Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Guru Penggerak Terobosan Baru dalam Dunia Pendidikan

Kamis, 14 Oktober 2021 | 19:03 WIB Last Updated 2021-10-14T12:05:18Z

Oleh : Alfian Tarmizi, M.Pd

(Guru SDN 07 Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman)


“Guru penggerak diharapkan menjadi katalis perubahan pendidikan dimana ia di tempatkan dan bertugas. Ia bertindak sebagai ‘katalisator of the changes’ dalam dunia pendidikan guru penggerak. Mereka memiliki andil. 

(1). Menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya, ( 2). Mendorong peningkatan kepemimpinan murid di sekolah, (3).Menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well-being ekosistem pendidikan sekolah”


Guru merupakan agen perubahan dalam dunia pendidikan. Tentu, predikat sebagai agen perubahan tersebut, maka guru harus berani “move on” keluar dari zona nyamannya. Pun yang dimaksud keluar dari zona nyaman (kebiasaan-kebiasan buruk yang ditolerir) itu dipastikan guru akan berhasil. Indikasi ini menunjukkan bahwa untuk mencetak generasi yang unggul dalam iptek dan imtaq. Untuk  menghadapi demikian, haruslah mengajar dengan sepenuh hati, tekun, penuh kesabaran, memiliki karakter yang mumpuni, inovasi yang dinamis dan update informasi yang aktual.


Seorang ‘Guru’ sejatinya bisa menggerakkan hati peserta didik agar dia mau belajar dalam kondisi apapun. Semangat belajar begitu tinggi ini harus ditularkan kepada muridnya. Apalagi ia telah lama menyandang seorang guru dengan citra sebagai pendidik yang digugu dan ditiru.


Mendikbud, Nadiem Makarim dengan idenya untuk merekrut ribuan guru penggerak, guru praktek/guru pendamping dan fasilitator, diharapkan mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan pro aktif mengembangkan pendidik lainnya (para guru) untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada siswa. (Annisa Cahyani:2021)


Dengan demikian guru penggerak harus menggerakkan semua guru untuk melakukan perobahan-perobahan baik dalam pola pikir, proses pembelajaran, metode mengajar yang selama ini berada dalam kungkungan skeptisnya. Fakta dan realita telah mengedukasi gaya pembelajaran yang berbau konvensional (teacher centered) telah dilalui bertahun-tahun.


Juga pembelajaran model konvensional ini “banyak digandrungi sebagian besar guru” , dan itupun sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Pembelajaran sekarang yang diinginkan adalah bersifat student centered (berpusat pada siswa).


Di era digital 4.0, peserta didik butuh pembelajaran yang membuat mereka merasa tertantang dan happy. Menghadapi hal itu, maka kreatifitas dan imajinasi mereka akan muncul dengan sendirinya. Guru yang responsif dan peka terhadap perkembangan peserta didiknya akan mengeksplorasi minat dan bakat siswa. Guru memfasilitasi minat dan bakat tadi untuk diedukasi, dibimbing dan diarahkan sesuai kemampuannya. Pola pembelajaran seperti ini akan menampilkan ‘out put dan out come’ yang mampu bersaing di dunia luar.


Di sinilah peran guru penggerak dalam menginspirasi, mengajak dan menggerakkan para guru untuk merobah pola pikir mengajar dari teacher centered menjadi student centered. Pembelajaran harus dikemas dan didesain dengan baik, memakai alat peraga, media cetak maupun elektronik. 


Apalagi ada dukungan untuk mempergunakan beragam metode dan model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan karakteristik siswanya, itu lebih diutamakan disaat sekarang ini.


Tentunya, siswa akan merasa betah dan senang untuk belajar. Pembelajaranpun akan bermakna, mengena di hati siswa dengan tujuan pembelajaran akan mudah dicapai dengan baik.


Disamping itu, guru penggerak harus mempersiapkan masa depan anak didik dengan melakukan pemetaan potensi siswa. Juga sekaligus mengamati keseharian siswa, menggali minat dan bakat mereka untuk disalurkan dengan memfasilitasi secara baik demi kemajuan peserta didik.


Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menjelaskan; dalam unit pendidikan harus ada minimal satu guru penggerak. Menurut mas menteri (Nadiem-red), guru penggerak haruslah mengutamakan ‘kepentingan murid daripada karier guru’. Guru penggerak harus bisa mengambil tindakan secara inisiatif untuk melakukan perubahan pada anak didiknya. (Nadiem:2020)


Kehadiran program guru penggerak, Pemerintah bisa membantu memerdekakan guru dalam berinovasi. Nadiem menambahkan inovasi ini harus dibiasakan dan berkelanjutan. Kesemua mereka didampingi oleh guru penggerak dan guru pengajar praktek serta guru fasilitator, diharapkan para guru di satuan pendidikan dapat belajar berinovasi dalam pembelajaran di sekolah. (Mendikbud Nadiem Anwar Makarim : 2020)


Adapun langkah pertama untuk menjadi guru penggerak adalah dengan belajar teknologi. Guru harus belajar IT. Dalam membawakan materi kepada murid, maka guru harus menggunakan IT agar peserta didik merasa antusias dalam menerima pembelajaran. Artinya, guru mengerti IT dan bisa mengakses internet serta meng’update’ informasi secara penuh disiplin ilmu yang terus berkembang sesuai perputaran zaman.


Bila guru dapat menguasai IT dasar, guru akan mudah mengemas Proses Belajar Mengajar (PBM) dengan memanfaatkan media elektronik seperti HP Android, Video, Internet dan berbagai materi di Google sites. Dengan begitu peserta didik merasa punya tantangan, funs dan enjoy dalam belajar.


Begitupun ketika melakukan evaluasi dan tindak lanjut dalam penilaian. Data-data nilai siswa harus dientrikan ke dalam komputer melalui sitem aplikasi E-Raport. Sehingga memudahkan guru dalam melakukan penilaian dan pembuatan raport ketimbang sitem manual. Tingkat validitas datapun jadi lebih akurat.


Langkah kedua menuju guru penggerak dengan memegang prinsip long life learning. Guru senantiasa belajar dan terus belajar, memacu diri untuk menambah kompetensi dengan memanfaatkan internet sebagai sumber rujukan/inspirasi dalam mendesain pembelajaran. Mengikuti pelatihan-pelatihan secara darring dan mendownload video-video pembelajaran untuk memperkaya kecakapan mengajar dan berinovasi dalam pembelajaran.


Dan ketiga, guru penggerak berani berinovasi, bergerak tanpa komando dalam menciptakan pembelajaran yang menstimulus pola pikir kritis peserta didik ketika menerima informasi materi yang disuguhkan guru.


Melalui penerapan tingkat pemikiran Higher Order Thinking Skill (HOTS) secara kontiniou, diharapkan mampu melahirkan siswa yang memiliki kecakapan untuk meraih kesuksesan di abad 21.


Semoga tulisan ini dapat menginspirasi pembaca dan menyentuh naluri sebagai guru dan pendidik agar dapat membina masa depan murid-muridnya. Memang benar, menjadi guru penggerak bukanlah hal yang mudah, tetapi itu tidak akan sulit dengan bermodalkan niat, tekad dan kemauan tinggi untuk mewujudkan cita-cita itu.


Dunia pendidikan yang mengalami stagnasi akibat musibah pandemi sejak 2 tahun belakangan ini, maka dibutuhkan orang-orang seperti guru penggerak untuk mewarnai potret dunia penddikan Indonesia agar lebih maju dan mampu bersaing dalam era 4.0 nantinya.(***)


DAFTAR BACAAN:

- Anisa Cahyani, 7 Manfaat Penting Program Guru Penggerak Bagi Pendidik, 20 April 2021.

- Celly Beto, Menjadi Guru Penggerak Dalam Tantangan Zaman, Depoedu.com, 20 Januari 2020.

- Guru.penggerak@kemdikbud.go.id 

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2020.

- Strategi Pengimbasan  Pembelajaran Kreatif Guru Penggerak, Pusat Kajian Penelitian Kemdikbud, 2020.

ADSEN KIRI KANAN