Notification

×

Adsense atas

Adsen

Jeritan Hati Pj. Walinagari Persiapan Simpang Timbo Abu; "Apakah Kami Sengaja Dikubur di Sini?"

Selasa, 01 Maret 2022 | 22:01 WIB Last Updated 2022-03-02T05:22:37Z

Salah seorang warga Simpang Timbo Abu, Kajai berjalan dengan latar belakang sebuah rumah yang tersungkur dihoyak gempa, Jumat (25/2/2022) lalu.


Pasbar - Pj. Walinagari Persiapan Simpang Timbo Abu, Kajai, Kecamatan Talamau, Pasaman Barat menyampaikan keluhannya karena kurangnya perhatian pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat (Sumbar) ke warganya. Sebab di wilayah tersebut merupakan daerah yang terparah musibah gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 6,1 pada Jumat (25/2/2022).


"Saya Pj. Walinagari Persiapan Simpang Timbo Abu, Kajai mohon Kadiskominfo Pasaman Barat mengumumkan kondisi daerah kami ini. Sebab masyarakat sudah resah dan tidak kondusif lagi. Peralatan terbatas, listrik mati, mikrofon tidak ada. Mohon perhatikan kondisi warga kami pak," ujar Mulyadi Pj. Walinagari tersebut melalui rekam audo melalui hand phonenya yang tersebar ke grup-grup whatsapp, Selasa (1/3/2022).


Rekam suara Pj. Walinagari akhirnya viral dan dishare di berbagai grup WA. Dengan suara gemetar mengeluhkan kondisi di lapangan, sebab daerah tersebut luluhlantak dihoyak gempa tekhtonik dengan kekuatan 6,1 magnitudo. Akibatnya puluhan rumah tersungkur dan dan puluhan warga luka-luka.


Diketahui Nagari Persiapan Simpang Timbo Abu, Kajai adalah salah satu wilayah yang terdampak parah dari bencana gempa bumi. Sebab lokasi tersebut merupakan pusat gempa dengan kedalaman 10 km.


Banyak rumah-rumah warga yang rubuh dan mengalami kerusakan berat, akibatnya warga harus mengungsi karena rumahnya tidak bisa ditempati lagi. Pada lokasi setempat Masjid Raya Kajai roboh dan datar dengan tanah dan menelan satu korban jiwa atas nama Anismar (70).


Secara keseluruhan berdasarkan data sementara diketahui gempa di Pasaman Barat mengakibatkan 10 warga meninggal dunia (empat di Pasbar), luka berat 19 orang, luka sedang tujuh orang dan luka ringan 36 orang. Bangunan yang rusak mencapai 5.000 unit, pengungsi 10.000 orang, dan 35 titik pengungsi yang berpusat di halaman kantor bupati setempat.


Menurut Mulyadi, atas musibah tersebut, daerahnya masih minim perhatian, sementara warga sangat membutuhkan tenda, dan peralatan lainnya untuk tempat evakuasi. "Warga tidak tenang lagi, tidak kondusif di sini. Peralatan terbatas, listrik mati, mikrofon tidak ada. Mohon diperhatikan pak. Siapa yang mendampingi kami di sini, atau dibiarkan kami dikubur di sini," ujarnya.


Dia juga mempertanyakan siapa OPD yang bertanggungjawab untuk wilayahnya. Meski sudah banyak OPD yang mengunjungi wilayah tersebut, masih banyak yang numpang foto saja. "Kami mohon pak, tolong perhatikan daerah kami. Mohon maaf jika saya kasar, tapi memang beginilah kondisi daerah kami yang parah dampak gempa," ujarnya dengan suara gemetar yang sampai ke media fajarharapan.id. 


Kondisi pengungsi gempa Pasaman Barat di kawasan Timbo Abu, Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat memprihatinkan. Terdapat ratusan warga yang memilih menghuni tenda darurat pasca rentetan gempa mengguncang kawasan itu.


Warga membangun tenda dengan cara swadaya, pasalnya sebagian rumah di lokasi itu tidak bisa dihuni karena rusak dihantam gempa.


PJ Walinagari Persiapan Simpang Timbo Abu, Mulyadi butuh informasi jelas soal status wilayah itu. “Mohon kepada bapak Kadis Kominfo umumkan pada masyarakat bagaiamana sebetulnya kondisi Timbo Abu,” katanya.


Saat ini sebut Mulyadi warga Timbo Abu tidak tenang dengan adanya potensi bencana susulan itu. “Saya pun sudah kewalahan. Bagaimana lagi mengatasi kondisi masyarakat kita yang sudah tidak kondusif ini. Peralatan kami disinipun terbatas,” sebut dia.


“Mohon kepada bapak-bapak pemerintah daerah, para pimpinan perhatikan kami di Simpang Timbo Abu,” imbuhnya.


Selama ini pasca gempa, menurut dia kedatangan pemerintah ke kawasan itu hanya untuk berfoto-foto ria. “OPD penanggung jawab seolah-olah numpang berfoto saja. Sebenarnya tanggung jawab disini siang malam, tidak boleh meningalkan lokasi,” tambahnya.


“Mau diapakan kami disini, apakah kami sengaja dikubur disini?” ungkapnya.


Ia pun meminta pemerintah daerah segera menentukan status kawasan Timbo Abu demi menentukan langkah mitigasi. “Pemberitahuan resmi dari Pemkab Pasbar soal daerah kami belum ada, tidak tahu aman atau tidak,” keluhnya. (by roni)


ADSEN KIRI KANAN