Notification

×

Adsense atas

Adsen


Warga Dilarang Dekati Material Sisa Erupsi Gunung Merapi

Jumat, 11 Maret 2022 | 16:23 WIB Last Updated 2022-03-11T09:23:54Z

 

Warga mengamati material vulkanik erupsi Gunung Merapi di hulu Kali Gendol, Cangkringan, Sleman, D.I Yogyakarta, Kamis (10/3/2022).


Jakarta - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta melarang masyarakat tak mendekati material erupsi yang dimuntahkan Gunung Merapi, Rabu (11/3).


Dalam akun Twitter resminya, BPPTKG menanggapi sebuah video yang dibagikan akun @SukimanMerapi. Video itu memperlihatkan sekelompok pria yang disebut tengah berada di atas lokasi sisa awan panas guguran Merapi di Kaliadem, Kepuharjo, Sleman, DIY.


"TIDAK UNTUK DITIRU. Masyarakat dilarang mendekati material awan panas guguran karena kondisi masih panas dan membahayakan," tulis akun @BPPTKG, Kamis (10/3) malam,  sebagaimana dikutip CNNindonesia.com.


"Selain itu, daerah tersebut masih rawan terjadi awan panas susulan. Mohon untuk tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya yang telah ditentukan," sambungnya.


Sebelumnya diberitakan, sisa material erupsi Gunung Merapi di hulu Sungai Gendol, Cangkringan, Sleman, tepatnya sebelah timur Bunker Kaliadem, Kepuharjo, mendadak jadi tontonan warga, Kamis (10/3).


Tampak sejumlah warga mendatangi lokasi bekas area luncuran guguran awan panas yang dimuntahkan Merapi, Rabu (9/3) malam. Andika, adalah salah seorang dari mereka.


Mengaku dituntun rasa penasaran, warga Kaliadem itu bersama sejumlah temannya terlihat menjajal sensasi berjalan di atas sisa material erupsi Merapi hingga ke area tengah Sungai Gendol.


"Sampai badan-badan itu terasa panas. Bau belerang juga ini," kata Andika menceritakan pengalamannya berdiri di atas material erupsi, Kamis.


Bagi Andika, ini merupakan pemandangan baru. Dia berkisah, biasanya sisa material erupsi di Sungai Gendol tak pernah setinggi ini.


"Sekarang ya penuh. Kemarin kan dalem itu, bawah itu dalem. Kemarin sekitar 20an meter lah (kedalaman) sekarang sudah penuh," tuturnya.


Andika sendiri tak ikut mengungsi kala rententan erupsi Merapi terjadi sejak Rabu malam hingga Kamis pagi. Namun ia mengaku sempat mendengar suara gemuruh semalam.


"Seperti truk bak dam (dump truck) itu nyuntak (menumpahkan) pasir. kemrosoklah. Sekitar jam setengah 12 itu," bebernya.


Sementara Camat Cangkringan, Djaka Sumarsana mengaku berupaya mengantisipasi fenomena kemunculan 'objek wisata dadakan' di lokasi bekas luncuran awan panas guguran area Sungai Gendol ini.


"Jadi itu sebetulnya untuk material (sisa erupsi) masih panas, informasi dari pak lurah itu harus menunggu 2-3 baru berani diangkat. Karena walaupun nampak luar dingin tapi dalamnya itu panas," kata Djaka, Kamis.


Pihaknya berkoordinasi dengan jajaran Polsek dan Koramil Cangkringan guna menempatkan penjagaan di setiap akses ke Sungai Gendol. Djaka turut meminta peran aktif para lurah untuk memasang portal.


"Contoh seperti di Bunker Kaliadem, Ngrangkah, Petilasan Mbah Maridjan ke utara, ke timur itu juga sudah kita instruksikan untuk ditutup. Terus kemudian untuk Klangon juga karena jaraknya paling dekat itu untuk sementara ditutup terlebih dulu," ujar Djaka.(*)


adsensen-1

ADSEN KIRI KANAN