Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Si Gumarang Alat Transportasi Andalan Keluarga Raja Minangkabau

Minggu, 12 September 2021 | 10:12 WIB Last Updated 2021-09-12T03:12:33Z
ilustrasi


Ditulis: Yuldaveri


Mungkin banyak yang belum begitu kenal dengan nama Kuda Si Gumarang. Binatang berkaki empat ini menjadi alat transportasi populer di zaman kerajaan. Begitu juga Raja Pagaruyung dan keluarganya. 


Kini Si Gumarang berdiri gagah di halaman Museum Istano Basa Pagaruyung. Patung Si Gumarang hanya merupakan replik menggambarkan alat transportasi keluarga kerajaan dan kini menjadi koleksi museum Istano Basa karena terlibat akfif dalam sejarah kerajaan. Si Gumarang merupakan seekor kuda yang menjadi kenderaan utama bagi raja di Istano Basa.


Bagi masyarakat zaman lampau, kuda menduduki posisi yang terhormat. Binatang satu ini lambang keperkasaan dan kekuatan. Penaklukan dan perang dalam sejarah didukung oleh kekuatan kuda.


Kerajaaan Minangkabau, representasi kuda adalah Si Gumarang, kuat lagi keramat, yang ‘mengawal’ keluarga kerajaan dalam perang-perang mereka. Misalnya, ikut serta dalam rombongan penjemput Puti Bungsu, membawanya dengan selamat ke Pagaruyung. Gumarang menjadi representasi bagi kekuatan mobilitas.


Di masa lalu, kuda menjadi alat transportasi yang penting dan menentukan ketika alat transportasi modern belum sepopuler sekarang. Kuda memiliki peran sepanjang sejarah Minangkabau.


Menurut sebuah artikel bertajuk “Paarden-Fokkerij in de Padangsche Bovenlanden” (“Peternakan Kuda di Padang Daratan Tinggi”), di Minangkabau, kuda banyak dikembang-biakkan di 50 Kota.


Artikel yang ditulis seorang Belanda bernama G. De Wallpada tahun 1892 itu menyebutkan bahwa kuda-kuda di wilayah ini digolongkan ke dalam beberapa kategori. Pertama, apa yang disebut dalam lidah pribumi sebagai ‘kudo-sawah’. 


Kuda kategori ini biasanya sedikit lebih besar dari keledai, sehingga bukan merupakan kuda yang unggul. Dalam masyarakat Minangkabau, terminologi ‘kudo sawah’ juga dipakai sebagai sesuatu yang bermakna lemah, atau tidak dapat diandalkan kekuatannya. Kuda kategori ini terdapat atau dipeternakkan di beberapa daerah peternakan kuda seperti: Koto nan Gadang, Koto nan Ampek, Simalanggang, Guguak, Lubuak Batingkok.


Kategori kedua adalah kuda dengan kualifikasi yang lebih unggul. Biasa menjadi tunggangan, bertubuh lebih besar, dan tentu saja dengan harga jual yang juga lebih mahal. Kuda ini termasuk kuda yang kuat berperang. 


Di antara daerah-daerah sentra kuda yang telah disebutkan di atas, Tanjung Aro adalah di antara daerah yang menghasilkan kuda yang paling terkenal. Kuda dari Tanjung Aro dianggap sama terkenalnya dengan kuda dari Sikabu-kabu. 


Kuda jenis ini adalah hasil persilangan kuda setempat dengan kuda dari tanah Batak (mungkin nenek-moyangnya adalah kuda hasil rampasan perang para Padri dalam ekspedisi ke daratan tinggi Batak pada dua-tiga dasawarsa awal abad ke-19). Kuda yang kuat dan tinggi, sehingga tidak jarang dibawa masuk ke gelanggang pacu.


Menurut laporan majalah mingguan tersebut, pemerintah Belanda memiliki sebuah kawasan peternakan kuda yang cukup luas di Payakumbuh, tepatnya di daerah Bukitbungsu. Dalam literatur Belanda itu, kawasan peternakan kuda itu disebut sebagai “padang-bakoeda”—sebuah istilah Melayu. 


Kuda-kuda dipelihara dengan cara dilepaskan di padang pengembalaan (padang rumput) terbuka dengan digembalakan oleh beberapa orang pribumi yang digaji pemerintah. Dalam kawasan peternakan itu (sekaligus) terdapat klinik hewan tempat pengobatan bagi kuda-kuda yang terserang penyakit.


Pada waktu tertentu, menurut artikel yang sama, kuda-kuda pilihan dari peternakan itu dibawa untuk mengikuti balapan. Acara pacu kuda atau balapan kuda biasanya diadakan bersamaan dengan diadakannya ‘pakan-malam’ oleh pemerintah kolonial Belanda di daerah setempat, dan di daerah lain semisalnya di Padangpanjang dan Fort de Kock. 


Sebagaimana di Payakumbuh, pasar malam atau pakan malam yang biasanya diadakan untuk memeriahkan ulang tahun ratu Belanda itu, pada siangnya turut dimeriahkan oleh acara pacu kuda. Pacuan kuda, catat Gusti Asnan dalam Kamus Sejarah Minangkabau, telah turut menstimulasi tumbuh dan berkembangnya perkembang-biakkan kuda di Minangkabau.


Sebagaimana disiarkan https://klipingsumateracom, sebagaimana pemanfaatannya, kuda sebagai moda transportasilah yang lebih utama memicu pertumbuhan dan perkembang-biakkan kuda. Kuda di Sumatra Barat, tulis De Wall dalam artikel yang dikutip di awal, pada periode awal kolonial di antaranya digunakan pegawai artileri (officer artilerie) Belanda dalam perang dengan kaum Padri; begitu pun sebaliknya, pasukan Padri juga menggunakan kuda sebagai kendaraan tempur. 


Sebagaimana dalam sejarah diceritakan dalam Kaba Cindua Mato. Cindua Mato memiliki Kuda dengan nama Gumarang. Ia juga memiliki ayam yang diberi nama Kinantan, lalu kerbau dengan nama Sibinuang. Raja Pagaruyung dan keluarga menggunakan kuda Gumarang ingin bepergian cepat.

(rujukan: Rubrik Cagak Utama “Cagak” edisi Minggu 31 Juli 2016)

ADSEN KIRI KANAN