Notification

×

MGID ATAS

Adsen


India Tutup 5 Pembangkit Listrik Batu Bara

Kamis, 18 November 2021 | 06:40 WIB Last Updated 2021-11-17T23:40:00Z

ilustrasi


New Delhi - India menutup sementara lima pembangkit listrik bertenaga batu bara di New Delhi akibat polusi yang melanda wilayah itu sejak pekan lalu.


Komisi Manajemen Kualitas Udara India juga melarang transportasi truk yang membawa barang non-esensial, termasuk menghentikan kegiatan pembangunan di New Delhi dan kota-kota sekitarnya.


Tingkat polusi di New Delhi mencapai level yang sangat buruk pada bulan ini. Indeks Kualitas Udara di kota itu mencapai 499 dari 500, meningkatkan risiko orang sehat dapat juga mengalami penyakit pernapasan.


New Delhi merupakan kota yang kerap diselimuti kabut asap musim dingin parah tiap tahun. Penurunan suhu menangkap polutan mematikan di udara yang muncul dari pembangkit listrik tenaga batu bara yang ada di dekat kota, asap kendaraan, dan pembakaran sampah.


Sebelumnya, Mahkamah Agung India mendesak pemerintahan membatasi kegiatan masyarakat di luar ruangan, termasuk menerapkan aturan bekerja dari rumah, akibat kabut asap polusi yang terus memburuk menyelimuti beberapa kota, termasuk New Delhi.


"Kami mengarahkan pemerintah pusat dan negara bagian wilayah ibu kota nasional untuk memberlakukan aturan kerja dari rumah sementara waktu," kata Ketua Mahkamah Agung N.V. Ramana pada Senin (15/11/2021) sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.


Mahkamah Agung juga meminta penanganan yang mendesak dari pemerintah untuk mengendalikan pembakaran limbah tanaman di negara bagian Haryana, Punjab, dan Uttar Pradesh.


Tak hanya itu, Mahkamah Agung meminta penghentian kegiatan lalu lintas yang tidak penting untuk mengurangi polusi udara.


Selain permintaan dari MA, sekolah-sekolah di New Delhi juga telah diliburkan akibat kabut asap yang kian memburuk.


"Sekolah akan ditutup agar anak-anak tak harus menghirup udara berpolusi," ujar Menteri Kepala New Delhi, Arvind Kejriwal, Sabtu (13/11/2021).


India bergabung dengan China memutuskan untuk tidak segera menyetop penggunaan batu bara mereka di Konferensi Perubahan Iklim (COP26). Padahal, negara itu terus berhadapan dengan masalah polusi udara yang berdampak buruk bagi kesehatan.


Sebuah studi dari University College London (UCL) menemukan bahwa polusi udara dapat meningkatkan risiko kebutaan yang tidak dapat disembuhkan.


Tak hanya itu, Agus Dwi Susanto, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyebut 7 juta orang meninggal prematur tiap tahun akibat polusi udara baik dari luar ruangan maupun dalam ruangan.


Polusi udara bisa memicu penyakit-penyakit penyebab kematian seperti pneumonia, stroke, penyakit jantung iskemik, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) juga kanker paru. (*)





ADSEN KIRI KANAN