Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Bangunan Museum Istano Basa Pagaruyung Berkonsepkan Budaya Minangkabau

Jumat, 03 September 2021 | 20:00 WIB Last Updated 2021-09-05T03:53:27Z
Museum Istano Basa Pagaruyung

Ditulis: Yuldaveri


Siapa yang tak kenal dengan Museum Istano Basa Pagaruyung? Terletak di Kecamatan Tanjung Emas, Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, bangunannya yang indah dan menarik. Bangunanya berkonsepkan Budaya Minangkabau. Semua bangunan itu punya makna tersendiri. Kini bangunan bersejarah itu jadi objek wisata budaya yang terkenal tidak saja di Sumatera Barat, bahkan nasional dan mancanegara.


Bangunan Museum Istano Basa Pagaruyung tidak pernah lepas dari kebudayaan Minangkabau. Bangunan arsitektur tradisional Minangkabau yang dikenal dengan nama Rumah Gadang. 


Untuk menemukan suatu acuan guna memudahkan pemahaman terhadap makna-makna tersirat dalam benda-benda budaya, dalam hal ini bangunan arsitektur Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung, ternyata membutuhkan peninjauan kembali ke masa lalu yang dapat mengungkapkan latar belakang sejarah dan kebudayaan tradisional tersebut. 


Peninjauan ke masa lalu tentunya memerlukan data dan fakta sejarah yang lengkap. Mengingat pokok permasalahan berkaitan dengan pandangan hidup masyarakat Minangkabau, maka latar belakang sejarah yang dibutuhkan lebih bersifat pandangan hidup masyarakat Minangkabau sendiri. Pandangan masyarakat Minangkabau itu tertuang di dalam Tambo.


Tambo adalah sumber konsepsi kesejarahan tradisional masyarakat Minangkabau yang hingga kini masih hidup sebagai pandangan hidup masyarakat Minangkabau. Sesungguhnya hanya ada satu jenis tambo, yaitu hikayat yang melukiskan mulai dari asal kejadian nenek moyang masyarakat Minangkabau hingga tersusunnya ketentuan-ketentuan adat yang berlaku hingga saat ini. Bila tambo ditinjau dari beberapa sudut pandang, maka terjadilah klasifikasi tambo, yaitu tambo alam adat sebagai falsafah Minangkabau dan tambo sebagai konsep kebudayaan Minangkabau.


Tambo pada dasarnya memuat akan gagasan-gagasan dan karya-karya masyarakat Minangkabau yang telah dipelajari secara turun-temurun dan dimiliki secara bersama. Dalam perjalanannya, banyak yang telah tercapai misalnya sikap masyarakat Minangkabau terhadap alam, terhadap individu dan masyarakat, serta tehadap Tuhan yang secara khusus dijelaskan oleh syara’ dan Kitabullah. 


Hal ini sejalan dengan prinsip adat Minangkabau yang tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah. Sedangkan gambaran umum mengenai konsep kebudayaan Minangkabau dapat dijelaskan dalam pandangan hidup masyarakatnya.


Dengan diketahui dasar pandangan hidup Minangkabau, maka menjadi mudah dipahami cara orang Minangkabau berfikir, bertindak, dan cara berlaku sesuai pandangan adat alam Minangkabau. Alam dijadikan guru sebagai landasan untuk merumuskan dan menyusun ajaran adat. Jadi, konsep masyarakat Minangkabau itu berdasarkan kepada alam dan kemudian dituangkan ke dalam kata dalam bentuk pepatah dan petitih.


Dapat disimpulkan bahwa konsep kebudayaan Minangkabau selalu mengakulturasi antara agama, falsafah setempat (alam takambang jadi guru), yang nantinya akan menghasilkan norma-norma berupa tambo maupun adat yang menjadi kebudayaan utuh bagi masyarakat Minangkabau yang selalu mereka pegang teguh. 


Adapun jika adat mereka dipaksa keras untuk berubah, maka mereka akan tetap mempertahankan benang merahnya. Hal ini tertuang dalam pepatah orang Minangkabau ‘ia dicabuik indak mati, diasak indak layua” (dicabut tidak mati, dipindahkan tidak layu). (Navis, 1984: 89).


Berdasarkan hal-hal tersebut, maka akan dijelaskan lebih detil mengenai konsep kebudayaan Minangkabau di dalam penjabaran. Dasar pandangan alam takambang jadi guru sebagai unsur nilai dan wujud.


Sistem penalaran merupakan norma dan kriteria, yaitu ungkapan pepatah-petitih yang dapat melahirkan aspek nilai dan wujud. Pepatah adalah aturan norma hukum adat menjadi sumber peraturan, sedangkan petitih artinya aturan yang mengatur pelaksanaan adat dengan seksama. 


Misalnya: pepatah Adat basandi syara’ diatur pelaksanaannya oleh petitih “adat hidup harus mengikuti aturan”. Prinsip Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah. Perihal bahan dan bentuk dapat ditarik dari ungkapan pepatah-petitih.


Gadang khususnya Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung dominan menggunakan analogi organisme alam, sehingga memberikan suatu kesan dan ide bentuk yang terkesan tidak masif dan kaku tetapi cenderung dinamis. Hal ini seiring dengan konsep kebudayaan Minangkabau Alam Takambang jadi Guru yang banyak dipengaruhi oleh spiritualitas Islam.


Terdapat beberapa elemen arsitektur utama pembentuk bangunan Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung antara lain, Elemen garis yang berulang digunakan untuk menghasilkan bentuk tangga secara arsitektural dan bentuk garis tersebut cukup dominan. Elemen bentuk juga mendominasi selain garis dikarenakan bentuk atap gonjong yang menjadi fokal point bangunan arsitektur Rumah Gadang Istano Basa Pagaruyung.(***)


Daftar pustaka:

- Arkoun, Mohammed. 2000. Essais sur la pensée islamique, terjemahan Hidayatullah. Bandung: Pustaka.

- Barker, Chris. 2008. Cultural Studies, Teori & Praktik, Edisi Keempat. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

- Bhaidawy, Zakiyuddin. 2001. Dialog Global & Masa Depan Agama. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

ADSEN KIRI KANAN