Notification

×

MGID ATAS

Adsen


Tatanan Keluarga Ikut Menentukan Kepribadian Anak

Rabu, 29 September 2021 | 13:40 WIB Last Updated 2021-09-29T07:02:38Z

 


Oleh : Sarini, M.Pd

(Guru Pendidikan Agama Islam, SDN 31  VII Koto Sungai Sariak)



“Hadiah terbaik dari orang tua untuk anak adalah keteladan, pengasuhan dan pendidikan Islami dalam keluarga”.


Pendidikan merupakan kebutuhan setiap manusia, seiring perkembangan zaman. Makanya lembaga pendidikan berpacu dalam meningkatkan mutu Sekolah agar dapat kian diminati oleh para penuntut ilmu.


Sehingga dalam ajaran agama Islam mewajibkan setiap manusia untuk menuntut ilmu dengan berpedoman kepada al-Qur an dan Sunnah. Pendidikan Islam itu akan menuntun manusia dalam menjalani hidup dan kehidupan untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.


Kegiatan pendidikan dapat berlangsung dalam keluarga, sekolah, dan di lingkungan masyarakat. Kesemua proses yang dilalui bertujuan menumbuh kembangkan potensi rohani dan jasmani anak supaya mereka bisa memahami. 


Artinya, ia akan mampu mengimplementasikan nilai-nilai agama, norma-norma budaya serta berilmu pengetahuan dalam hidup dan kehidupannya baik secara individual maupun sosial. 

 

Disinilah tatanan keluarga yang merupakan sebagai lingkungan pertama bagi anak dalam proses pertumbuhan awal untuk menghadapi kehidupannya. Sejatinya pada lingkungan keluarga inilah anak akan mendapatkan berbagai pengajaraan dan pembiasaan untuk mempengaruhi pertumbuhannya.


Sehingga keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua yang bersifat informal dan kodrati. Ayah dan ibu dalam keluarga berperan sebagai pendidik, anak yang menjadi perserta didiknya bertujuan supaya anak menjadi terdidik baik aspek spiritual, sosial, pengetahuan dan keterampilan. Kesemua itu untuk pembentukan karakter anak menjadi manusia yang beriman, bertaqwa dan berakhlakul karimah.  


Kemudian, unsur penting yang ikut membantu pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak adalah iman. Iman dan aqidah yang kokoh dalam diri anak ini dapat direalisasikannya ajaran Islam melalui tindakan dalam bentuk sikap, ucapan, tindakan dan perbuatan. 


Pengenalan pendidikan agama kepada anak tidak terlepas dari peran aktif keluarga khususnya orang tua. Walaupun  dalam pelaksanaannya, orang tua menyerahkan pembinaan pendidikan agama anak kepada sekolah formal maupun non-formal.


Namun demikian, orang tua tetap bertanggungjawab paling awal dalam pendidikan agama. Lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat merupakan tiga komponen yang dapat membentuk karakter seseorang. Ketiga elemen ini saling mempengaruhi, tetapi lingkungan keluargalah yang paling dominan mempengaruhi pendidikanan anak.


Oleh karena itu, kedua orang tua harus menyadari pentingnya pendidikan bagi anak khususnya pendidikan agama Islam. Hal demikian merupakan tanggungjawab orang tua terhadap generasi yang dilahirkannya untuk memperoleh kebahagian di dunia dan akhirat.  Sebagaimana dijelaskan Allah dalam Al-Qur an surat At-Tahrim ayat 6  yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya”.


Pada ayat diatas ditujukan kepada orang tua yang percaya kepada Allah Swt dan Rasul-Nya agar mereka menjaga dirinya dari api neraka yang bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu, dengan cara mentaati perintah Allah dan manjauhkan larangan-Nya.


Dan Allah perintah untuk mengajarkan kepada keluarganya agar selalu taat dan patuh pada perintah Allah Swt agar mereka selamat dari siksaan api neraka.  Begitu tegas Allah memberikan gambaran bahwa dakwah dan pendidikan harus diawali dari lembaga yang paling kecil, yaitu diri sendiri dan keluarga menuju yang lebih besar dan luas.


Agaknya dalam ayat tersebut diawali dengan tanggung jawab pendidikan keluarga, kemudian diikuti dengan akibat dari kelalaian tanggung jawab yaitu siksaan dari neraka. Al-Qur’an menegaskankan bahwa bahan bakar neraka di dalam ayat itu disebutkan berasal dari manusia dan batu.


Hal ini mengisyaratkan bahwa kegagalan dalam mendidik anak ketika masa kecilnya dalam keluarga akan berpengaruh pada kehidupannya di dunia dan akhirat. Padahal anak merupakan amanah dari Allah yang harus dipelihara dengan baik.


