Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Unsur Penunjang Museum Istano Basa Pagaruyung

Selasa, 07 September 2021 | 21:26 WIB Last Updated 2021-09-07T14:26:40Z
Museum Istano Basa Pagaruyung


Ditulis: Yuldaveri


Museum Istano Basa Pagaruyung yang lebih terkenal dengan nama Istano Pagaruyung, merupakan sebuah istana yang terletak di jalan Sutan Alam Bagargasyah, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.


Terletak di Nagari Pagaruyung Kecamatan Tanjung Emas, sekitar 106 km dari Ibukota Provinsi Sumatera Barat,5 km dari Kota Batusangkar dan mudah dijangkau dengan sarana transportasi roda 2 dan roda 4.


Objek wisata ini merupakan objek wisata primadona Kabupaten Tanah Datar. Istano Basa Pagaruyung dibangun tahun 1976 dan merupakan duplikat bangunan Rajo Alam yang dibakar Belanda pada tahun 1804.

 

Bangunan ini terdiri dari 11 gonjong, 72 tonggak dan 3 lantai, objek wisata ini dilengkapi dengan surau, tabuah, rangkiang patah 9. Istano Basa Pagaruyung dilengkapi dengan beragam ukiran yang tiap-tiap bentuk dan warna ukiran mempunyai falsafah sejarah dan budaya. Minangkabau. 


Museum Istano Basa Pagaruyung itu juga mempunyai unsur penunjang. Di antaranya dapur, surau, rangkiang patah sembilan, tabuah larangan, Taman Istano Basa, Kuburan Panjang Datuak Tantejo Gurhano.


Dapur

Dikutip blog, suprizaltanjung.wordpress.com, dapur mempunyai dua ruangan. Ruangan sebelah kanan berfungsi sebagai tempat memasak dengan perkakas atau alat – alat dapur yang serba tradisional. Ruangan sebelah kiri berfungsi sebagai tempat para dayang yang berjumlah dua belas orang.


Surau

Surau terletak dibelakang Istano yang berfungsi sebagai tempat shalat, belajar mengaji (membaca Alqura’n) dan tempat tidur putra raja yang telah akil baliqh atau telah berumur 7 tahun ke atas. Di samping mengaji, disinilah mereka dididik tentang Undang–Undang Adat, hukum syarak, sejarah, seni budaya dan bela diri.


Rangkiang Patah Sembilan

Berda di pekarangan Istano yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi. Selain itu fungsi rangkiang di Sitanao adalah sebagai simbol kemakmuran dan kekuatan Alam Minangkabau


Tabuah Larangan

Ada dua buah Tabuah Larangan di Istano. Tabuah pertama bernama Gaga Di Bumi yang dibunyikan apabila terdapat peristiwa yang besar seperti bencana alam, kebakaran, tanah longsor dsb. Tabuah kedua bernama Mambang Diawan yang dibunyikan untuk memanggil Basa Nan Ampek Balai ( Dewan Empat Menteri) yaitu Tuan Titah di Sungai Tarab, Tuan Kadi di Padang Ganting, Tuan Indomo di Saruaso, Tuan Mankudun di Sumanik, Tuan gadang di Batipuh serta Tigo Selo (Raja Alam, Raja Adat, Raja Ibadat) untuk mengadakan rapat.


Taman Istano Basa

Taman Istano Basa mewakili dan melambangkan semua potensi dan fasilitas daerah dimana Minangkabau berada agar tampil blebih terkenal, lebih dihormati, lebih dikagumi, lebih cemerlang, lebih produktif, lebih potensial, lebih berarti dan lebih berdaya guna dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara karena potensi dan fasilitas memperindah Minangkabau dalam arti yang luas.


Kuburan Panjang Datuak Tantejo Gurhano

Kuburan ini merupakan makam Datuak Tantejo Gurhano yang  merupakan tokoh arsitek pembuatan Balairungsari – Tabek.   Kuburan ini sangat panjang  + 25,5  yang keunikannya  jika di ukur berkali – kali ukurannya berbeda- beda hingga di kenal dengan  “ Kuburan Panjang “.   Terletak   + 14 km dari kota Batusangkar di Nagari Pariangan Kecamatan Pariangan.


sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Basa_Paguruyung

https://suprizaltanjung.wordpress.com

ADSEN KIRI KANAN