Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Curhatan Hati Sastrawan Lombok Timur, Rifat Khan; Jungkir Balik Nasib Sastrawan di Tanah yang Tandus Aspirasi Literasi

Selasa, 14 September 2021 | 12:40 WIB Last Updated 2021-09-14T05:40:13Z
.


Lombok Timur, fajarharapan.id - Rifat Khan, seorang sastrawan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang begitu produktif dalam berkarya. Banyak sudah karya-karya sastranya, baik cerpen dan puisi, yang terseser di banyak media.


“Saya mengenal sastra dari SMP,” ungkitnya kepada wartawan fajarharapan.id, Selasa, (14/9/21), sore hari di kediamannya. “Di sekolah saya dulu, ada kegiatan ekskul yang kami namakan KIR (Karya Ilmiah Remaja), dalam kegiatan ini cerpen-cerpen saya yang saya sertakan ke pengurus kami selalu menjadi cerpen terbaik. Tentu itu kerja keras seorang penulis,” ceritanya.


Dalam kisahnya, Rifat Khan mulai mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya dimulai pada tahun  2011. Karya-karyanya tersebar di beberapa media, diantaranya Koran Metro Riau, Padang Sumbar, Satelit Pos, Bali Pos, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Jurnal Nasional, Media Indonesia, Repuplika,  detik.com dan masih banyak lagi (baik media cetak maupun online). Sampai-sampai di dinding kamarnya dijadikan sebagai tempat karya-karyanya yang tercetak di koran dipajang.


“Pada tahun 2011 juga saya dan mas Kiki Sulistyo (sastrawan dari Ampenan, Kota Mataram NTB) mendapat tempat untuk karya-karya kami di KSI Award 2011. Itu sebuah ajang tingkat nasional yang memilih puisi-puisi terbaik dari beberapa penyair seluruh Indonesia, kemudian yang terbaik akan dibukukan.” terangnya.


Tidak hanya itu, penulis produktif ini juga ikut serta dalam Pertemuan Penyair NUMERA (Nusantara Melayu Raya), dalam ajang itu puisinya terpilih menjadi salah satu puisi terbaik. Kegiatan itu menghimpun penyair-penyair dari negeri serumpun Melayu.


“Tapi di balik itu, di balik kesuksesan para penulis, kalau kita bertanya; apakah subur ke-produktif-an penulis di Lombok Timur? Maka yang akan kita temukan, yang terjawab, semua harapan itu hanya biji-biji harapan di negeri tandus. Itu disebabkan karena aspirasi terhadap literasi apalagi sastra di Lombok Timur ini sangat minim, bahkan bisa dikatakan buruk sekali. Dari pemerintah apalagi dari masyarakatnya, kesadaran literasi itu hampir kosong di benak mereka.” Keluhnya.


Begitu pula dengan media cetak dan online lokal tidak menyediakan kolom sastra. Tentu saja itu keresahan besar dan masalah besar bagi sastrawan dan penulis.


“Sehingga, pada tahun 2012, saya bersama komunitas Rabu Langit (sebuah kemunitas sastra nirlaba di Selong, Kab. Lombok Timur NTB) mengadakan Musyawarah Sastrawan NTB. Kami mengumpulkan penulis-penulis beserta penggerak-penggerak literasi dari NTB, dalam musyawarah itu, kami berusaha mendorong pemerintah dan khususnya terhadap media-media local untuk menyediakan kolom sastra.” Imbuhnya.


Hasil musyawarah besar itu dilanjutkan ke Suara NTB dan Lombok Post. Kemudian hasilnya ditanggapai dan direspon pada pertengahan 2013 dengan membuka kolom sastra di media cetaknya.


“Tapi sayang sekali, itu tidak lagi dilakukan. Kolom sastra di media local tidak lagi ada sekarang.” Keluhnya. Sangat berharap juga pemerintah mau membantu penuh komunitas sastra dan juga gerakan-gerakan literasi lainnya dalam kegiatan-kegiatan literasi, harapnya sambil menutup kisahnya.


Buku-bukunya yang sudah bisa ditemukan di toko-toko buku berjudul 'Tentang Jantung dan Hal-hal Romantis lainnya', dan 'Satu Hari di Mana Aku Ingin Menjadi Laki-laki'. Nama dan karya-karyanya yang lain mudah dicari di Google. Tinggal tulis namanya, lalu klik, karya-karyanya bermunculan. (zan)

ADSEN KIRI KANAN