Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Makna Interior Bangunan Museum Istano Basa Pagaruyung

Rabu, 01 September 2021 | 20:41 WIB Last Updated 2021-09-01T13:41:20Z
Bangunan Museum Istano Basa Pagaruyung.


Ditulis: Yuldaveri


Museum Istano Basa Pagaruyuang yang lebih terkenal dengan nama Istana Pagaruyung, adalah sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, Kota Batusangkar, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Ide pembangunan ini lahir dari pemikiran Pemerintah Daerah dan tokoh-tokoh adat Sumatera Barat dalam rangka melestarikan nilai-nilai adat, seni dan budaya serta sejarah Minangkabau.


Istana Basa Pagaruyung memiliki 3 lantai, yang terdiri dari 72 tonggak dan 11 gonjong atap. Bangunan arsitektur Istana Basa Pagaruyung memperlihatkan ciri-ciri khusus dibandingkan dengan bangunan Rumah Gadang lainnya yang terdapat di Minangkabau.  Kekhasan yang dimiliki bangunan ini tersirat dari bentuk fisik bangunan yang dilengkapi ukiran falsafah alam dan budaya Minangkabau. 


Pada ruang dalam bangunan Istana Basa Pagaruyung sendiri di bagian kiri dan kanannya terdapat anjung atau penaikkan lantai. Maksud anjung ini adalah karena jenis Istana Pagaruyung merupakan jenis Rumah Gadang Koto Piliang yang memegang sistem Pemerintahan aristokrat di mana status sosial Datuk berbeda-beda, sehingga tempat duduknya tidak boleh sama tinggi. 


Pada lantai 2 untuk kamar tidur Raja, dan lantai 3 untuk tempat semedi serta untuk memantau saat sedang terjadi perang.  Bangunan museum Istano Basa Pagaruyung terbakar pada tahun 2007, dan diresmikan kembali sebagai museum terbuka pada tahun 2013. Museum memiliki bentuk arsitektur yang menyerupai rumah gadang, akan tetapi diketahui memiliki beberapa ciri yang berbeda dari rumah gadang pada umumnya.


Melalui kajian Ikonografi-ikonologi oleh Erwin Panofsky, penelitian mengungkap makna dari arsitektur dan interior. Hasil penelitian pada tahap Deskripsi Ikonografi, diperolah makna primer bahwa Museum Istano Basa Pagaruyung memiliki ciri arsitektur bergaya grand tradition dan neo-vernacular.


Kemudian pada tahap analisis ikonografi diperoleh makna sekunder yang menggolongkan bahwa museum ini masuk ke dalam museum bertema tematik. Pada tahap interpretasi Ikonologi diperoleh makna intrinsik bahwa museum merupakan sebuah simbol Kebangkitan masyarakat Sumatra Barat yang terpuruk pasca PRRI pada tahun 1976. 


Kemudian juga sebagai suatu upaya kebangkitan masyarakat Sumatra Barat agar dapat bersaing di tengah arus globalisasi dan gencarnya pariwisata pada tahun 2013, yaitu dengan cara menghidupkan kembali nilai lokalitas kedaerahan budaya Minangkabau dalam wujud karya Arsitektur. (opac.isi.ac.id)


Pagaruyung merupakan pusat pemerintahan raja-raja Minangkabau. Pada masa pemerintahan Adityawarman diperkirakan organisasi pemerintahan kerajaan disusun menurut sistem organisasi yang berlaku di Majapahit, kemudian organisasi pemerintahan itu secara berangsur berubah dengan penyesuaian seperti yang dikehendaki sejarah, baik dalam komposisi dan fungsinya, maupun dalam hal jabatan.


Dalam sistem pemerintahan wilayah tampak pola kerajaan Majapahit dipakai pula oleh kerajaan Pagaruyung. Pola yang digunakan di Minangkabau ialah wilayah rantau, yaitu kerajaan yang dipimpin oleh raja kecil sebagai wakil raja di Pagaruyung dan wilayah luhak yang dipimpin para Penghulu. 


Belum diketahui dengan pasti apa yang terjadi setelah penyerangan Majapahit dapat dipatahkan pada tahun 1409. Hanya pada tahun 1560 diketahui bahwa untuk pertama kalinya seorang Raja Pagaruyung memeluk agama islam. Raja itu kemudian disebut  dengan Sultan Alif. (Navis, 1984: 16-17).


Saat ini bangunan Istana Basa Pagaruyung yang berlokasi di Nagari Pagaruyung Kabupaten Tanah Datar adalah bangunan Rumah Gadang yang merupakan duplikat dari aslinya. 


Disebut istano basa karena istana ini memang basa atau besar di mana besarnya selingkar istana Pagaruyung. Setelah lama tidak terurus dan terbakar, pada tahun 1976 Istana Basa Pagaruyung dibangun kembali. (*)


ADSEN KIRI KANAN