Notification

×

MGID ATAS

Adsen


Muhammadiyah dan Indonesia

Minggu, 21 November 2021 | 06:08 WIB Last Updated 2021-11-20T23:09:22Z

Dan hendaklah di antara kalian ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. [Surat Ali 'Imran 104]

Alhamdulillah, Persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar sejak berdirinya 18 Nopember 1912 sampai sekarang 20 Nopember 2021 berusia 109 tahun lebih 2 hari. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Muhammadiyah sebuah organisasi tertua yang berskala nasional dengan jaringan organisasi dan amal usaha yang terbesar dan tersebar di seluruh pelosok dan penjuru Indonesia.

Persyarikatan Muhammadiyah telah memberikan kontribusi yang besar dalam mempersiapkan, memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Muhammadiyah sudah  meng-Indonesia sebelum Negara Indonesia ini ada. Muhammadiyah tidak pernah mengatakan NKRI harga mati, tetapi Muhammadiyah dengan segala jaringan organisasi dan amal usahanya telah membuktikan bahwa Muhammadiyah mati-matian memperjuangkan dan membela NKRI.

Belum pernah tercatat dalam sejarah bahwa Muhammadiyah pernah mengkhianati dan melakukan tindakan yang merugikan negara, seperti yang dilakukan oleh organisasi terlarang PKI dengan segala antek-anteknya, atau perbuatan yang merugikan negara dan bangsa seperti yang dilakukan oleh para koruptor yang merampas, merampok dan menguras kekayaan negara dan bangsa Indonesia untuk memperkaya diri, keluarga dan kroni-kroninya.

Siapa yang tidak kenal dengan Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo, beliau berdua tokoh Muhammadiyah yang mengambil peran penting ketika sehari setelah kemerdekaan diproklamasikan, Indonesia yang baru lahir itu mendapat ancaman disintegrasi dari komunitas Kristen Indonesia Timur yang ingin memisahkan diri jika tujuh kata  Piagam Jakarta telah menjadi konsensus nasional itu  tetap dipertahankan.

Ki Bagus Hadikusumo dan Kasman Singodimedjo mengambil inisiatif dan gerakan cepat untuk melakukan lobi-lobi politik dengan tokoh-tokoh Islam dan para anggota BPUPKI yang masih ada di Jakarta untuk melakukan perubahan yang sangat mendasar, yaitu mencoret tujuh kata yang ada di Piagam Jakarta yang berisi kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya, diganti dengan kalimat "Ketuhanan Maha Esa" setelah berunding dengan Mohammad Hatta dengan memberikan jaminan bahwa "Ketuhanan Maha Esa" itu adalah "Tauhid" sebagaimana yang diyakini oleh umat Islam. 

Itulah susunan Pancasila yang resmi yang sila pertamanya "Ketuhanan Maha Esa" yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Alhamdulillah, negara bangsa yang baru itu terhindar dari perpecahan. Itulah sikap moderasi ber-Indonesia yang pernah dilakukan oleh tokoh-tokoh dan kader Muhammadiyah dan kemudian dikenal sebagai sumbangan terbesar umat Islam terhadap bangsa dan negara Indonesia. 

Siapa yang tidak kenal dengan Jenderal Besar Sudirman, dia adalah kader dan tokoh Muhammadiyah.  Semua jalan utama di kota-kota besar di seluruh Indonesia, diberi nama Jalan Sudirman. 

Jabatan Panglima TNI pertama kali dijabat oleh Jenderal Soedirman, yang saat itu bernama Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat atau Panglima TKR. Sebagai panglima pertama, Jenderal Soedirman tidak dipilih oleh Presiden Soekarno, tetapi dipilih oleh para anggota TKR sendiri melalui sebuah rapat yang disebut Konferensi TKR pada tanggal 12 November 1945 (Wikipedia).

Siapa yang tidak kenal dengan proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno? Pada tahun 1933 pernah diasingkan  oleh Penjajah Belanda ke Flores dan pada tahun 1938 dipindahkan ke Bengkulu. Di sana beliau menjadi pengurus dan guru di Muhammadiyah. Dia menikah dengan seorang gadis bernama Fatmawati anak dari Hasan Din, Konsul Muhammadiyah Bengkulu. Fatmawati adalah Ibu Negara pertama dan yang menjahit Bendera Pusaka Indonesia.

Presiden kedua Indonesia, Soeharto pada pembukaan muktamar di Banda Aceh, pada 1995, membuat pengakuan yang isinya: "Tanpa tedeng aling-aling, saya ini bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia; dan alhamdulillah memperoleh kepercayaan masyarakat Indonesia untuk memimpin pembangunan nasional. Semoga apa yang saya lakukan ini tidak mengecewakan warga Muhammadiyah" (SM No. 15, Th 100).

Dari kancah Muhammadiyah dan pendidikan yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi, sejak berdirinya telah melahirkan kader-kader terbaik bangsa, para pejuang, pahlawan dan pemimpin bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, membela dan mengisi kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

In syaa Allah ke depan Muhammadiyah akan senantiasa berada di garis terdepan dalam mempertahankan dan membela Negara Kesatuan Republik Indonesia dari berbagai rongrongan yang akan menghancurkan Indonesia, baik dari luar maupun dari dalam, termasuk dari rongrongan para pengkhianat bangsa yang telah merampok, merampas dan menguras kekayaan alam Indonesia untuk memperkaya diri, keluarga dan kroni-kroninya. Muhammadiyah telah memiliki kesepakatan dan telah menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara "Darul 'Ahdi was-Syahadah".

SELAMAT MILAD MUHAMMADIYAH KE 109 "INDONESIA TETAP MERDEKA, DAN ISLAM TERUS JAYA".

Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb.

Jakarta, 20 November 2021
ttd
Risman Muchtar 


ADSEN KIRI KANAN