Notification

×

MGID ATAS

Adsen


Peran Guru Sebagai Konselor Tak Tergantikan

Jumat, 19 November 2021 | 20:32 WIB Last Updated 2021-11-19T13:37:40Z


Oleh : Sarini, M.Pd,
Guru SDN 31 VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman

Pandemi covid-19 yang melanda dunia, telah merubah seluruh aspek kehidupan manusia. Tak terkecuali di Indonesia,segala aktivitas kehidupan masyarakat dibatasi dengan mematuhi protokol kesehatan. Tak terkecuali, termasuk dunia pendidikan. Sehingga pembelajaran dilaksanakan dari rumah atau BDR, dan menuntut proaktif orang tua dalam membelajarkan anaknya.


Hp android menjadi kebutuhan peserta didik untuk menerima tugas dari guru. Mirisnya pemakaian gadged banyak disalahgunakan oleh peserta didik. Bermacam permainan yang ditawarkan gadged membuat peserta didik terlena. Perilaku mulai tak terkontrol dan  tugas sekolah terabaikan.


Inilah tantangan berat bagi pendidik untuk mengembalikan anak didiknya menjadi terdidik. Mengaplisikan kembali nilai-nilai religius, dan nilai karakter dalam perilaku keseharian peserta didik. Justru itu, diperlukan kerjasama berbagai pihak untuk mengembalikan peserta didik ke bangku sekolah.


Jadi, peran kepala sekolah, guru kelas, guru mata pelajaran, tenaga kependidikan, komite sekolah serta wali murid sangat dibutuhkan untuk membimbing, membina, memberikan layanan sesuai dengan kebutuhan dan  tumbuh kembang peserta didik.


Di era globalisasi yang sarat dengan teknologi, orang tua dan anak didik dengan mudah dapat mengakses berbagai pengetahuan. Layanan internet yang menyuguhkan berbagai bidang ilmu secara kasat mata, telah memudarkan figur guru dalam pembelajaran. Tak pelak lagi, sosok guru dapat digantikan oleh google. 


Kemudian, kehadiran rumah belajar, ruang guru, video pembelajaran lebih menarik ketimbang pembelajaran yang disuguhkan guru di sekolah. Namun, bila kita telusuri lebih dalam lagi, telah terjadi diksi dan kekosongan nilai moral atau karakter dalam diri siswa.


Konsewensinya lagi, penanaman nilai-nilai kebaikan yang dikembangkan guru dalam pemebelajaran tidak berfungsi. Terjadilah kemorosotan akhlak kekosongan jiwa, kegersangan hati dan matinya rasa. Disinilah, peran guru tidak tergantikan oleh tekhnologi secanggih apapun. Guru yang menjadi contoh tauladan mengajar dengan hati ikhlas sangatlah dirindukan.


Guru sebagai pendidik profesional mengemban tugas mulia, mencerdaskan anak bangsa dan membentuk insan cendikia. Melalui tangan dingin seorang gurulah anak didik berproses tumbuh kembang sesuai bakat minatnya.


Guru merupakan garda terdepan memajukan peradaban bangsa, menciptakan generasi penerus perjuangan dalam mengisi kemerdekaan. Lantas jasa guru, banyak manusia menjadi mulia dan terhormat.


Dan sangat pantaslah Islam menempatkan guru dalam posisi yang sangat mulia. Kenapa ? guru adalah manusia yang dikarunia ilmu oleh Allah Swt. Dengan ilmu itu guru menjadi perantara antar manusia dalam memperoleh ilmu untuk kebaikan dunia dan akhirat. 


Secara bahasa, guru atau pendidik merupakan orang yang mendidik (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan:1976).  Dalam bahasa Inggris dijumpai beberapa kata yang mendekati maknanya dengan guru, seperti teacher yang berarti guru atau pengajar dan tutor yang berarti guru pribadi  atau guru yang mengajar di rumah (Shadaly,1980:560).


Sedangkan dalam bahasa Arab dijumpai kata ustadz, mudarris, mu’allim dan muaddib. Ustadz jamak dari kata asaatidz yang berarti teacher atau guru, professor (gelar akademik/jenjang dibidang intelektual), pelatih, penulis dan penyair (When, 1974:15). Mudarris berarti teacher (guru), instructure (pelatih) dan lecture (dosen). Mu’allim berarti teacher (guru) dan trainer (pemandu). Sedangkan mudarrib berarti educator (pendidik) atau teacher in qur anic school ( guru dalam lembaga pendidikan al-Qur an). (Salim dan Kurniawan, 2012:135).


Terkait dengan fungsi guru sebagai pembimbing, pembina, pelatih dan yang mengarahkan siswa ke arah yang lebih baik, maka bimbingan konseling merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dari status guru.


Justru layanan bimbingan di sekolah merupakan satu komponen penting dalam proses pendidikan. Bimbingan merupakan bantuan dan layanan kepada individu dalam mengahadapi persoalan-persoalan yang timbul dalam kehidupannya. Bantuan dan bimbingan ini sangat tepat diberikan di sekolah supaya anak didik dapat berkembang dengan optimal. 


Tugas guru sebagai konselor adalah sebagai penyedia bimbingan dan layanan kepada siswa. Dalam konteks pemberian layanan dan konseling, Priyatno (1997:35-36) mengatakan bahwa pemberian layanan bimbingan konseling meliputi layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, pembelajaran, konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseling kelompok.