Orang tua memegang peranan penting dan sangat berpengaruh atas pendidikan anak-anak. Keluarga sebagai wadah mendidik anak, maka pembinaan kepribadian anak yang islami telah dimulai sejak anak dalam kandungan sampai ia lahir dan dewasa.


Kepribadian yang masih dalam permulaan sangat peka dengan lingkungan sekitarnya itu akan berproses. Tumbuh dan berkembang sang anak tergantung dari proses pembinaan keluarga melalui pengalaman yang dirasakan.


Terutama sekali melalui pendengaran, penglihatan, perasaan, dan perlakuan yang ia terima. Pada masa tersebut, agar ditanamkan dalam diri anak supaya memberikan bekas yang bermakna serta bermanfa'at sampai ia dewasa. 


Orang tua sebagai guru pertama dan utama bagi seorang anak harus mampu menanamkan nilai-nilai yang Islami pada diri anak.Tanggung jawab pendidikan agama secara mendasar adalah terpikul kepada orang tua.


Tak kalah pentingnya bahwa tanggung jawab pendidikan itu diakui secara sadar atau tidak adalah fitrah dan merupakan yang telah dikodratkan Allah swt kepada setiap orang tua. Sebagaimana termaktub dalam hadits Nabi Saw. 


عـن ابى هـريـرة رضـي الله عـنـه يـقـول ان الـنـبـي صـلـى الله عـلـيـه وسـلـم يـقـول كُـلُّ مَـوْلُـوْدٍ يُــوْلَـدُ عَـلَى الْــفِــطْــرَةِ حَــتَّـى يُــعْـرِبُ عَـنْـهُ  لِـسَـانُــهُ فَـاَبَــوَاهُ يَــهُـوِّدَانِــهِ اَوْيُــنَــصِّـرَانِــهِ اَوْيُــمَـجُـسَـانِـهِ ( رواه الـبـخـارى) 


Artinya: Dari Abi Hurairah R.A,  dari  Rasulullah Saw, bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan futrah maka ibu bapaknyalah yang menjadikan anak itu  beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi.”( HR. Bukhari )


Dalam hadits diatas menjelaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah atau suci, fitrah yang telah ditetapkanAllah dalam diri manusia  selalu cenderung kepada ajaranTauhid. Makanya dari fitrah tauhid itulah terdapat peran dan tanggungjawab orang tua untuk merawat, menjaga dan memupuk anak.


Kecenderungan seorang anak akan lebih kuat apabila orang tua berperan aktif dalam membina anak sejak dalam kandungan hingga anak dilahirkan dan dibesarkan. Sebaliknya fitrah yang sudah ada dalam diri anak, tentu sedikit demi sedikit akan hilang apabila tidak ada bimbingan dan binaan dari orang tua kearah yang lebih baik.


Orang tua bertanggungjawab melaksanakan pendidikan anak sesuai dengan syariat islam. Pendidikan keluarga dapat diartikan sebagai usaha dan upaya orang tua dalam memberikan bimbingan, pengarahan, pembinaan dan pembentukan kepribadian anakn. Juga memberikan bekal pengetahuan terhadap anak.


Tatanan keluarga sangat dominan dalam menentukan perkembangan kepribadian anak agar menjadi anak yang berakhlakul karimah, cerdas, sehat dan peduli pada sesama. Untuk itu menanamkan aqidah pada anak, hal sangat mutlak dilakukan orang tua dalam keluarga.


Pembinaan anak tentang ketaatan beribadah dalam keluarga sebagai contoh, tentu dimulai sejak dini supaya anak sejak kecil telah terbiasa beribadah. Sehingga anak nantinya, kegiatan beribadah telah menjadi suatu kebutuhan.   

Apalagi, orang tua memberikan alkisah dengan gerakan yang menyentuh jiwa tentang ajaran Islam. Maka anak akan lebih bersemangat dan berkeinginan tinggi untuk mengetahuinya.Pembelajaran secara teori dan praktek begitu mudah untuk dipahami anak. 

 

Selain itu pendidikan akhlak dalam keluarga begitu penting ditanamkan dalam keluarga. Terutama contoh teladan dari orang tua. Perilaku santun sesama anggota keluarga, cara orang tua memperlakukan anak-anaknya. Juga, cara orang tua memperlakukan orang lain dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Kesemua aktifitas orang tua akan menjadi teladan dan kepribadian spritual bagi anak.


Juga tak kalah menariknya adalah pembinaan kepribadian sosial sangat perlu ditanamkan oleh orang tua kepada anak sejak dini. Budaya sopan santun, tolong menolong, gotong royong, saling menghargai. Sehingga melahirkan sikap simpati, empati dan senang terhadap kebersihan dan ketertiban dalam keluarga telah menjadi suatu kebutuhan budaya bagi anak dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakatnya.(***)


ADSEN KIRI KANAN