Notification

×

MGID ATAS

Adsen


Mambangkik Batang Tarandam Mestilah Wujud 4 Poin Penting Ini

Selasa, 09 November 2021 | 21:48 WIB Last Updated 2021-11-09T14:49:02Z

Ilustrasi


Kab.Solok, fajarharapan.id - Mambangkik batang tarandam atau mambangkik tareh tabanam, merupakan salah satu kata petuah adat dari sekian banyaknya petuah adat di dalam komunal masyarakat Minangkabau.


Pada umumnya masyarakat adat Minangkabau senantiasa akan mewariskan petuah adat tersebut, baik itu secara lisan maupun tulisan kepada anak kemenakan mereka di dalam nagari bahkan di perantauan.


Hal tersebut bertujuan untuk mendorong semangat anak kemenakan mereka, dengan harapan di kemudian hari anak kemenakan tersebut dapat mengangkat derajat kaum suku atau nagari mereka dari suatu keterpurukan, apakah itu keterpurukan secara ekonomi maupun sosial.


Lantas apa saja Empat poin penting yang terkandung di dalam petuah Mambangkik Batang Tarandam tersebut, lalu apakah ke-Empat poin itu mesti wujud dalam prosesnya?


Pakar hukum adat alam Minangkabau sekaligus salah seorang dosen pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhamadyah Bukit Tinggi Sumatera Barat Drs.M.D Mansur, dalam bukunya yang berjudul Hukum Adat Alam Minangkabau, pada tahun 2011 silam dalam sebuah diskusi ilmiah bersama mahasiswa hukum UMSB Bukit Tinggi, secara detail beliau telah memaparkan arti dan nilai apa saja yang terkandung di dalam petuah "Mambangkik Batang Tarandam" tersebut, begini penjelasannya.


"Ibarat orang akan membangun rumah, dahulu saat meninggal atau mangkatnya seorang penghulu yang lama, belum ada tersedia uang untuk pembeli semen untuk upah tukang dan lain sebagainya, maka kayu yang telah ada direndam saja di dalam kolam," papar dosen gaek tersebut.


"Kini kemampuan itu telah ada, maka ramuan itu dibangkit kembali, dimulai dengan rapat keluarga, disamping pentingnya merencanakan acara bagi yang akan diangkat sebagai penghulu, lebih penting lagi adalah mengucapkan terima kasih," jelas beliau.


"Karena selama "sarik di nan tidak" masalah adat pada hari itu telah ditebus oleh penghulu sa-tungku/sa-suku dalam nagari, dan masalah waris - pusaka telah dijalankan oleh Kepala Indu (Ibu yang di tua-kan), setelah balapiak basah, badaun cabiak, adat di isi limbago dituang, tanduak ditanam dagiang dilapeh, darah samo dikacau, maka setelah itu dilekatkan atau disematkan gelar pusaka penghulu, panungkek dan tuanku kepada orang yang telah disepakati, sedangkan mamak kepala waris - pusaka, serta gelar semua laki-laki di dalam kaum itu menyusul menurut adat salingka nagari," papar dosen ber-suku Piliang tersebut.


Mengutip dari penjelasan Drs.MD.Mansur diatas, maka dapat di simpulkan dalam upaya Mambangkik Batang Tarandam mestilah wujud Empat poin penting dalam prosesnya yaitu,


Poin pertama adalah Kemampuan, lalu Musyawarah, kemudian Perencanaan dan ke-Empat adalah poin yang paling penting yaitu Ucapan Terimakasih.(nr)


ADSEN KIRI KANAN