Kepala sekolah, guru dan wali kelas merupakan tokoh kunci dalam kegiatan bimbingan kepada peserta didik. Mengawasi tingkah laku dan kegiatannya, memperhatikan sifat-sifatnya, memahami kebutuhan dan minatnya. guru sebagai konselor mesti mengetahui dan memahami masalah-masalah yang dialami peserta didik, memehami titik kelemahan dan kekuatanya. Kemudian mencarikan jalan keluar dari permasalahan muridnya.  


Wabah Corona yang melanda Indonesia membuat  peran guru sebagai konselor  tidak terlaksana dengan baik. Guru lebih mengutamakan mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik melalui gaway sehingga penanaman nilai-nilai karakter terabaikan. Tuntutan pencapaian kurikulum dan ketuntasan hasil belajar minimal, membuat guru lebih memfokuskan pencapaian materi pelajaran. 


Pada masa new normal sekarang ini, peserta didik sudah dibolehkan belajar tatap muka walaupun terbatas. Hal ini jadi berita baik sekaligus tantangan berat bagi guru. Akhlak siswa yang sudah hampir dua tahun berlalu ini, tidak tersentuh oleh tangan dingin seorang guru, maka membuat masalah baru penghambat pembelajaran. 


Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru memegang peranan penting membimbing anak didiknya. Perilaku peserta didik yang mulai kurang terkontrol dan disiplin yang sudah mulai kendor. Untuk itu, dibutuhkan bimbingan guru yang lebih ekstra mendidik, mengarahkan dan mengontrol perilaku peserta didik. 


Peran guru sebagai penyedia bimbingan dan pelayanan kepada peserta didik, sangat berarti bagi mereka dalam menjalani proses pembelajaran, baik persoalan yang terkait dengan sekolah maupun di luar sekolah. 


Ada beberapa hal yang mesti dilakukan guru dalam perannya sebagai konselor di sekolah, diantaranya: Pertama, memperlakukan peserta didik sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang dan mampu mengarahkan dirinya sendiri untuk mandiri. Bersikap positif dan wajar kepada peserta didik. 


Kedua, memperlakukan siswa secara hangat, ramah, rendah hati dan menyenangkan. Ketiga, memahami peserta didik secara empirik, berikan penghargaan atas prestasinya dan terima ia apa adanya. Keempat, kenali perilakunya yang menyimpang, rasakan  apa yang dirasakannya (empati). 


Kemudian memberikan pemahaman dan pengarahan secara lembut. Jangan menolak, apalagi mencaci dan mendeskreditkannya. Hal itu, tentu akan membuat mereka makin jauh dari upaya guru untuk membantunya.


Selain itu, guru harus membimbing peserta didik untuk membudayakan nilai-nilai karakter, mulai dari adab bicara, disiplin, perilaku hidup bersih dan mematuhi tata tertib sekolah. Guru juga harus menciptakan situasi yang kondusif, agar peserta didik nyaman dalam belajar dan dapat menerima pelajaran dengan perasaan senang.


Begitupun juga, guru harus memberi teguran langsung kepada peserta didik, bila ia bertindak yang tidak sesuai dengan norma, adab dan agama sembari menasehati dengan lembut.  Berikan sentuhan ringan dan suara yang lembut supaya peserta didik tidak merasa dipermalukan. 


Juga memberikan motivasi kepada peserta didik supaya belajar dan melakukan perbuatan baik dimanapun berada, berikan reword dan pujian bila peserta didik melakukan hal positif. 


Guru yang baik adalah guru yang menyadari tugasnya, disamping memberikan pengajaran, juga bertugas sebagai pemberi bimbingan dan pelayanan kepada peserta didik. 


Hal demikian merupakan bentuk upaya guru dalam pengabdiannya yang harus dilakukan tanpa mengaharapkan imbalan demi kesuksesan peserta didik yang dibimbingnya. 


Dari uraian di atas, jelaslah bagi kita bahwa guru sebagai pendidik dan pembimbing tak bisa dipisahkan karena saling berkaitan. Kedua peran tersebut hendaknya dilaksanakan secara berkesinambungan agar peserta didik dapat memahami dan mengarahkan dirinya kearah yang lebih baik. Hal ini sangat dibutuhkan dalam beradaptasi secara maksimal di sekolah, keluarga dan di tengah-tengah masyarakat.  


Melalui tulisan ini, saya menghimbau kepada para guru untuk memperhatikan akhlak peserta didiknya.Jangan membiarkan penyimpangan akhlak itu berlarut-larut, baru diperbaiki. Tidak ada kata tunggu dalam kebaikan. Kalau bukan kita yang bernama guru, siapa lagi yang akan peduli dengan peserta didiknya. Bukankah mereka generasi emas penerus bangsa yang kita cintai ini. Merdeka Belajar ... !


Sumber Bacaan:

- Arni Muhammad & Asmidir Ilyas, Profesi Kependidikan, UNP, 2003

- Asfar Tanjung, Jalan Sukses Menuju Guru Profesional, 2017

- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), 1976

- Salim dan Kurniawan, Guru dalam lembaga pendidikan al-Qur an. 2012

When, Gelar akademik/jenjang di bidang intelektual), 1974.



ADSEN KIRI KANAN