Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Menilik Tabrakan Misterius Kapal Selam AS di LCS

Minggu, 10 Oktober 2021 | 15:28 WIB Last Updated 2021-10-10T08:28:00Z

  

Kapal selam tenaga nuklir AS, USS Connecticut.


Jakarta - Kapal selam tenaga nuklir AS, USS Connecticut menabrak objek bawah air di Laut China Selatan (LCS), Sabtu (2/10). Namun objek bawah air yang ditabrak kapal selam kelas Seawolf ini belum jelas diketahui.


Insiden ini membuat setidaknya 11 awak kapal selam terluka. Seorang pejabat pertahanan menyebut kesebelas awak kapal mengalami luka ringan hingga menengah. Sedangkan USS Connecticut mengalami sedikit kerusakan tetapi tidak serius.


"Kapal selam masih dalam kondisi aman dan stabil. Tenaga penggerak nuklir USS Connecticut tak terpengaruh dan masih beroperasi penuh," sebut Angkatan Laut AS dalam pernyataan resmi yang dikutip dari AFP.


Apa objek bawah air misterius yang ditabrak USS Connecticut?


Hingga kini Angkatan Laut AS belum mengungkap objek bawah air yang ditabrak kapal selam ini. Namun sejumlah pengamat menyebut medan bawah air LCS dan kebisingan lalu lintas di permukaan bisa menyulitkan kinerja sensor canggih milik kapal selam, sebagaimana juga dikutip CNNindonesia.com


"Benda itu bisa saja sebuah objek yang kecil sehingga terlewat oleh sistem sensor sonar kapal selam di perairan yang sibuk dan berisik seperti itu," kata Alessio Patalano, profesor strategi dan perang King's College London pada CNN.


Laut China Selatan merupakan salah satu kawasan perairan paling sibuk di dunia. Menurut Patalano, 'kesibukan' di permukaan air bisa mempengaruhi sensor atau penggunaan sensor oleh operator.


Di samping itu, LCS memang medan tersulit buat kapal selam. Mantan kapten Angkatan Laut AS dan mantan direktur operasi Pusat Intelijen Gabungan Komando AS di Pasifik (US Pasific Command), Carl Schuster berkata area LCS memiliki lingkungan akustik yang sangat buruk.


Ambient noise dari arus yang lewat di antara pulau-pulau dan kondisi air yang tidak konsisten mempengaruhi penerimaan akustik sonar.


Perairan dan dasar laut di LCS kerap berubah dalam waktu lambat tapi tidak bisa dihindari. "Itulah mengapa negara-negara di wilayah ini, AS dan China getol melakukan survei dan patroli di sana," imbuh Schuster.(*)


ADSEN KIRI KANAN