Notification

×

Adsense atas

Adsen

AS Siagakan 8.500 Tentara ke Eropa Timur Antisipasi Rusia

Selasa, 25 Januari 2022 | 11:47 WIB Last Updated 2022-01-25T04:47:46Z

 

Foto ilustrasi. Pasukan AS.

Jakarta - Badan Militer Amerika Serikat, Pentagon, menyiapkan 8.500 tentara untuk dikirim ke Eropa Timur mengantisipasi gerakan Rusia.


Sekretaris Pers Pentagon, John Kirby, mengatakan sekitar 8.500 tentara AS disiagakan untuk dikirim ke Eropa. Pengiriman tentara ini bukan dilakukan ke Ukraina, tetapi ke wilayah NATO di Eropa Timur sebagai upaya mencegah agresi militer Rusia.


Upaya mempersiapkan pasukan AS ini merupakan bentuk dukungan negara itu kepada NATO, terutama di wilayah Eropa Timur. Beberapa negara di kawasan tersebut merasa terancam dengan tindakan Rusia dan khawatir Moskow mengincar mereka, sebagaimana dikutip CNNindonesia.com.


"Ini merupakan bentuk menenangkan sekutu NATO kami," ujar Kirby dalam konferensi pers Pentagon.


Ia juga menuturkan tidak ada pasukan yang disiapkan untuk Ukraina.


Kirby kemudian menerangkan, beberapa unit diperintahkan siaga dalam pemberitahuan paling lambat lima hari sebelumnya. Beberapa dari tentara ini akan dikirim untuk mendukung Pasukan Respons NATO.


Presiden AS, Joe Biden, berkonsultasi dengan beberapa pemimpin negara Eropa untuk menegaskan solidaritas AS dengan sekutu di sana. Biden melakukan panggilan video selama 80 menit dengan pemimpin Eropa untuk membicarakan pembangunan militer Rusia dan tanggapan atas potensi invasi.


"Saya menjalankan pertemuan yang sangat, sangat, sangat baik, pemimpin Eropa menyepakati dengan suara bulat," ujar Biden kepada wartawan di Gedung Putih, dikutip dari Associated Press.


"Kami akan membicarakan tentang hal ini nanti," lanjutnya.


Menurut pernyataan Gedung Putih, para pemimpin membicarakan keinginan mereka menyelesaikan krisis di Rusia-Ukraina dengan solusi diplomatik. Mereka juga mendiskusikan upaya mencegah agresi Rusia lebih lanjut.


Ukraina, AS, dan beberapa negara Barat telah lama menuduh Rusia sedang bersiap menginvasi Ukraina.


Meski demikian, Rusia membantah tuduhan tersebut. Rusia menilai tuduhan itu merupakan kedok provokasi yang dibuat oleh NATO.


Namun, Rusia menempatkan sekitar 100 ribu pasukan di dekat perbatasan Ukraina. Negara itu juga mendesak NATO berjanji untuk tidak mengizinkan Ukraina masuk ke organisasi tersebut.


Di Moskow, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan meningkatnya tensi yang terjadi di kawasan tersebut adalah ulah NATO dan AS, bukan Rusia.


"Semua ini terjadi bukan karena kami, Rusia. Ini terjadi karena perbuatan NATO dan AS," tutur Peskov kepada wartawan.


Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri telah menyuruh seluruh keluarga diplomat AS yang berada di Kedutaan di Kyiv untuk meninggalkan Ukraina. Mereka juga menyuruh staf kedutaan non-esensial untuk meninggalkan kantor.


Juru bicara Ukraina, Oleg Nikolenko, menilai keputusan AS merupakan 'langkah prematur' dan simbol 'kehati-hatian yang berlebihan.' Ia juga menilai pihak Rusia sengaja menimbulkan kepanikan untuk warga Ukraina dan warga asing agar negara itu kacau.(*)



ADSEN KIRI KANAN