Notification

×

Adsense bawah

Adsen


Sekolah Ramah Anak dan Merdeka Belajar

Selasa, 11 Januari 2022 | 12:44 WIB Last Updated 2022-01-11T05:47:52Z

Oleh : Drs.H.Anwar, M.Si
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Padang Pariaman, Sumatera Barat


Kita patut bersyukur dengan kebijakan merdeka belajar yang digerakan mas Menteri Nadiem Makarim semenjak dua tahun yang lalu. Tidak ada lagi Ujian Nasional (UN), tidak ada lagi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang tebal. Lagi, tidak ada keseragaman format yang mengkebiri kreatifitas guru. Ada ruang gerak yang bebas, diberikan pada guru untuk mendesain perangkat pembelajaran, dan berikut pelaksanaan serta penilaiannya.


Kebijakan merdeka belajar ini, sekarang sudah berevolusi menjadi gerakan merdeka belajar. Implikasinya konsep merdeka belajar, maka menyebabkan beraneka ragam multitafsir untuk dipahami. Pun beragam macam pula, kreatiftas guru dalam membangun mutu sebuah sekolah. 


Kini, mengapung sekolah-sekolah yang beradiwiyata, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) Standar dan Optimal,  Sekolah Berbasis Literasi, Menuju Sekolah Sehat, Sekolah Ramah Anak (SRA). Sehingga bermacam ide dan gagasan untuk berkompetensi. Sejatinya, mereka  mengemas sebuah sekolah agar menjadi wahana belajar yang aman dan nyaman.


Walaupun berbeda ragam dan model Sekolah, namun pada intinya tetap fokus pada gerakan merdeka belajar. Juga, memberikan ruang seluas-luasnya bagi guru yang ingin pintar, dan kreatif dalam menyalurkan ide-ide kreatif dia. Hal demikian, melalui saluran kreatifitas, imajinatif dan inovatif inilah, tampil beberapa model dan gaya belajar yang disenangi oleh siswa. 


Selama ini, guru masih mengajar dengan gaya lama (konvensional). Mengajar seperti yang dulu, seperti bunyi lirik lagu Dian Pisesa. Padahal, kita mendidik siswa yang berada pada zamannya. Zaman Now yang semua serba instan, ekleitis, dan digital. Muaranya, guru bagaikan orang yang berjualan di pasar, maka akan tertinggal. Tidak ada yang berminat, walau hanya sekedar melihat-lihat saja. 


Nah, jikalau pembelajaran yang masih mengadopsi sistem guru memegang kendali. Sedangkan siswa pasif mencawan, menunggu apa yang keluar dari mulut sang guru. Teacher centered oriented seperti inilah, yang membuat guru dan siswa jadi terbelakang di balik zaman “Z” yang jauh berlari kencang di depan. Siswa merasa tidak betah, dan tidak diberi kesempatan untuk berpartisipasi aktif.


Imbasnya, tentu mereka mencari hal-hal yang baru di luar sana, demi memuaskan rasa ingin tahu, dan menyalurkan kreatifitas mereka. Ini adalah Pe er bagi kita semua secara bersama…


Ada dua model gaya belajar yang sangat mempengaruhi kinerja guru dalam bertugas. Yaitu ; Pertama, Teacher Centered (model pembelajaran yang berpusat pada guru). Pada tataran ini, otoritas ada pada guru. Guru berupaya keras mentransfer pengetahuan yang sudah ada dengan berbagai cara kepada siswa. Siswa pasif hanya menerima tanpa beraktifitas, apalagi berkomentar. (Harmon. SW, 1996)


Model gaya belajar seperti ini, sering juga disebut dengan gaya konvensional. Guru bercerita dan berceramah di depan siswa. Gaya belajar demikian, sudah mulai banyak ditinggalkan oleh banyak guru yang sadar, dengan kebutuhan dan karakter siswanya. Jadi, pembelajaran tersebut, akan membuat stagnasi dalam aktifitas dan kreatifitas siswa.


Kedua, Student Centered (model pembelajaran yang berpusat pada siswa). Dalam hal ini, siswa yang lebih dominan aktif beregerak, berbuat, mencari tahu (coriositi), berkreasi (create) untuk membangun pengetahuan. (Means, 1994). Sedangkan guru hanya sebagai pamong, atau mentor yang mengarahkan siswa agar tetap berada pada koridor konteks pembelajaran.


