Notification

×

Adsense bawah

Adsen


Guru Hebat Melahirkan Siswa Pintar dan Berkarakter

Senin, 03 Januari 2022 | 13:04 WIB Last Updated 2022-01-03T06:06:16Z


Oleh : Drs. H. Anwar, M.Si
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat

Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru. Artinya, guru merupakan idola dan panutan dimanapun ia berada. Sebagai idola, guru jadi contoh dan teladan bagi siswanya. Dengan demikian, guru harus menampilkan sosok pribadi yang luwes, ramah, fleksible, cerdas dan humanis. 


Karakter guru yang seperti ini, bukan hanya ada dalam cerita dongeng belaka, yang sulit untuk diwujudkan dalam dunia nyata. Akan tetapi, ini merupakan suatu keharusan, sebagai tuntutan dari sebuah pekerjaan yang bernama profesi seorang guru. 


Penulis teringat dengan pameo lama yang menyatakan, “guru tua semalam dari siswa”. Agaknya, guru harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, sebelum ia datang ke sekolah untuk mengajar. Namun seiring dengan perjalanan waktu, tuntutan zaman berobah, teknologi terus berkembang. Konsekwensinya, tentu guru dituntut lebih jauh untuk mengembangkan diri. Yakni, betul-betul profesional di bidangnya.


Untuk menyikapi hal itu, maka pemerintah mengeluarkan sertifikat pendidik bagi guru yang sudah layak menyandang gelar guru profesional.Jadi,dengan kondisi seperti ini, guru mau tidak mau, harus merubah pardigmanya dalam bertugas dan mengajar. Waktu dulu, guru datang ke sekolah untuk mengajar. Kini, bukan demikian zamannya, guru pergi ke sekolah untuk membelajarkan siswanya. Antara mengajar dan membelajarkan siswa ini, sangat jauh berbeda. 


Mengajar siswa sangat erat kaitannya dengan orientasi dan tujuan yang akan dicapai. Yaitu, nilai atau hasil belajar yang bersifat nominal-akademik. Jadi, wajar bila nilai siswa rendah, berarti guru telah gagal dalam mengajar. Juga menyebabkan, kosekwensinya guru akan mendapat teguran dari atasannya (kepala sekolah). 


Berbeda dengan konsep mengajar, bahwa membelajarkan siswa lebih menitik beratkan kepada bagaimana siswa dapat belajar dengan baik, ia nyaman, mereka enjoy dan menyenangkan. Mereka bisa belajar sesuai dengan keinginan, minat dan bakat dia.


Pada setiap siswa, memiliki potensi yang berbeda-beda berdasarkan IQ masing-masing. Tergantung bagaimana guru bisa menggerakkan siswanya, mengeksplor kemampuan mereka sesuai minat dan bakatnya. Disitulah, terlihat siswa Merdeka Belajar itu tercermin.


Dalam hal ini, guru bukan lagi center dari pembelajaran, melainkan siswalah yang menjadi center pembelajaran. Dengan kata lain, guru bertindak hanya sebagai fasilitator, mediator, motivator dan mentor bagi siswa. Bukan sebagai penceramah di depan kelas.


Mengamati terhadap kondisi tersebut, inilah yang diharapkan pemerintah kepada guru yang sudah layak menyandang gelar profesional dibidangnya. Sehingga dia berhak mengantongi selembar sertifikat pendidik yang sangat mahal nilainya tersebut.


Melalui perubahan paradigma dalam mengajar ini, guru tidak perlu lagi mengeluhkan tentang minat belajar siswa yang rendah, dan aktifitas belajar yang pasif. Justru dari kesemua problema ini, seharusnya guru menambah cemeti serta bersemangat untuk lebih berfikir kreatif lagi dalam membelajarkan siswa.


Disinilah, peran seorang atasan seperti kepala sekolah dan pengawas pembina dilingkungan sekolah, yang akan memberi dukungan dan arahan agar guru dapat memperbaiki kinerjanya dalam mengajar. 


Sejatinya, pengawas pembina dan kepala sekolah, harus memiliki program yang terstruktur dan terukur demi kemajuan pendidikan di suatu instansi satuan pendidikan. Makanya, mereka akan tau apa yang mau dikerjakan, Lagi, mengerti dalam memenej gurunya dalam melaksanakan tugas di sekolah. 


Untuk memenej itu ada program kerja dengan melakukan supervisi di dalam kelas dengan ditindak lanjuti melalui supervisi klinis pendidikan. Dalam program supervisi klinis ini, kepala sekolah dan pengawas pembina memperbaiki. Juga meluruskan hal-hal yang dianggap perlu dan penting demi peningkatan mutu pendidikan.


Tentu saja untuk mencapai peningkatan mutu pendidikan di sekolah, maka diperlukan komitmen dari semua elemen yang ada di sekolah tersebut. Seperti guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, komite dan wali murid. Kesemua stakeholder sekolah tersebut harus seayun selangkah, seiya sekata untuk melaksanakan program yang telah dirancang sebelumnya.


