Notification

×

Adsense atas

Adsen


Bruder Angelo Divonis 14 Tahun Bui Kasus Pelecehan Anak Panti Depok

Kamis, 20 Januari 2022 | 14:51 WIB Last Updated 2022-01-20T07:51:58Z

 

Ilustrasi.

Jakarta - Majelis hakim Pengadilan Negeri Depok menjatuhkan vonis 14 tahun penjara dan denda Rp100 juta subsidair 3 bulan kurungan terhadap Lukas Lucky Ngalngola alias Bruder Angelo atas kasus kekerasan/kejahatan seksual terhadap anak di panti asuhan.


"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 14 tahun dan denda sejumlah Rp100 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti pidana kurungan selama 3 bulan," ujar ketua majelis hakim Ahmad Fadil saat membacakan amar putusan di PN Depok, Kamis (20/1).


Bruder Angelo dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana melakukan ancaman kekerasan dan memaksa anak untuk melakukan perbuatan cabul secara berlanjut, sebagaimana dikutip CNNindonesia.com.


Ia terbukti melanggar Pasal 82 ayat (2) Undang-undang (UU) Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP. Vonis ini sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum.


Dalam menjatuhkan putusan, hakim mengungkapkan sejumlah hal yang memberatkan terdakwa. Yakni perbuatan terdakwa merupakan penyakit masyarakat dan perbuatan tercela, perbuatan terdakwa dapat merusak mental dan tumbuh kembang anak.


Kemudian, terdakwa adalah seorang rohaniawan yang semestinya memberikan contoh baik, semestinya tahu bahwa perbuatan yang dilakukannya bertentangan dengan norma-norma agama. Serta terdakwa tidak mengakui perbuatannya.


"Keadaan yang meringankan, satu, terdakwa berlaku sopan di persidangan," ujarnya.


Mendengar vonis ini, Bruder Angelo langsung menyatakan banding. Sementara jaksa penuntut umum menyatakan pikir-pikir.


Dalam penanganan kasus ini, Kepolisian Resor Depok dianggap lamban. Korban merupakan anak-anak penghuni panti asuhan yang didirikan pelaku di kawasan Depok.


Alih-alih ditahan, berdasarkan rilis "bedah kasus Bruder Angelo yang digelar End Child Prostitution, Child Pornography, & Trafficking of Children For Sexual Purposes (ECPAT)", pelaku justru masih bebas berkeliaran. Bahkan, disebut kembali mendirikan panti. Pengusutan kasus diketahui telah dimulai sejak 2019.(*)


adsensen-1

ADSEN KIRI KANAN