiagnosa peserta didik sebelum, selama dan sesudah belajar.


Pada akhir capaian pembelajaran, siswa harus mampu menghasilkan proyek atau produk sebagai bentuk pemahaman mereka terhadap konten pembelajaran. 


Akhir dari tulisan ini, penulis ingin menyampaikan kepada para guru dan praktisi pendidikan. Didiklah siswamu dengan kasih sayang, sesuai dengan zaman mereka. Jangan paksakan pendidikanmu, zaman dulu pada mereka, karena itu tidak relevan lagi.


Guru dulu adalah guru yang diberi tahu baru melakukan pendidikan. Namun guru sekarang, adalah guru yang mencari tahu, baru melakukan pendidikan. Jadi saatnya melek IT. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua ... !

Referensi :

- Platform Merdeka Belajar Kemdikbud.

- Studi AKSI 2020.

- Studi PISA 2018

- Tanti Febrianti, KOSP Menuju Kurikulum Merdeka, 2022.







ADSEN KIRI KANAN