Model pembelajaran serupa itu, sering juga disebut sebagai pembelajaran emansipatori, pembelajaran selft-directed, pembelajaran kolaborasi, cooperative learning dan project learning.


Kesemua model pembelajaran di atas, penekanannya terletak pada aktifitas siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui eksperimen, analisa, berkreasi, berinovasi sampai kepada kesimpulan. Setelah menyimpulkan siswa mengkomunikasikannya dalam bentuk laporan dan presentasi. Proses pembelajaran seperti itu, sangat diminati siswa disebabkan mereka merasa dilibatkan. Apalagi, diberi kesempatan belajar sesuai minat dan bakat mereka. 


Lagi, pembelajaran yang bisa mengembangkan kemampuan, minat dan bakat siswa tersebut, merupakan cerminan dari sekolah yang ramah anak. Hal ini, sesuai dengan program yang dilansir Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen P3A).


Senada dengan kebijakan pemerintah dengan peraturan tentang Sekolah Ramah Anak (SRA), maka dalam dunia pendidikan kebijakan ini, diadopsi dan dilaksanakan di sekolah-sekolah. Juga memastikan anak bisa menuntut ilmu di tempat yang aman, sehat dan nyaman. Sehingga peserta didik bisa belajar dengan minat, dan bakat mereka serta berkreasi sesuai selera imajinasi mereka.


Berdasarkan kebijakan merdeka belajar dan sekolah ramah anak ini, satuan pendidikan diharapkan bisa menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan kondusif. Kepala sekolah dan segenap civitas akademik di sekolah, harus menyusun program unggulan yang berpijak pada landasan merdeka belajar dan sekolah ramah anak. 


Ada beberapa panduan bagi sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan sekolah ramah anak, sebagi berikut :Pertama, Memiliki fasilitas yang memadai dan ramah anak seperti kantin sehat, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) standar, areal bermain yang nyaman, dan bangunan sekolah yang aman pula. Kedua, Memfasilitasi siswa untuk belajar dengan nyaman dan senang, jauh dari tindakan buliying, diskriminatif dan bebas mengeluarkan aspirasi sesuai keinginan mereka.


Ketiga, Membuat MoU atau kerjasama antara pihak sekolah dengan orang tua, komite, puskesmas dan polsek setempat demi terciptanya pembelajaran yang sehat, aman, nyaman, dan bermartabat.


Keempat, Menjalin hubungan yang baik serta peka antara guru dan siswa, sehingga semua permasalahan dapat diatasi secara bijak. Kelima, Memiliki kurikulum pembalajaran yang baik dengan berbasis religi dan pendidikan karakter guna membentengi siswa dari maraknya arus informasi globalisasi dewasa ini.


Keenam, Sekolah memiliki peraturan yang menjamin dan melindungi hak-hak anak secara fisik maupun emosional, semisal tata tertib sekolah, penyediaan guru Bimbingan Konseling (BK) dan ruang BK serta ruang UKS. Ketujuh, Menciptakan lingkungan sekolah yang asri, sehat, bersih dan tertata dengan baik. Memiliki pengelolaan sanitasi dan manajemen sampah yang baik.


Dengan ketujuh item di atas, mudah-mudahan semua sekolah dapat melengkapi sarana prasarananya agar menjadi sekolah yang memiliki Ketertiban Kebersihan dan Keamanan (K-3) yang baik, sekolah sehat, sekolah ramah anak. Juga, sekolah yang memiliki akses kemerdekaan dalam belajar, berkreatifitas, berinovasi dan berteknologi.


Mudah-mudahan dengan tulisan ini, para guru, Kepala Sekolah dan pembaca dapat mengelola sekolah yang sehat, idaman, ramah anak. Sehingga guru-gurunya dapat merobah paradigma mengajar mereka dari gaya belajar bercorak konvensional kepada gaya belajar yang melibatkan keaktifan siswa (student actifity learning).


Dan hal demikian, sangat relevan dan sesuai dengan visi dari merdeka belajar.

Merdeka belajar membuat guru dan siswa kreatif. Semoga sukses untuk kita semua ... !


Sumber bacaan :

- Hasibuan, Proses Belajar Mengajar, Bandung, Remaja Rosdakarya, 2000

- Moedjiono, Proses Belajar Mengajar, Bandung, 2000

- Sari Amika, Peningkatan Prestasi Belajar, 2011

- Mia Rosmiati, Teacher Learning System, Bandung, 2015

- Kemen.PPPA, Sekolah Ramah Anak, 2019.










ADSEN KIRI KANAN