Notification

×

Adsense atas

Adsen


Tradisi Malamang dan Gandang Tasa Diakui Warisan Budaya Takbenda

Kamis, 10 Maret 2022 | 16:22 WIB Last Updated 2022-03-10T13:15:35Z

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyerahkan Sertifikat Pengakuan Mendikbudristek kepada Wabup Padang Pariaman Rahmany tentang pengakuan Tradisi Malamang' dan Gandang Rasa sebagai WBTB. (foto.dok.ikp)


Parik Malintang, fajarharapan.id - Tradisi Malamang dan Gandang Tasa merupakan tradisi yang ada di Kabupaten Padang Pariaman, mendapat pengakuan dan penetapan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).


Pengakuan kedua tradisi "Malamang' dan "Gandang Tasa" sebagai WBTB itu, ditandai dengan penyerahan Sertifikat Ketetapan Mendikbudristek dari Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah, S.IP yang diterima Wakil Bupati Padang Pariaman Drs.Rahmang, MM dalam suasana Rapat Koordinasi (Rakor) Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota se Sumatera Barat di Tuapejat, Kecamatan Sipora Utara Kabupaten Kepulauan Mentawai, Selasa 8 Maret 2022 lalu. 


"Berarti Kabupaten Padang Pariaman telah memiliki 12 (dua belas) WBTB yang sudah disertifikatkan," ujar Rahmang ketika ditemui diruang kerjanya di lantai II Kantor Bupati, Kamis, (10/03/22).


Rahmang menyebutkan, sejatinya berbudaya bukan hanya perkara seberapa banyak Nilai Budaya (kesenian, tradisi lisan, Manuskrip, Adat Istiadat, Permainan Rakyat, olah raga tradisional, pengetahuan tradisional , teknologi tradisional, bahasa dan ritus) dan Cagar Budaya yang dapat kita lestarikan. Tetapi, nilai budaya yang ada, bisa dilestarikan dan menjadi warisan generasi mendatang.


"Berbudaya sejatinya itu, bagaimana kita memastikan anak cucu nanti, bisa memahami dengan sesungguhnya arti keberadaannya di hadapan Sang Pencipta," ucap Rahmang.


Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Drs.H.Anwar, MM didampingi Kepala Bidang Kebudayaan Suhatman mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, Dinas Dikbud melalui Bidang Kebudayaan sangat berkomitmen tinggi dalam upaya pelestarian Warisan Budaya maupun Pelestarian Cagar Budaya. Hal demikian, sejalan dengan Visi dan Misi Kepala Daerah untuk menjadikan Padang Pariaman Berjaya, Berkelanjutan, Religius, Sejahtera dan Berbudaya.


"Menjaga kelestarian Budaya Daerah, merupakan hal yang sangat penting, menginggat budaya menunjukkan karakter daerah. Artinya, daerah yang berkarakter adalah daerah yang berbeda dari daerah lainnya" kata Anwar.


Ia menjelaskan, penetapan WBTB Padang Pariaman untuk dijadikan Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI), Bukan perkara yang mudah, banyak syarat yang harus di penuhi untuk mewujudkan itu.


Menurutnya, kita harus memenuhi dari aspek kajian akademis tentang ke orisinilannya, adanya Maestro yang paham tentang warisan budaya tersebut.

Juga, ada bukti dalam bentuk Vidio Asli dan foto yang mengambarkan sakralnya warisan budaya yang di usulkan tersebut. Kemudian, ada punya rencana tindak lanjut daerah tentang pelestariaannya.


"Setidaknya ada 6 (enam) syarat yang harus dipenuhi untuk mendapat pengakuan dari Pemerintah Pusat melalui Pak Menteri" sebut Anwar.


Adapun Warisan Budaya Takbenda Padang Pariaman yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) sebanyak 12 yaitu:

Tabuik (2013), Kaba Cindua Mato (2014), Indang (2014), Silek (2014), Ulu Ambek (2015), Rabab (2015), 


Terus, Salawat Dulang (2015), Pasambahan (2015), Tari Piriang (2016), Randai (2017), Basafa (2020), Gandang Tasa (2021), Malamang (2021). Sedangkan untuk tahun 2022 ini, sedang proses penetapan, budaya "Maniliak Bulan" (ikp-045).






adsensen-1

ADSEN KIRI KANAN