Notification

×

Adsense atas

Adsen

5 dari 6 Warga Malampah Hilang Terseret Lumpur Belum Ditemukan

Senin, 28 Februari 2022 | 15:28 WIB Last Updated 2022-02-28T08:28:24Z

Tim evakuasi menemukan salah seorang warga Malampah yang terseret lumpur pascagempa di Pasaman Barat. (by roni)


Pasaman, fajarharapan.id - Lima dari enam warga Malampah, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat (Sumbar) yang hilang diduga terseret arus air bercampur lumpur pascagempa, sampai Senin (28/2/2022) belum ditemukan.


Ada enam warga yang hilang usai gempa M 6,1. Keenam korban itu diduga hilang akibat terseret arus air usai gempa terjadi, Jumat (25/2/2022). Satu di antaranya atas nama Rodi (35) sudah ditemukan dalam keadaan tewas.


Keenam orang yang hilang itu bernama Suar, Munir, Sapar, Ramadhan, Rodi dan Buyuang Padang. Tim gabungan telah dikerahkan mencari keenam korban yang hilang tersebut. Satu dari enam orang itu telah ditemukan menjadi mayat.


Pantauan fajarharapan.id, Senin (28/2/2022) tim evakuasi masih berjibaku mencari keberadaan warga yang hilang tersebut dengan menyisiri lokasi yang diperkirakan tanah bergerak bercampur lumpur menyeret korban.


Tim mengevakuasi korban untuk dikebumikan.


Menurut warga setempat, Jumat (25/2/2022) pagi itu, warga Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat yang hilang itu pergi ke ladang seperti hari-hari biasanya.


Tiba-tiba datang gempa bumi dengan kekuatan M 6,1 yang berpusat di Kajai, Kabupaten Pasaman Barat. Selanjutnya terjadi tanah bergerak diduga keenam warga Kecamatan Tigo Nagari ini terseret tanah yang bercampur lumpur. Sebab sampai saat ini mereka yang sebelumnya pergi ke ladang belum juga pulang.


Sebelumnya ke-enam warga tersebut pergi ke kebun mereka masing-masing di Guguang, Jorong Siparayo, Nagari Persiapan, Malampah Barat, Kecamatan Tigo Nagari, Kabupaten Pasaman.


Tim evakuasi akhirnya menemukan seorang diantaranya telah tewas kaki terbenam lumpur, sementara badan terlihat.


Menurut Mira (16), anak salah satu korban, mereka yang diduga terseret arus pergeseran tanah lumpur.


Hal ini dibenarkan anggota DPRD Pasaman Jusran dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, kebetulan berdomisili di Tigo Nagari.


“Informasi ini benar, mereka famili saya,” ungkap Jusran sedih kepada fajarharapan.id yang langsung terjun ke lokasi musibah tersebut.


Melampah Terparah

Akibat gempa tekhtonik yang berpusat di Kajai, Kecamatan Talamu, Pasaman Barat, di Kebupaten Pasaman, Malampah daerah yang terparah.


Sebagian tanah di lereng Gunung Talamau turun dan menyebabkan meluapnya air Sungai Batang Timah di daerah Siparayo. 


Sebelumnya, informasi dari BNPB ada 10 orang yang tewas akibat gempa bermagnitudo 6,1 yang mengguncang Sumatera Barat (Sumbar). 


Selain itu, ada 6.002 orang yang mengungsi. Total warga meninggal dunia 10 orang, puluhan luka-luka baik berat maupun ringan akibat ditimpa bangunan.


Korban meninggal itu terdiri dari empat orang di Pasaman Barat dan enam orang di Pasaman. Di Pasaman Barat ada 37 korban luka berat dan 310 korban luka ringan. 


Tim evakuasi bersama warga menyisiri lokasi untuk mencari keberadaan korban yang hilang terseret lumpur.


Sekitar 10.000 orang juga mengungsi di 35 tempat pengungsian yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Talamau, Pasaman, dan Kinali. Adapun di Pasaman tercatat 5 korban luka berat, 36 orang luka ringan, 3.000 orang mengungsi, serta 4 orang hilang.


Di Kabupaten Limapuluh Kota, 53 orang dari 16 keluarga terdampak gempa. Dua orang di antaranya terpaksa mengungsi ke rumah kerabat. Adapun di Kabupaten Agam, satu bayi luka-luka akibat gempa.


Gempa juga mengakibatkan 103 rumah rusak berat, 5 rumah rusak sedang, dan lebih kurang 1.307 rumah rusak ringan. Selain itu, 3 fasilitas pendidikan rusak berat, 2 rumah ibadah rusak, dan 1 bangunan fasilitas umum rusak, termasuk beberapa bangunan milik pemerintahan.


Sementara itu, di Bukit Lintang Nagari, gempa juga memicu tanah longsor. Upaya pembersihan material dan pencarian serta pertolongan menjadi fokus utama tim gabungan.


Masyarakat yang terdampak gempa di Pasaman supaya mengungsi ke tempat aman. Retakan tanah di hulu akibat gempa masih berisiko memicu bencana longsor. (by roni)



ADSEN KIRI KANAN