Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Serbuan Covid Varian Kappa di Jakarta, Begini Ganasnya

Kamis, 01 Juli 2021 | 07:57 WIB Last Updated 2021-07-01T01:05:04Z

ilustrasi

Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyebut sebanyak 128 mutasi virus SARS-CoV-2 yang tergolong 'Variant of Concern (VoC)' teridentifikasi di Jakarta. Dari jumlah itu, 87 persen atau 111 kasus di antaranya merupakan varian delta B1617.2 yang pertama kali ditemukan di India.


Temuan VoC di Ibu kota tersebut banyak menginfeksi anak-anak dengan rentan usia 6-18 tahun. Rinciannya, 29 kasus pada usia 0-5 tahun. Disusul 26 kasus pada warga berusia antara 6-18 tahun. Sisanya, 19-59 tahun dengan 71 kasus, lalu dua kasus pada usia 60 tahun ke atas atau lansia.


Anies melanjutkan, DKI Jakarta juga mengidentifikasi varian lain, yakni Alfa B117 sebanyak 11 kasus, disusul varian Beta B1531 sebanyak lima kasus, dan Kappa B1617.1 satu kasus. Dari temuan itu serbuan varian kappa menjadi sorotan lantaran termasuk golongan varian baru yang ditemukan di Indonesia.


Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman menjelaskan varian virus corona bernama Kappa tersebut berasal dari strain yang sama dengan varian Delta, berkode B.617.


Berbeda dengan Delta, Kappa tak masuk dalam VoC atau varian yang menjadi perhatian Badan Kesehatan Dunia (WHO). Kappa masih dikelompokkan Variants of Interest (VoI), yang pertama ditemukan di India pada April lalu.


"Itu Kappa varian. Kalau ini benar ditemukan di Jakarta, ya ini berita yang tidak menggembirakan. Karena di mana-mana di Jawa setidaknya sudah ada," kata Dicky, Rabu (30/6/2021) sebagaimana dikutip pada cnnindonesia.com.


Dicky menjelaskan, sejak ditemukan pada April lalu, tingkat penyebaran corona varian Kappa, hampir serupa dengan Delta. Namun, dampak varian tersebut saat ini masih dalam proses penelitian.


Di Melbourne, Australia, ucap Dicky, Kappa dinilai lebih mudah menyebar dan menginfeksi. Dampak varian tersebut bahkan dianggap menyerupai campak, dan bisa masuk dalam tubuh manusia dengan hanya berpapasan.


Sementara itu, Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengungkapkan sejauh ini sudah ada 382 kasus mutasi virus avian Delta B1617 yang berhasil diidentifikasi di Indonesia berdasarkan hasil Whole Genome Sequence (WGS) secara berkala.


Kepala LBM Eijkman Amin Soebandrio menjelaskan, teknik pencarian strain virus baru WGS dilakukan bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, LBM Eijkman dan beberapa Universitas di Indonesia.


Amin juga menyebut temuan itu sudah dilaporkan Indonesia ke lembaga Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID). GISAID adalah sebuah lembaga bank data yang saat ini menjadi acuan untuk data genom virus corona SARS-CoV-2. (*)


ADSEN KIRI KANAN