Dengan demikian, diperlukan tingkat kesadaran yang tinggi dari sumber daya manusia (SDM) di sekolah bersangkutan, untuk melaksanakan tugas dengan menerapkan disiplin kerja yang kuat dan toleransi yang solid. Disiplin yang tinggi tanpa diimbangi dengan karakter yang mumpuni, akan membuat otoritas yang kurang disukai. 


Guru sebagai SDM yang hebat, pasti akan melahirkan siswa yang pintar. Pintar saja tidak cukup untuk membuat siswa sukses dalam akademik maupun non akademik. Tentu, dibarengi guru yang berkarakter santun, ramah, dan hangat dalam proses belajar mengajar, akan membuat siswa merasa senang dan nyaman dalam belajar.


So, dengan sendirinya kondisi ini akan menghasilkan siswa yang kreatif dan penuh imajinatif. Sehingga sang guru tinggal memoles karakter peserta didik dengan menanamkan nilai-nilai religius, mandiri, gotong-royong, nasionalis dan integritas dalam setiap pembelajaran. 


Kelima karakter induk ini, harus dikembangkan dan membumi secara kuat dihati siswa. Jadi, setiap gerak langkah dan perilakunya, mencerminkan nilai-nilai karakter yang berakhlak mulia.


Begitu banyak orang pintar, namun tidak didukung oleh karakter yang kuat, akan merusak tatanan kehidupan mereka di masyarakat. Mereka akan terseok-seok dalam meniti karir untuk mencapai kesuksesan nantinya. 


Semisalnya ada orang yang tinggi intelektualnya, ahli dalam teknologi. Namun akhlaknya kurang, toleransinya rendah, egoisnya tinggi dan terkesan sombong, maka ia akan dijauhi oleh banyak orang. Sikap yang demikian itu,  yang akan merugikan dirinya sendiri. 


Tetapi, ada orang yang intelektualnya biasa saja, namun akhlaknya baik, sangat bertoleransi, sosialnya tinggi dan sifatnya tawadhuk, maka pribadinya akan disukai banyak orang. Nilai karakter yang dimilikinya, inilah yang menunjang performa dan karir pengabdiannya.


Jadi, kecakapan intelektual harus diimbangi dengan kemumpunian pendidikan karakter yang tinggi. Sebagai penyeimbang kecerdasan manusia. Disinilah, peran guru yang hebat dan profesional dalam mecetak generasi yang cerdas dan berakhlak mulia sesuai tujuan pendidikan nasional, yaitu mewujudkan peserta didik yang berakhlak mulia.


Tugas ini, ada dipundak seorang guru. Guru harus bersinergi dengan orang tua, dan masyarakat dalam melakukan pembinaan karakter pada siswa. Apa yang telah diberikan guru di sekolah, harus dipraktekkan siswa di rumah dengan dipantau para orang tua mereka, agar menjadi kebiasaan dalam berprilaku. 


Sehingga mereka dapat mengimplementasikannya dalam keseharian secara spontan.

Tentu saja kerja berat ini, harus dilakukan dengan adanya kerjasama yang baik dan hubungan sosial kemasyarakatan yang terjalin secara harmonis antara sekolah dengan lingkungan masyarakat sekitar. 


Guru yang ramah dan peka terhadap lingkungan akan disambut baik oleh masyarakat. Sehingga dengan sendirinya, visi dan misi kebaikan serta mendidikpun akan terlaksana secara baik dengan sukses.


Melalui tulisan sederhana ini, penulis ingin mengetuk hati para pembaca, terutama yang berprofesi sebagai guru, agar merubah sudut pandangnya dalam mengajar. Ada lima poin yang harus diperhatikan guru untuk melahirkan siswa yang sukses itu diantaranya : 


Pertama, Mengajar hanya mentransfer ilmu, dan orientasinya nilai hasil belajar. Oleh karena itu, guru akan terjebak dalam problem baru mengenai minat belajar siswa yang rendah.


Kedua, Membelajarkan penuh dengan usaha untuk membuat peserta didik mau dan tertarik untuk belajar, mencari tau (informasi) dengan perantara support dari seorang guru dan metode yang berfariasi. Ketiga, Pengetahuan itu diperoleh dengan dicari, direkonstruksi, ditransformasi dengan berbagai cara dan metode agar mendapatkan hasil yang otimal.


Keempat, Pendidikan karakter adalah bagian dari kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang harus ditanamkan, ditumbuhkan dan dibiasakan untuk mengontrol kecerdasan intelektual (IQ). Kelima, Siswa yang pintar dan berakhlak mulia, cerminan dari pola asuh guru yang berkarakter baik.


Semoga tulisan ini bermanfaat bagi pembaca. Selamat bertugas tahun 2022. Aamiiin…


Sumber Bacaan:

- Ifan Siswanto, Perubahan Paradigma Dalam Mengajar, Kompasiana, 2012

- Nindi Prehasti, Penguasaan Karakter Dalam Pembelajaran, Matra Pendidikan.com, 2021

- Sa, Kepsek dan Guru Harus Disiplin dalam Membentuk Karakter Anak Didik, fajarsumbar.com, 2021

- Sa, Memajukan Mutu Sekolah, Ada Komitmen Guru dan Kepala Sekolah, fajarsumbar.com, 2021.







ADSEN KIRI KANAN