Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Ini Keistimewaan Museum Istano Basa Pagaruyung

Minggu, 05 September 2021 | 21:13 WIB Last Updated 2021-09-05T14:14:13Z
Museum Istano Basa Pagaruyung.

Ditulis: Yuldaveri


Keistimewaan dari rumah adat Minangkabau tidak saja terletak pada bentuknya yang anggun dan tinggi, tetapi juga pada berbagai ragam hias diukir pada dinding dan bagian-bagian lainnya.


Pada rumah-rumah sederhana, ukiran ditempatkan pada pintu dan jendela, sedangkan pada rumah-rumah adat (gadang) yang besar, ukiran hampir menutupi seluruh tubuh bangunan. Dinding, tiang-tiang rumah, jendela, pintu, dihiasi dengan ukiran yang terdiri dari berbagai motif.


Setiap motif ragam hias yang dipahatkan pada rumah adat mengandung makna yang dalam, membawa pesan-pesan yang disamarkan ke dalam motif-motif yang indah. Sesuai dengan fungsi rumah adat sebagai lambang kebesaran suku atau keluarga, maka ukiran-ukiran yang dipahatkan pada rumah adat itu juga dikerjakan dengan seksama dan cermat.


Ukiran tersebut penuh dengan simbol yang menceritakan tingkah laku dan kejadian alam semesta yang patut diteladani. Melalui ukiran inilah para pendahulu memberikan tuntunan tersamar kepada generasi penerusnya.


Berdasarkan motif ragam hias yang ada pada rumah adat Minangkabau ini pulalah, kemudian digali motif-motif ragam hias Minangkabau yang beraneka ragam.


Ada motif tatapaduan pilin ganda, motif kaluak paku, lumuik hanyuik, kijang lari dalam rangsang, aka sagagang, tupai managun, dan aka barayun. Tatapaduan lingkaran dan segi empat terpadu. Misalnya motif pucuk rabueng jo salimpat, siku-siku saluek, siku-siku baragi, siku-siku kalalawa bagayuik, harimau dalam parangkok, dan saik galamaik.


Tatapaduan setengah lingkaran susun tolak belakang. Misalnya motif kucieng tidue jo saik galamai, singo mendongkak jo takuek, salimpat, pisang sasikek, dan tirai ampek angkek. Tatapaduan deretan lingkaran. Misalnya motif aka duo gagang, ayam mancotok di lasueng, kudo mandongkak, dan gajah badorong.


Ada pula motif tatapaduan gelombang berpilin. Misalnya motif lapieh jarami, rajo tigo selo, si kambang manih, dan ramo-ramo si kumbang jati.


Tatapaduan lingkaran susun sirih. Misalnya motif jalo taserak, jarek takambang, tangguek lamah, labah mangirok, jambueh cewek rang ritala. Ragam Hias Ukiran di Singok (Atap) Ragam hias pada bagian atap Istano Basa Pagaruyung di dominasi oleh ukiran di bidang yang kecil. Adapun nama jenis motif ragam hias yang terdapat dalam bagian singok (atap) salah satunya adalah Tupai Managun.


Sebuah motif ukiran Tupai Managun (Tupai Tertegun) yang diambil dari Istana Basa Pagaruyung. Simbol dari tupai tertegun itu dapat dilihat pada bagian luar dan dalam jajaran genjang.


Perhatikanlah pengulangan bentuk-bentuk garis lengkung setengah lingkaran yang disambung dengan garis lengkung berlawanan sebagai ekor dari tupai yang membanting karena tertegun. 


Adapun stuktur dan komponen pada ragam hias tersebut terdiri dari gagang, buah, bunga, daun, sapieh/serpih dan simbol dari ekor tupai.


Tupai managun ini digambarkan secara horizontal. Seharusnya posisi bagan ini vertikal. Digambar begini supaya terlihat seperti bentuk tupai. Di atas telah ada dua buah motif tupai managun. Secara sepintas terlihat kecenderungan adanya hasrat si juru ukir hendak menampilkan kerangka gerak dari seekor tupai yang sedang tertegun. 


Dari bentuk tunggal inilah pola tersebut disusun secara simetris sepanjang bidang ukirnya. Ragam hias pada bagian pintu. Istano Basa Pagaruyung di dominasi oleh ukiran di bidang yang besar. Adapun nama jenis motif ragam hias yang terdapat dalam bagian pintu salah satunya adalah Saluak Laka.


Sebuah motif ukiran Saluak Laka yang diambil dari Istano Basa Pagaruyung. Saluak Laka adalah sejenis anyaman dari rotan yang biasa dipakai sebagai penadah periuk atau belanga yang masih panas. 


