Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Ini Makna Spiritual di Balik Bangunan Arsitektur Museum Istano Basa Pagaruyung

Kamis, 02 September 2021 | 09:00 WIB Last Updated 2021-09-02T13:49:16Z

 

(foto/www.eviindrawanto.com)

Ditulis: Yuldaveri


Bangunan Museum Istano Basa Pagaruyug diketahui bahwa terdapat empat elemen arsitektur yang memiliki makna spiritual. Dapat disimpulkan bahwa bangunan arsitektur Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung dibangun dengan pemikiran untuk menghubungkan antara elemen arsitektur yang ada dengan alam. 


Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung dominan menggunakan analogi organisme alam. Hal ini sesuai dengan konsep kebudayaan Minangkabau ‘Alam Takambang jadi Guru’ yang juga banyak terpengaruh spiritualitas Islam.


Suku bangsa Minangkabau sering kali disebut unik karena menganut sistem kekerabatan matrilineal atau menurut garis keturunan ibu. Menurut A.A. Navis, Minangkabau memiliki kebudayaan yang sangat kuat yang dipengaruhi dengan ajaran agama Islam. 


Hal ini terlihat pada prinsip adat Minangkabau yang tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah (ABS-SBK). Di mana hal ini berarti adat dan kebudayaan Minangkabau selalu berlandaskan kepada ajaran agama Islam. Demikian juga dengan bangunan arsitektur rumah tradisionalnya.


Rumah Gadang merupakan bangunan rumah tradisional milik masyarakat Minangkabau. Rumah Gadang dimiliki oleh suatu keluarga atau kaum dan merupakan simbol dari tradisi matrilineal karena Rumah Gadang ini dimiliki oleh perempuan dan dari garis keturunan ibu. 


Diketahui pada zaman dahulu paman atau yang biasa disebut mamak sebagai kepala pemerintahan tidak memiliki kantor dan pusat ketatausahaan seperti sekarang, maka dari itu, Rumah Gadang dijadikan sebagai pusat administrasi keluarga matrilineal dalam menyelesaikan masalah-masalah keluarga.


Rumah Gadang dibangun berdasarkan estetika dan fungsi yang sesuai dengan nilai-nilai kesatuan, keselarasan, dan keseimbangan yang padu. Jika dilihat secara kebudayaan, bangunan Rumah Gadang juga terpengaruh dari nilai-nilai Islam. Seperti diketahui, kebudayaan yang dimaksud di Minangkabau adalah aturan-aturan, nilai-nilai, norma-norma yang didasarkan kepada agama Islam yang merupakan prinsip adat Minangkabau, Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah (www.trijurnal.lemlit.trisakti.ac.id)


Sebagaimana diketahui, bangunan arsitektur Rumah Gadang yang masih mempertahankan nilai-nilai kebudayaan Minangkabau. Bangunan Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung. Bangunan Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung yang ada saat ini merupakan 3 Dimensi.


Bangunan replika dari bangunan IstanO sebelumnya yang sempat terbakar habis pada tahun 1804, 1966 dan mulai direnovasi kembali pada tahun 2008. Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung merupakan salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Pagaruyung yang masih tersisa. Kerajaan Pagaruyung runtuh setelah terjebak dalam siasat kolonial Belanda saat perang Padri bergejolak.


Hampir seluruh bagian dari bangunan Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung saat ini masih mempertahankan keaslian bangunan terdahulu meski sudah tidak 100% asli. 


Berbagai detail ciri khas arsitektur dan makna yang dimilikinya masih sama seperti kondisinya di masa lampau. Status Rumah Gadang IstanO Basa Pagaruyung sendiri sangatlah tinggi dan sakral bahkan sering kali memunculkan isu-isu spiritual yang ada di dalam bangunan arsitekturnya.


Menurut Sayyed Hosseein Nash yang merupakan salah satu seorang tokoh spiritualitas Islam mendefinisikan spiritual sebagai sesuatu yang mengacu kepada apa yang terkait dengan dunia ruh, dekat dengan Ilahi, mengandung kebathinan dan interioritas yang disamakan dengan yang hakiki. 


Ranah spiritual esensinya bukanlah materi atau jasadiah, melainkan merupakan konsep metafisika yang pengkajiannya melalui pendalaman kejiwaan yang sering kali disandarkan pada wilayah agama di mana bagi masyarakat Minangkabau sendiri Islam sebagai kepercayaan utamanya sehingga makna bangunan arsitektur Istana Basa Pagaruyung tidak lepas dari prinsip adatnya.


Dewasa ini perkembangan bangunan arsitektur kian pesat. Pengaruh arsitektur modern dan internasional, serta hal lainnya turut mempengaruhi arsitektur yang ada di tanah air, sehingga bangunan arsitektur yang ada di tanah air saat inipun lambat laun tidak ada lagi bedanya dengan arsitektur di negara lain. Hal ini sangat disayangkan mengingat arsitektur tradisional yang kaya akan makna justru mulai diabaikan.


Makna spiritual di balik bangunan arsitektur Rumah Gadang Istana Basa Pagaruyung di Batusangkar sangat menarik untuk dibahas karena tidak lain kaitannya dengan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Minangkabau itu sendiri. 


Spiritualitas mencoba untuk memaknai hidup, dalam hal ini bangunan rumah adat, untuk percaya bahwa seluruh manusia memiliki keterkaitan serta percaya akan hubungan-hubungan yang dapat terbentuk secara harmonis dari berbagai unsur, tidak hanya diri sendiri melainkan juga antar sesama manusia dan Tuhan.(*)

ADSEN KIRI KANAN