Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Museum Istano Basa Pagaruyung Sebagai Pusat Budaya Minangkabau

Selasa, 31 Agustus 2021 | 09:00 WIB Last Updated 2021-08-31T14:16:42Z

Museum Istano Basa Pagaruyung


 Penulis: Yuldaveri


Museum Istano Basa Pagaruyung yang terletak di Kecamatan Tanjung Emas, Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat dijadikan pusat budaya Minangkabau. Istano Basa ini berjarak lebih kurang 5 kilometer dari pusat Kota Batusangkar. Istano ini merupakan objek wisata budaya yang terkenal tidak saja dari Sumatera Barat, nasional, bahkan ke mancanegara.


Istano Pagaruyung asli dibangun seluruhnya dengan batang-batang kayu. Namun, bangunan yang terbaru dibangun dengan struktur beton modern. Namun demikian, Museum Istano Basa Pagaruyuang tetap dibangun dengan mempertahankan teknik tradisional dan material kayu yang dihias dengan 60 ukiran yang menjelaskan filosofi dan budaya Minangkabau.


Istano sendiri memiliki tiga lantai dengan 72 tiang dan gonjong sebagaimana pada umumnya Rumah Gadang, yang dilengkungkan serupa tanduk dari 26 ton serat ijuk. Istana ini juga dilengkapi dengan lebih dari 100 replika furnitur dan artefak antik Minang, yang bertujuan agar istano dihidupkan kembali sebagai pusat budaya Minangkabau serta objek wisata di Sumatera Barat.


Dikutip merdeka.com, bangunan Museum Istano Basa Pagaruyung, kental dengan khas Minang, Istano Basa atau yang dikenal Istano Pagaruyung ini berbentuk Rumah Gadang. Lengkap dengan gonjong, ujung runcing pada bagian atap bak tanduk.


Mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya, terhitung ada 11 gonjong yang menghiasi atap istana ini. Uniknya, 11 gonjong ini terbuat dari 26 ton serat ijuk. Tidak heran, jika warna atap ini berwarna cokelat tua kehitaman.


Rumah panggung besar ini bertingkat tiga. Setiap lantainya memiliki keistimewaan masing-masing. Detail ornamen-ornamen akar, bunga dan daun terukir indah. Bermain dengan warna-warna cerah. Terlihat kontras namun keindahannya berhasil membuat setiap pengunjung terpukau.


Istana Basa Pagaruyung berdiri kokoh dengan 72 tiang yang menopang. Bagian dalam interior Istana Basa didominasi dengan kayu-kayu mengkilap. Ornamen-ornamen kayu nampak menghiasi bagian dalam Istano Baso. Material kayu ini dihias dengan 60 ukiran yang menjelaskan filosofi dan budaya Minangkabau.


Jika diamati lebih detail, rupanya tiang-tiang di Istana Baso tidak berdiri tegak. Tiang tersebut miring kekiri dan ada pula yang miring ke kanan. Hal ini berfungsi agar tiang di Istana Basa Pagaruyung bisa menahan gempa.


Dari sekian banyaknya tiang, ada 1 tiang yang menonjol berwarna kuning. Tiang itu rupanya tiang pertama di rumah gadang ini. Tiang itu disebut tonggak tuo. Kayunya dicari yang paling tua, di Nageri Pariangan ini.


Bangunan jejak peninggalan Kerajaan Pagaruyung ini semakin menawan dengan kain-kain yang menjuntai di dinding-dinding tembok. Kain tersebut merupakan kain adat, atau biasa disebut langi-langi. Ada tiga warna yang paling menonjol dari warna kain yang ada yaitu merah, hitam dan kuning. Ketiga warna itu merupakan warna khas Minangkabau.


Rumah panggung besar ini dulunya ditempati oleh Bundo Kandung. Bangunan ini memiliki tiga lantai dimana setiap lantai punya fungsi masing-masing. Lantai pertama disebut juga singasana merupakan tempat Bundo Kandung melihat-lihat siapa yang datang. Bundo juga yang mengatur makanan yang diberikan untuk tamu dan mengatur tempat duduk tamu sesuai kepentingan dan darimana ia berasal.


Lantai kedua disebut juga anjung peranginan atau anjung pingitan. Disini, seseorang yang akan dijadikan Bundo Kandung akan dilantik secara agama dan ilmu khusus untuk meneruskan. Sedangkan di lantai 3 merupakan tempat yang tinggi dari yang paling tinggi, tempat pusaka diturunkan yang berarti tempatnya seorang raja akan dilantik dan diberi ilmu.


Dalam istana ini juga terdapat sejumlah koleksi senjata pusaka asli kerajaan yang masih tersisa, di antaranya tombak, pedang, dan senapan peninggalan Belanda. Selain itu, wisatawan juga bisa melihat secara langsung 100 replika furnitur dan artefak antik khas Minang.


Istano Basa Pagaruyung yang kini berdiri kokoh bukanlah istano yang asli namun replika. Istano ini tidak dibangun pada situs aslinya tetapi berpindah lebih selatan dari situs aslinya. Istano yang asli beberapa kali hangus dilahap si jago merah. Tercatat sudah tiga kali, sejak 1804, 1966 dan yang terakhir pada 2007.


Beberapa arsip dan kain-kain cantik ludes terbakar. Setelah dibangun kembali selama 6 tahun, Istano ini pun diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada Oktober 2013. Bangunan ini kembali dapat dikunjungi untuk melihat sejarah masa lalu. (*)

Sumber: merdeka.com

ADSEN KIRI KANAN