Notification

×

Adsense bawah

Adsen


Menelisik Kebijakan AKM di Sekolah Dasar

Rabu, 29 Desember 2021 | 14:09 WIB Last Updated 2021-12-29T07:12:46Z


Oleh : Alfian Tarmizi, M.Pd 
Guru SDN 07 Ulakan Tapakih, Padang Pariaman, Sumatera Barat


Jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) baru-baru ini, disentakkan dengan kebijakan Asesmen Nasional (AN) untuk murid Kelas V SD yang merupakan rentetan dari Merdeka Belajar yang dirancang Mendikbud dua tahun yang lalu. Hal itu, melalui kebijakan konsep Merdeka Belajar, Ujian Nasional (UN) ditiadakan dan diganti dengan AN.


AN ini konon khabarnya salahsatu terobosan untuk meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan. Penilaian ini dirancang supaya mendapatkan informasi yang akurat tentang beberapa data terkait proses dan hasil belajar. Hasil ini akan digunakan untuk memperbaiki kualitas proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa nantinya. 


AN memiliki 3 (tiga) instrumen penting untuk membuktikan keakuratan penilaiannya. Yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar.

AKM merupakan wujudnya berbentuk Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) ini bertujuan untuk mengukur literasi membaca dan literasi-numerasi peserta didik.


Sedangkan pelaksanaan Suvei Karakter bertujuan untuk mengukur kemumpunian karakterisrik peserta didik yang berbentuk sikap, nilai-nilai dan keyakinan. Juga kebiasaan-kebiasaan yang merupakan cerminan dari karakter setiap anak, setelah mendapatkan pendidikan karakter di sekolah.


Sementara itu, Survei Lingkungan Belajar merupakan alat ukur untuk mengetahui kualitas proses belajar mengajar. Termasuk ketersediaan dukungan dari sarana dan prasarana pada masing-masing satuan pendidikan.


Dalam Literasi Membaca muatan pelajaran yang ingin diukur adalah Bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Umum (IPA, IPS dan PKN). Sedangkan Literasi-Numerasi adalah bagian dari ilmu matematika.


Disamping itu, Instrumen Survei Karakter (ISK) diantaranya memuat materi Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Moral dan adat-istiadat atau budaya setempat yang masuk ke dalam rumpun muatan lokal (mulok).


Nah, kalau kita telusuri AKM ini merupakan seri evaluasi kurikulum 2013, dimana pembelajaran tematik yang didukung oleh 2 (dua) pilar penyangga garda K-13. Yaitu Literasi dan Pendidikan Karakter.


Pada kedua komponen ini, Lietarsi dan Pendidikan Karakter sangat menentukan jalannya kurikulum 2013. Atau dengan istilah lain, K-13 tidak akan berhasil tanpa dukungan dari kemampuan Literas siswa serta kemumpunian karakter siswa dan guru.


Persoalannya sekarang adalah persentasi keberhasilan kurikulum 2013 di setiap satuan pendidikan dengan Literasi dan Pendidikan Karakternya dipertanyakan dalam seri AKM ini.


Pada umumnya praktisi pendidikan di jenjang Sekolah Dasar seperti tersentak. Dengan adanya kebijakan AKM ini, kompetensi siswa dan guru dipertanyakan. Mampukah peserta didik di seantero pelosok negeri ini mengikuti seri AKM Literasi-Numerasi, Survei Karakter dan Lingkungan Belajar ...?


Hasil dari ANBK ini akan terpetakanlah mutu pendidikan masing-masing satuan pendidikan dengan butir-butir instrumen soal bagi siswa dan guru. Jadi, maka dengan sendirinya rapor mutu sekolahpun akan terpetakan secara akurat dan online. 


Kenapa demikian, disebabkan dalam ANBK gelombang I s/d IV antara 18-25 November 2021 baru-baru ini, siswa dan guru mengisi instrumen melalui Komputer secara online dan spontan, tanpa komando dari guru. Jadi data yang didapatkan lebih akurat dan original.


Namun, amat disayangkan pelaksanaan AKM ini terkesan prematur ditengah pandemi yang belum kunjung reda. Dimana pencapaian kompetensi Literasi, Numerasi dan Karakter siswa yang porak-poranda, akibat pandemi dalam dua tahun terakhir ini.


Akhirnya tujuan AKM bukannya meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan, melainkan alih-alih jadi parameter untuk menentukan kebijakan selanjutnya. Seperti perubahan kurikulum atau yang semisalnya. Sekali lagi, terdapat kesenjangan antara lingkungan pendidikan daerah perkotaan dengan lingkungan pedesaan.


Kesiapan para pendidik di daerah pelosok untuk mewujudkan sukses ANBK perlu dipertanyakan. Kelengkapan sarana dan prasarana pendukung terselenggaranya ANBK harus dikaji lebih serius lagi. Kompetensi siswa di daerah ditengah deraan pandemi harus menjadi pertimbangan. 


Jangan sampai di era keterbukaan arus informasi ini, masyarakat yang sudah makin melek literasi medianya. Tentu akan menjadi skeptis dan apatis terhadap kebijakan yang muncul di situasi serba salah ini.


Melalui tulisan ini penulis mengajak kita semua agar lebih cerdas dan peka dalam menyikapi kebijakan AKM ini. Melalui  adanya ANBK ini, setidaknya membuka mata kita bahwa dunia sudah semakin maju.


Di era zaman “Z” ini mau tidak mau, kita harus membekali putra-putri pewaris Banga, dengan kecakapan Literasi-Numerasi. Juga disertakan karakter yang dikemas dalam bingkai tekhnologi agar mereka tidak ketinggalan informasi dan jadi jongos di negeri sendiri.


Mari kita wariskan generasi mendatang, berbekal iptek dan imtaq dalam menyonsong arus informasi di dekade serba teknologi ini. Semoga ... !


Sumber Bacaan :-

- Basri Marzuki, Apa Tujuan ANBK Untuk Siswa SD ?, Detiknews, 2021

- Kemdikbud, Asesmen Kompetensi Minimum, ANBK.kemdikbud.go.id, 2021

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

- Nurul Fitriana, Apa Arti ANBK, Media Jabodetabek.com, 2021.





ADSEN KIRI KANAN