Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Ornamen Ukiran Bangunan Museum Istano Basa Pagaruyung Punya Makna Tersendiri

Sabtu, 04 September 2021 | 20:50 WIB Last Updated 2021-09-05T03:54:53Z
Museum Istano Basa Pagaruyung.


Ditulis: Yuldaveri


Museum Istano Basa Pagaruyuang atau Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung memiliki elemen atau unsur-unsur pembentuk bangunan yang bercirikhas Kebudayaan Minangkabau. Bentuk dan ornamen ukiran bangunan museum tersebut memiliki makna tersendiri.


Elemen pembentuk dari arsitektur bangunan di antaranya gonjong, garis, bidang, bentuk dan ruang dan lainnya memiliki makna.


Gonjong

Bentuk atapnya yang seperti tanduk (gonjong), ruang dalam, dinding Rumah Gadang yang penuh akan ukiran, dan tangga di depan bangunan Rumah Gadang. 


Atap bergonjong merupakan simbol yang menandakan identitas orang Minang. Misalnya hanya dengan sekilas melihat bentuk atap meruncing tersebut, orang akan langsung tahu bahwa pemiliknya pasti orang Minang atau memiliki keturunan Minangkabau. Atap bergonjong juga digunakan untuk menunjukkan status sosial.


Garis

Garis dengan arah vertikal dan horizontal tampak pada penempatan tangga di depan pintu masuk (di depan bangunan Rumah Gadang). Garis pada tangga terlihat mendominasi dengan adanya pengulangan.


Jumlah jenjang anak tangga Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung berjumlah ganjil. Yaitu 11 anak tangga. Keganjilan pada bilangan ini disukai oleh masyarakat Minangkabau karena sesuai dengan Al-Quran dan Hadis yang mengatakan bahwa Allah itu Esa dan Dia menyenangi yang ganjil, sebab yang genap adalah sudah sempurna dan sudah lengkap dan hanya milik Allah SWT.


Bidang

Ornamen ukiran alam yang penuh mendominasi pada bidang fasad bangunan arsitektur Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung.


Ukiran di Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung umumnya bermotif alam, seperti: akar, bunga, daun serta hewan. Kesemuanya lebih identik dengan pantulan makna-makna simbolik dari pada meniru bentuk alam tersebut.


Hal ini dikarenakan prinsip orang Minangkabau yang berdasar pada adat budaya Minangkabau dengan ketentuan Islam dalam Al-Quran dan Hadis yang merupakan syariat yang melarang manusia untuk menggambarkan makhluk hidup secara utuh.


Bentuk

Bentuk atap gonjong memiliki analogi yang berasal dari tanduk kerbau dan mengikuti alam. Skala/proporsi bentuk berbeda dengan bangunan Rumah Gadang lainnya karena dianggap lebih monumental.


Bentuk atap gonjong yang terinspirasi dari hewan kerbau disimbolkan sebagai interaksi kepada Tuhan. Gonjong sebagai interaksi kepada Tuhan di mana bentuk gonjongnya yang selalu mencuat ke atas/ ke langit (mengarah ke Allah di langit).


Material atap yang terbuat dari ijuk berbeda dengan Rumah Gadang lainnya. Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung memiliki 11 gonjong sehingga keberadaannya lebih diagungkan dibandingkan dengan Rumah Gadang warga biasa yang hanya memiliki 4 gonjong, sehingga lebih dianggap sakral dan monumental, terlebih jumlah gonjongnya yang juga ganjil.


Material ijuk pada atap Istana Basa Pagaruyung diibaratkan sebagai mahkota dalam suatu Rumah Gadang, maka dengan banyak digantinya material ijuk di Rumah Gadang lain saat ini dengan seng seolah-olah membuat Rumah Gadang tak lagi memiliki ‘mahkota’.


Ruang

Bentuk ruang mengikuti struktur. Ruangan bersifat linear. Fungsi ruang mengikuti hirarki.


Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung terdiri 9 bilik yang mengikuti struktur bangunan di mana 2 bilik diantaranya tidak digunakan sebagai ruangan, melainkan sebagai jalan menuju dapur dan juga tangga. Jumlah biliknya yang ganjil lagi-lagi bermakna spiritual yaitu mengingat akan bilangan yang disukai Allah SWT.


Pada bagian kiri dan kanan Istana Pagaruyung terdapat anjung atau penaikan lantai karena termasuk ke dalam Rumah Gadang Koto Piliang yang memegang sistem Pemerintahan aristokrat di mana status sosial Datuk berbeda-beda (berhirarki).


Dari penjabaran di atas diketahui bahwa makna di balik bangunan arsitektur Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung dapat dilihat pada 4 elemen arsitektur yang masing-masing memiliki makna masing-masing. (*)


Daftar Pustaka

Budiharjo, Eko. 1997. Arsitektur Sebagai Warisan Budaya. Jakarta: Djambatan.

Burkhardt, A. 1993. Spirituality: An analysis of the concept. Sage Journals, 3, 69-77.

Damayanti, Resky Annisa. 2014. Morfologis Bangunan Arsitektur Rumah Gadang dalam Konteks Kebudayaan. Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain, 65-85.



ADSEN KIRI KANAN