Notification

×

MGID ATAS

Adsen

Kuba Demo Besar, Kecewa Kinerja Pemerintah Tangani Covid-19

Selasa, 13 Juli 2021 | 14:50 WIB Last Updated 2021-07-13T07:50:16Z

 

Ribuan warga Kuba gelar demo besar. (REUTERS/ALEXANDRE MENEGHINI)



Jakarta - Ribuan warga Kuba menggelar aksi protes dari Havana ke Santiago karena kecewa dengan kinerja pemerintah dalam menangani pandemi virus corona. Mereka juga menyerukan Presiden Miguel Diaz Canel untuk mundur. 


Demonstrasi kali ini merupakan aksi terbesar sejak 1994. Protes itu meletus di tengah krisis ekonomi terburuk yang menghantam Kuba sejak Uni Soviet runtuh.


Lonjakan infeksi virus corona membuat warga semakin marah karena penanganan pandemi oleh pemerintah, kekurangan bahan pokok dan pembatasan kebebasan sipil. "Kami sedang melalui masa-masa yang sangat sulit, kami membutuhkan perubahan sistem," kata seorang guru tari, yang berpartisipasi dalam aksi itu, Miranda Lazara mengutip Reuters, Senin (12/7).


Teriakan "Diaz-Canel mundur" terus menggema di Havana dan tempat-tempat bersejarah selama demo berlangsung. 


Jip pasukan khusus dengan senapan mesin serta polisi diterjunkan untuk mengawasi jalannya aksi itu. Mereka bahkan masih berjaga hingga pukul 9 malam. 


Berdasarkan pantauan di lapangan, pasukan keamanan, dibantu petugas berpakaian preman, menangkap para pengunjuk rasa. Polisi menggunakan semprotan merica dan memukul beberapa pengunjuk rasa termasuk seorang fotografer Associated Press. 


Di Havana, massa aksi melampiaskan kemarahan dengan menggulingkan mobil polisi dan melemparkan batu ke arahnya. Di tempat lain, mereka meneriakkan "penindas" pada pasukan keamanan anti huru hara, sebagaimana dikutip cnnindonesia.com.


Sementara di Alma Soriano, Santiago de Cuba, berdasarkan video yang ramai di media sosial menunjukkan ratusan orang berbaris di jalan-jalan memprotes kelangkaan makanan dan obat-obatan.


"Mereka memprotes krisis, bahwa tidak ada makanan atau obat-obatan, bahwa Anda harus membeli semuanya di toko mata uang asing, dan daftarnya terus bertambah," kata seorang warga, Claudia Perez. 


Beberapa pengunjuk rasa mengaku ikut turun ke jalan setelah melihat apa yang terjadi di media sosial. 


Video di media sosial menunjukkan ratusan warga meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah dan menuntut segalanya mulai dari vaksin hingga penghentian pemadaman listrik setiap hari. 


"Saya baru saja berjalan-jalan di kota untuk membeli makanan dan ada banyak orang di sana, beberapa dengan tanda, memprotes," kata penduduk Claris Ramirez melalui telepon. "Mereka memprotes pemadaman, tidak ada obat". 


Demonstrasi besar-besaran itu membuat Presiden Diaz-Canel mengunjungi lokasi demo dan memberikan pidato. 


"Kami menyerukan semua revolusioner di negara ini, semua Komunis, untuk turun ke jalan di mana pun ada upaya yang menghasilkan provokasi ini," katanya. 


Ia menyalahkan perang dingin Amerika Serikat atas kerusuhan yang terjadi. Diaz menilai banyak pengunjuk rasa terprovokasi oleh kampanye di media sosial yang sudah diatur AS. 


Ia juga memperingatkan provokasi yang lebih jauh tak akan ditolerir serta menyerukan pendukung pro-Diaz untuk menghadapi "provokasi."


Jumlah protes selama setahun terakhir terus meningkat di negara berpenduduk 11 juta jiwa itu. Demonstrasi anti-pemerintah kali ini, merupakan aksi terbesar sejak 1994, kata asisten profesor sejarah Amerika Latin di Florida International University, Michael Bustamante. 


"Hanya sekarang, mereka tidak terbatas pada ibu kota; mereka bahkan tidak mulai dari sana, sepertinya," kata dia. 


Kuba tengah mengalami krisis ekonomi selama dua tahun. Pemerintah menyalahkan AS dan pandemi sebagai pemicu krisis. Sementara para kritikus menyebut, pemerintah yang memang gagal menangani wabah. 


Merebaknya varian Delta juga turut membuat sistem kesehatan di Kuba kewalahan.(*)

ADSEN KIRI KANAN