Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Museum Istano Basa Pagaruyung Miliki Tiga Lantai, Ini Nama dan Fungsinya

Rabu, 08 September 2021 | 21:13 WIB Last Updated 2021-09-08T14:13:29Z

Tangga kayu untuk naik dari lantai dua ke lantai tiga.


Ditulis: Yuldaveri

Museum Istano Basa Pagaruyung yang lebih terkenal dengan nama Istano Pagaruyung, merupakan sebuah istana yang terletak di jalan Sutan Alam Bagargasyah, Nagari Pagaruyung, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat.


Istano Basa ini berjarak lebih kurang 5 KM dari pusat Kota Batusangkar. Istano ini merupakan objek wisata budaya yang terkenal di Sumatera Barat. Banyak fakta sejarah Kerajaan Minangkabau terdapat di museum kebanggaan orang Minang tersebut.


Istana Paguruyung mempunyai tiga lantai. Setiap lantai mempunyai nama, makna serta fungsinya.


Lantai Satu

Di lantai satu bangunan museum tersebut satu sisi paling kiri dinamakan “Anjuang Perak". Fungsinya sebagai tempat Bundo Kanduang (Ibu Suri) mengadakan rapat yang bersifat kewanitaan pada langgam (tingkat) pertama, lalu sebagai tempat beristirahat pada langgam kedua, dan sebagai tempat tidur Ibu Suri pada langgam terakhir atau ketiga.


Masih di lantai satu, khusus di tengah-tengah lantai satu ini yang diberi nama “Singgasana” yang indah dengan bermacam kain warna-warni menjuntai dari langit-langit. Persisnya, letak singgasana ini sejajar dengan pintu masuk. Di sini terpajang foto Raja Pagaruyung terakhir yakni Sultan Alam Bagagarsyah.


Di lantai satu sisi paling kiri dinamakan “Anjuang Perak”. Fungsinya sebagai tempat Bundo Kanduang (Ibu Suri) mengadakan rapat yang bersifat kewanitaan pada langgam (tingkat) pertama, lalu sebagai tempat beristirahat pada langgam kedua, dan sebagai tempat tidur Ibu Suri pada langgam terakhir atau ketiga.


Masih di lantai satu, khusus di tengah-tengah lantai satu ini yang diberi nama “Singgasana” yang indah dengan bermacam kain warna-warni menjuntai dari langit-langit. Persisnya, letak singgasana ini sejajar dengan pintu masuk. 


Lantai satu sisi kanan  ruang ini dinamakan “Anjuang Rajo Babandiang”. Berada di bagian kanan atau pangkal rumah (istano), dan punya tiga langgam (tingkat). Fungsi anjuang ini adalah sebagai tempat sidang (langgam pertama), tempat beristirahat (langgam kedua), dan tempat tidur raja serta permaisuri pada langgam ketiga.


Di ruangan Anjuang Rajo Babandiang ini dijumpai dua boneka seukuran manusia yang dipakaikan busana adat Minangkabau berwarna hitam-hitam dengan pernak-pernik keemasan. Di dada kiri boneka lelaki ada tulisan penjelasan bahwa inilah contoh pakaian adat untuk ‘Datuak’ atau ‘Penghulu’ yang tugasnya menjadi niniak mamak dalam nagari. 


Lantai dua

Di lantai dua ini dinamakan “anjungan paranginan” dan dimaksudkan sebagai tempat bercengkerama para puteri raja yang belum menikah (berkeluarga atau gadis pingitan). Di sisi kiri ada kamar peristirahatan puteri raja dengan tirai yang memanjang dari atap hingga lantai, menjadi semacam kelambu. Lagi-lagi, hiasan kainnya didominasi warna kuning keemasan. Bergantungan pula beberapa lampu antik.


Di sisi kanan, mepet dinding kayu, ada kursi kayu antik, lengkap dengan meja dengan keramik bundar. Paling sudut dekat jendela, ada kotak kuno penuh ukiran yang diperuntukkan menyimpan perkakas Putri Raja. Ada tiang utama yang diantaranya dipasang cermin untuk berdandan puteri raja, dengan bingkai dari kayu.


Lantai Tiga

Di lantai tiga Museum Istano Basa Pagaruyung ini diberi nama ruangan “mahligai”. Difungsikan sebagai tempat penyimpanan alat-alat kebesaran raja, seperti mahkota kerajaan yang dahulunya disimpan dalam sebuah peti khusus bernama “aluang bunian”.


Di lantai tiga ada tiga kursi kayu antik dengan satu meja bundar. Ada lampu gantung antik. Pada dinding-dinding kayunya dipajang sejumlah alat perang. Mulai dari pedang, tombak, pistol antik atau ‘pistol Balando’ dan lainnya. 


Ada juga ‘gobok’ atau ‘bodia sitengga’ yang mirip senapan angin tapi punya fungsi sebagai pemberi kabar pengumuman tentang hal-hal suka maupun duka. Tombak yang dipajang misalnya, “tombak bamato tigo” yang biasa dipakai untuk berburu, maupun pertahanan diri. (https://visualheritageblog.blogspot.com)


Banyak terdapatnya benda-benda bersejarah di Museum Istano Basa Pagaruyuang sudah terang benderang, museum tersebut merupakan suatu pusat dari pemerintahan Rajo Minang dan perlu diketahui semua orang, khususnya masyarakat Minang. Banyak meninggalkan bukti catatan sejarah, yang terpatri erat di museum tersebut. (*)

ADSEN KIRI KANAN