Keistimewaannya saluak laka ini terbuat dari selembar rotan yang panjang sekali, supaya tidak terjadi persambungan rotan di tengah-tengahnya.


Dari indikasi ini timbul asosiasi yang akan menuntun si pengamat kepada imaji kekerabatan dan fungsionaris seperti yang diungkapkan di atas, dengan kata lain simbol dalam motif ukir ini sekaligus membangun simbol dari kekerabatan dan fungsionarisasi dari masyarakat Minangkabau Ragam hias pada bagian pintu angin (ventilasi) Istano Basa Pagaruyung di dominasi oleh ukiran di bidang yang besar. 


Adapun nama jenis motif ragam hias yang terdapat di bagian ventilasi adalah Labah Mangirok (Lebah Mengirap). Kalau diperhatikan garis dan garis putus-putus yang membentuk gelombang pada bagan di atas maka masing-masingnya berbentuk akar cina atau kaluek paku. 


Keduanya saling berlawanan arah. Apabila gelombang garis putus-putus itu dibalikkan maka kedua-duanya akan berdempet satu sama lainnya. Gelombang garis-gari tersebut, seperti biasa diisi dengan gagang, serpih, daun dan bunga. Spesifikasi lainnya ialah relung-relung pada tiap lingkaran hampir mengisi ruang hingga pusat lingkarannya.


Ragam hias pada bagian langit-langit Istano Basa Pagaruyung di dominasi oleh ukiran di bidang yang besar. Adapun nama jenis motif ragam hias yang terdapat di bagian ventilasi adalah Jalo Taserak (Jala Tersebar).


Jalo taserak (Jala Tersebar) dan atau Jarek Takambang (Jerat Terkembang) adalah nama alat penangkap ikan atau penjerat hewan lain di daratan. Alat itu terbuat dari talian yang dibentuk demikian rupa sehingga menjadi suatu jaringan.


Fungsi nyata dari jalo dan jarek ini jelas untuk penjala, penjaring, penjerat, atau perangkap, baik untuk ikan maupun untuk hewan-hewan lainnya. Pola dan tata paduan motifnya adalah lingkaran yang membentuk relung.


Ragam hias pada bagian salangko/kaki Istano Basa Pagaruyung di dominasi oleh ukiran di bidang yang besar. Adapun nama jenis motif ragam hias yang terdapat di bagian salangko adalah Lapieh Jarami (Anyaman Jerami).


Jarami (Anyaman Jerami). Melihat dari polanya dapat dikatakan sama dengan pola aka duo gagang yang berganda. Hal ini dapat diperhatikan pada bagan tertera di atas.


Makna Simbolis Ragam Hias Ukiran

Saluak Laka di Pintu Saluak nan jaleh bakaitan Laka basauh jo baukuran Silang bapiuah di dalamnyo Aleh pariang jo balango Panadah angek jo dingin Panatiang kuma baarang Palatak tambika nan kapacah Nan sanang talatak di tampeknyo Buliah katangah jo katapi.


Baiak di ateh ruang tangah dari muko lalu ka ujuang Laka nan indak dapek tingga Saluak Laka adalah alas periuk yang terbuat dari jalinan lidi enau atau lidi kelapa. Jalinan tersebut berfungsi sebagai alas atau penahan periuk agar jangan terguling dan jelaganya jangan sampai  mengenai benda-benda lainnya. 


Hal yang ingin diungkapkan melalui bentuk “saluak laka” ini adalah bentuknya yang terjalin erat, sehingga membentuk kesatuan yang kuat dan ulet. Jalinannya yang kuat inilah yang pantas diteladani dalam kehidupan kekeluargaan. Kata-kata adatnya adalah sebagai berikut, Nan basaluak nan bak laka, Nan bakaik nan bak gagang, Supayo tali nak jan putuih, kaik-bakaik nak jan ungkai.


(Yang berjalin erat seperti laka, yang berkait seperti gagang, Supaya tali jangan putus, Kait-berkait supaya jangan lepas). Kata-kata tersebut menggambarkan bagaimana eratnya hubungan sistem kekerabatan di Minangkabau. Ikatan kekeluargaan itu digambarkan bagaikan jalinan rotan atau lidi laka. Kalau lidi atau.


Daftar pustaka:

Achmadi, Asmoro. 1995. Filsafat Umum.

Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

Amir M.S. 2011.

Jakarta: Citra Harta Prima

Armaini, Fauzan dan Amri N. 2004.


ADSEN KIRI KANAN